Surat untuk Ibu

Assalamualakum Bu.

Maaf Gundul baru bisa membalas surat ibu. Kemarin sedang disibukan dengan tugas-tugas dari kampus. Maklum bu, sekarang sedang menyusun tugas akhir. Jadi Gundul sering menghabiskan waktu, berlama-lama di perpustakaan, di kamar asrama, dan di pelataran kelas.

Lalu gimana kabar Ibu? Ibu sehat-sehat aja kan?

Ibu tidak perlu resah.

Disini semua serba mudah. Jika lapar, banyak warung di dekat asrama. Jika sakit, ada klinik tersedia dalam kampus. Jika bosan, bisa datang ke perpustakaan untuk baca buku. Gundul senantiasa sehat, Bu. Walafiat dan lahir batin.

Tolong titipkan salam sayang juga untuk Si Ade. Bilang, nanti pulang Mas bawakan mainan dan buku yang banyak. Asalkan nilai-nilai Ade bagus-bagus, ga ada yang jeblok. Kalo ada yang jeblok, buku dan mainannya akan mas kasihin ke tetangga.

Maafkan apabila Gundul belum sempat pulang ke rumah, bu.

Gundul pun sebenernya kangen sama Ibu, sama suara Ibu, sama masakan Ibu. Gundul kepingin ngeliat punggung Ibu saat Ibu memasak di dapur, Gundul kangen dibangunin Ibu pagi-pagi, lebih-lebih Gundul rindu sama dekapan Ibu.

Tapi ada hal penting yang sedang memaksa Gundul untuk tinggal di sini.

Ada hal yang belum selesai, belum tuntas, yang sedang Gundul kerjain selain tugas akhir.

Adalah tugas bagi seorang terpelajar untuk adil semenjak dari dalam pemikiran. Dan selayaknya seorang yang terpelajar, Gundul selalu berusaha adil dalam berpikir terlebih dalam bertutur kata dan bertingkah laku.

Dihadapkan dalam sebuah dilema, Gundul berpikir, terus berpikir, tentang apa yang Gundul harus perbuat. Gundul gelisah. Tentang apa yang terjadi, tentang apa yang selanjutnya akan terjadi. Karena itu Gundul bersama-sama teman-teman yang sepikiran bergerak. Bergerak untuk bertindak. Bertindak untuk menindak. Menindak perbuatan yang menjadi hak.

Hak seorang terpelajar, yaitu, untuk bertindak adik semenjak dalam pemikiran

Ibu jangan takut.

Apa yang Gundul dan teman-teman lakukan adalah sebuah hal yang benar. Hal yang benar, dan, mudah-mudahan akan memberikan manfaat bagi orang banyak. Gundul yakin Gusti Allah pun akan meridoi sekaligus memberikan kemudahan dan perlindungan. Dengan perlindungan-Nya, Gundul yakin semua yang sedang kami usahakan akan terwujud.

Ibu harus yakin.

Kalau apa yang Gundul dan teman-teman sedang usahakan bisa berhasil. Sekaligus Gundul juga meminta restu dan doa dari Ibu. Tolong restui apa yang Gundul sedang lakukan dan doakan supaya perjuangan ini tidak sia-sia. Karena semua ini memang tidak mudah dan tidak gampang. Penguasa terus menerus bertindak semena-mena. Memerah rakyat hingga ke sum-sum, namun justru mengelonggong perut elit hingga bermuntahan. Sebuah kesewenang-wenangan yang urung untuk tidak ditindaklanjuti.

Gundul tidak terlalu ingat bagaimana sosok Bapak. Gundul masih terlalu muda untuk mengingat-ingat. Ingatan tentang Bapak hanyalah tentang siluetnya. Siluet seorang yang menggandeng tangan Gundul, berjalan di sore hari, menyusuri jalan-jalan kecil di kampung kita. Seperti sebuah potongan film bisu, Gundul ngga bisa mendengar apa yang Bapak katakan. Pun, tidak lagi ingat bagaimana baunya. Gundul memang punya selembar foto Bapak. Namun hanya itu, tidak ada kenangan di dalamnya. Tidak ada kerinduan yang muncul ketika Gundul melihat foto Bapak.

Yang muncul hanya satu. Janji.

Janji untuk tidak membiarkan kejadian semacam itu berulang kembali. Supaya tidak ada lagi orang-orang yang Gundul sayangi menjadi korban dari kesewenang-wenangan penguasa. Karena itu Gundul bertindak, karena itu Gundul bertindak.

Bu, Gundul akan segera pulang ke kampung setelah semua ini berakhir. Meminta Ibu untuk memasak Sop Ayam kesukaan Gundul. Akan Gundul perbaiki pagar-pagar, genting-genting yang rusak. Karena itu, karena itu doakan supaya perjuangan ini membuahkan hasil.

Terima kasih sudah mengkhawatirkan Gundul

Wassalamualaikum

229 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: