Tempat Tersembunyi

 

(image source : Roberto Nickson @rpnickson)

Kala terdampar di sebuah pulau, Mar hanya meminta satu, satu doa yang selalu dia panjatkan di pagi, siang, sore dan malam hari. Doa-doa yang ditujukan kepada ufuk nun di sana. Terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni hanya sebuah nyiur jangkung yang memiliki tiga butir buah yang menemaninya. Tingginya mencapai 23 hasta.

Sungguh tinggi. Haus sudah pekat di ujung kerongkongan. Perutnya suda meronta minta diisi apapun. Tenaga sudah hilang dari tubuhnya. Ia hanya tergeletak di sana. Di bibir pantai di sebuah pulau tak berpenghuni hanya sebuah nyiur jangkung yang memiliki tiga butir buah yang menemaninya.

Tepat tiga hari yang lalu dirinya terdampar di tempat laknat itu. Semua berawal dari ajakan Rud, kolega kantornya, untuk berlibur akhir pekan di sebuah pulau dengan pantai eksotis dan resort yang memukau.

Rud bilang, sudah tiga bulan ini kita banting tulang memenuhi tenggat terkutuk yang diamanahkan oleh Bapak Ibu petinggi. Tiga bulan Mar, kita terus kerja melewati waktu yang seharusnya. Dan saat ini, adalah waktu yang tepat bagi kita untuk sedikit melepaskan beban ujarnya, seraya menepuk pundak kanan Mar.

Entahlah, kata Mar. Aku sebenarnya hanya ingin menghabiskan waktu beristirahat di rumah sambil menonton film-film yang sudah kuunduh, kau tahu.

Tapi Rud tidak mudah menyerah, dia berkata, film-film itu bisa menunggu, kawan. Kapan lagi kesempatan seperti ini datang? Untuk mendapatkan hari libur dari pekerjaan brengsek ini saja kita harus kerja melewati batas jam selama tiga bulan. Tiga bulan! Bayangkan itu.

Ya, aku tahu itu, jawabku. Tapi akhir-akhir ini cuaca sedang tidak bersahabat. Kurasa ini bukan saat yang tepat untuk bepergian dengan menggunakan ferry. Ferry? Balas Rud terbelalak. Oh tidak kawan, kita tidak akan menggunakan ferry untuk mencapai tujuan kita. Kita akan pergi menggunakan sebuah kapal pesiar, kawan. Kapal pesiar! Dengan sampanye yang tidak akan ada habisnya, jamuan laut yang dimasak oleh koki berbintang, serta gadis-gadis muda yang berjemur memanjakan mata.

Rud semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Mar, setengah berbisik Rud berkata, tenang saja perjalanan ini sungguh aman, tidak akan ada angin ataupun ombak, serta badai maupun gelombang yang bisa mengancam kita. Kita akan pergi menggunakan sebuah kapal pesiar, ujar Rud. Kali ini tidak semeyakinkan sebelumnya. Ada sedikit nada yang memelas. Tidak tega juga Mar melihatnya, lagipula, Rud selalu bisa diandalkan saat Mar sedang mengadapi kesusahan.

Kalah, Mar akhirnya memutuskan untuk memberikan penghiburan kepada Rud. Baiklah Rud, jika tidak ada hal-hal penting di akhir pekan nanti, aku akan ikut pesiar bersamamu, ujar Mar sambil tersenyum.

Itu baru semangat, sambut Rud dengan kedua tangan terkepal di udara sambil meneriakkan wuuuhu. Lalu kemudian dia pergi meninggalkan Mar sambil terus mengingatkan supaya Mar segera menyiapkan barang yang akan dibawa.

 

Hari Pertama

Silau sinar matahari membangunkannya, menyambut matanya. Begitu terik hingga terpaksa dia harus metutupi matanya dengan telapak tangan. Sambil mengeluh panjang, Mar bangkit dengan segenap tenaga, bertumpu dengan kedua tangan, menyanggah bobot tubuhnya untuk tetap bisa terduduk.

Nafasnya pendek-pendek, tersengal. Kepalanya masih berkabut. Setiap urat syarafnya dirasakan menegang dan saling tarik-menarik dengan ganas. Ah, brengsek, sakit sekali, umpatnya.

Suara debur ombak mengalihkan perhatian dari rasa sakitnya. Dia masih bingung kenapa dia bisa mendengar suara debur ombak sebegitu dekatnya. Pasir putih di bawah kakinya, dahan nyiur kering yang terlunta-lunta, buah nyiur yang menggelinding-gelinding diterjang ombak, patahan kayu akasia besar tergeletak, terpampang di hadapannya.

Mar terdiam, berusaha menggali ingatan-ingatan yang tertimbun oleh pasir putih. Dia terdiam, dan terdiam dan terdiam, hingga akhirnya. Brengsek! Badai brengsek!! Sudah kukatakan sebelumnya bahwa cuaca sedang tidak bagus tapi katanya semua ini aman. Dasar bodoh, keparat, kuharap kau mati tenggelam Rud.

Mar tak kuasa mengendalikan emosinya. Memaki. Meneriaki udara kosong yang membentang di hadapannya. Berteriak kepada riak, ombak, dan jarak. Terus berteriak dan menggeram hingga akhirnya jatuh terduduk kemudian terisak. Terisak terus hingga sembab. Dia menyesal telah percaya dengan kata-kata Rud. Dia mengutuki kebodohannya.

Mar berjalan mondar-mandir dengan gugup memikirkan berbagai hal. Berbagai hal namun dua, yaitu nasibnya dan ajalnya. Sampai tanpa sadar dia menubruk sesuatu. Sebuah nyiur!

Sebuah nyiur setinggi 23 hasta. Di ujung pucuknya, ada tiga buah yang bergelantung. Namun nyiur itu tinggi sekali, tingginya mencapai 23 hasta. Mar kembali terdiam. Namun kali ini dia berusaha untuk tenang, mengendalikan emosinya. Dia mulai memandang ke sekeliling.

Namun naas, yang hanya dia lihat hanya putih pasir dan biru laut. Tidak ada apa-apa kecuali kehampaan yang semakin membawa dirinya semakin jauh dari kehidupan dan semakin dekat kepada kematian.

Keputus-asaan kembali menggelayuti pundaknya. Mar kembali menangis sejadi-jadinya. Dia meraung-raung. Berteriak sekuat tenaga. Memukuli pasir-pasir. Mengutuki air laut.

 

Hari Kedua

Duduk termenung, Mar hanya bisa termangu. Kepalanya kosong, isinya entah sedang terbang kemana. Sebagian mungkin sedang duduk di ruang santai, memakai celana pendek dan kaos buntung, di hadapannya ada semangkuk kudapan tak bergizi ditambah minuman berkarbonasi yang sangat dingin, sambil menonton film-film yang sudah dia unduh sebelumnya. Aih, betapa nikmatnya.

Sebagian lainnya mungkin sedang makan siang bersama Jen, mantan kekasihnya, yang telah berpisah 14 bulan yang lalu. Mar sadar bahwa dia masih mencintai Jen, namun dia enggan mengakuinya. Tidak setelah apa yang terjadi sebelumnya.

Tapi jika ada kesempatan lagi, dan jika mereka berdua telah kembali siap untuk bertemu, mungkin Mar akan mengajak Jen makan siang di restoran favorit mereka dulu. Mengenang-ngenang masa lalu dan kemudian membayang-bayangkan masa depan.

Hingga debur ombak yang cukup besar mengagetkannya, mengembalikan kembali isi-isi kepala yang tengah berkelana. Sudah kering air matanya dia tumpahkan kemarin. Lehernya kering bukan main. Ternyata menangis itu membuat haus, sama halnya dengan harapan yang pupus.

Mar sangat haus. Namun tidak ada air yang bisa diminum disana. Lalu apa?

Mar menyandarkan tubuhnya di batang nyiur, menengadahkan kepalanya sambil menatap nanar tiga buah yang tergantung dengan aduhay. Begitu hijau, besar, bulat dan ranum. Mar bukan seorang ahli tetumbuhan, tapi dugaannya, buah itu pasti menyimpan air yang banyak dan daging yang tebal.

Dia membayangkan dirinya menengguk air buah nyiur dengan rakus. Tegukan, lalu tegukan, lalu tegukan, lalu tegukan, sampai habis. Setelah itu, dia cungkil dagingnya dan memakannya dengan lahap. Sampai ludes tak bersisa.

Membayangkannya saja membuat liur Mar menetes, benar-benar menetes. Mar tidak lagi peduli. Siapa juga yang akan melihat liurnya menetes? Tidak seorang pun. Namun sayang seribu sayang. Nyiur itu tinggi sekali. Tingginya mencapai 23 hasta. Mengapa pohon nyiur itu begitu tinggi? Sejauh yang dia ingat, nyiur-nyiur yang dahulu ia jumpai tidak setinggi itu.

Dahaga menyiksanya, lapar mengoloknya. Keadaan tersebut membuat Mar semakin merana. Apa yang harus dia lakukan? Jelas buah nyiur itu terlihat begitu aduhay. Melambai-lambai di bawah sinar matahari, memelas kepada Mar untuk segera mencumbunya. Namun apa mau dikata, jangankan keberanian, tenaga untuk memanjat pun Mar tidak punya.

Mar kembali menimbang. Apakah buah nyiur itu sepadan dengan risiko yang akan dia hadapi? Mar menatap batang nyiur jangkung itu. Begitu ramping dan juga licin. Belum ada pahatan-pahatan yang bisa dijadikan pijakan. Belum lagi kondisi cuaca yang begitu berangin.

Satu tiupan angin kencang, wush, akan menerbangkan Mar dari pohon kelapa dan mendaratkannya di atas pasir putih yang akan mengubah sekujur tubunya berwarna merah.

Manakah yang lebih tidak menyakitkan, mati karena kelaparan, mati karena jatuh ketinggian atau mati tenggelam? Pikir Mar. Tubuhnya bergetar memikirkan kemungkinan yang jauh dari menyenangkan. Menimbang-nimbang bagaimana maut menjemput sungguh sebuah hal yang musykil.

Tentu saja Mar tidak bisa memilih. Jadi dia kembali duduk termenung di atas pasir putih. Menunggu matahari memberikan jawaban, atau kalau dia tidak bisa, biarkan bulan yang menggantikannya, atau kalau dia juga tidak bisa, biarkan aku yang akan menentukannya sendiri, pikir Mar.

 

Hari Ke-xx

Apa yang lebih terang dari matahari? Tanya Mar.

Sinar matahari yang menembus kelopak mata. Jawabnya.

Mana yang lebih serakah, mulutku atau waktu? Tanya Mar.

Mulutku yang mengunyah waktu. Jawabnya

Lebih luas lautan atau ampunan Tuhan? Tanya Mar.

Lautan. Karena sampai saat ini aku masih belum bisa merasakan ampunanNya, sedang aku tengah sekarat, terombang-ambing di tengah laut di atas sebilah kayu reot. Jawabnya.

Terseret aliran menuju entah kemana. Sinar matahari membakar kulitnya. Rasa haus yang mencekik. Mar sudah tak punya daya untuk melakukan apapun selain terbaring dan terpejam. Gelombang laut yang tidak terlalu besar membuai Mar. Menggoyang-goyangkan rakitnya dengan lembut bak ibu meninabobokan anaknya.

Di ujung horizon langit perlahan berganti warna menjadi semakin kuning. Di ujung yang lain, gelap sudah benar-benar pekat. Mar berada diantaranya. Menimbang-nimbang tentang keputusannya. Apakah benar atau salah? Entahlah. Dia hanya tersenyum, mengikuti kemana dia akan berlabuh berikutnya.

 

Hari Ketiga

Setelah semalaman suntuk Mar berusaha mencari pencerahan, akhirnya jawaban ini lah yang dia ambil. Dia tidak memilih mati karena kelaparan, mati karena ketinggian, atauapun mati karena tenggelam. Dia memilih untuk tetap berusaha hidup.

Dia melihat potongan bilah kayu yang menyelamatkannya. Yang membawanya ke tempat ini. Sehingga Mar tidak perlu mati karena tenggelam, ataupun mati karena dimakan hiu, ataupun mati karena terseret taifun.

Potongan bilah kayu itu menyelamatkannya dan pulau itu menerimanya. Apa jadinya jika ia tidak terdampar di pulau itu? Mungkin ia akan mati karena tenggelam, ataupun mati karena dimakan hiu, ataupun mati karena terseret taifun.

Rasa jengkel Mar terhadap pulau itu perlahan memudar. Sementara di kejauhan samar-samar terdengar bunyi menggelegar. Siut angin menggelitik daun telinganya. Suara ombak menguatkannya. Dan dia merasakan kedamaian yang sempurna. Hilang semua ketakukan dan kecemasannya. Pertama kali dalam hidupnya, Mar merasa bebas.

 

928 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: