Referensi Film Korea Pilihan Keluarga Volume 03 – Bagian Satu

Yogyakarta, Mei 2013
Kami sempat menghubungi teman kami di Solo bahwa kami sedang dalam perjalanan menuju ke YOGYAKARTA. Tanpa pikir panjang, ia langsung memesan tiket kereta menuju YOGYAKARTA untuk bertemu dengan kami.

Mungkin tidak cukup waktu semalam untuk bisa membuat seseorang bisa menjadi percaya satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga dengan kami. Sedari di Kota Depok masih diperbolehkan untuk makan dengan tangan kiri, kami sudah mengenalnya. Bukan perkenalan formal atau ketidaksengajaan, tetapi lebih kepada hal yang tidak bisa dihindarkan. Bukan Tuhan menjegal kami dengan menghadirkannya, tetapi siapa yang tidak butuh bimbingan belajar saat Ujian Nasional Tingkat SMP mulai diperbincangkan orang tua kami. Disanalah Tuhan menjegal kami. Ada ungkapan dari Negeri Cina jaman dahulu yang berbunyi ‘bila kau punya sepuluh orang istri wanita cantik, maka yang kesebelas pastilah laki-laki’. Tidak sampai ke Negeri Cina, hal itu terjadi di kelas bimbingan belajar kami. Kelas kami penuh dengan gadis – gadis tak bertuan, namun selalu ada ruang kosong yang bisa ditempati oleh ‘istri kesebelas’ itu. Itu yang terjadi.

Sembari menunggu orang perantauan Solo itu sampai ke YOGYAKARTA, kami mencari tempat berteduh yang nyaman untuk hati dan pikiran (re: dompet) kami di sekitaran Jalan Malioboro. Saat kami berempat berniat untuk check-in, orang dari penginapan itu mengungkapkan kebingungannya tentang kami berempat yang tidak membawa wanita satupun. Kami semua ingin sekali meladeni kebingungan orang itu. Layaknya ‘dalam tiap wanita selalu ada sisi binatang’, sama halnya dengan ‘dalam tiap pria selalu ada sisi wanita’. Sehingga tiap tiap kami sudah membawa wanita yang orang itu bingungkan. Tiap tiap kami bahkan mengenal wanita dalam diri kami dengan baik, sampai sampai tidak bisa orang itu melihatnya pada pertemuan pertama. Orang itu tidak tahu saat kita memilih penginapannya, kami menggunakan wanita wanita dalam diri kami untuk memilih. Wanita wanita dalam diri kamilah yang membuat kamar di penginapannya menjadi terisi. Jadi, jika orang itu masih mempertanyakan dimana wanita wanita yang seharusnya atau mungkin biasanya dibawa ke penginapannya, maka biar wanita wanita dalam diri kami yang akan menjelaskan. Tetapi saat itu kami hanya tertawa ringan dan langsung menuju kamar. Pria pria dalam diri kami sudah lelah menanti kasur selama 12 jam. Tak ada waktu untuk wanita wanita dalam diri kami. Tidak akan pernah. Black Hawk Down! Band of Brother! Windtalkers!

Depok, Agustus 2016
Pernah ada dalam garis waktu kami dimana suara tembakau terbakar menjadi pemeran utama dalam malam malam di Depok. Jauh sebelum himbauan gadis tiket di Hari Senin membuat kami berlari untuk memaksa masuk, pernah ada kartu as yang menampar muka muka para pecundang di tengah malam. Jauh sebelum percaya bahwa dua foto saja sudah cukup untuk menentukan tanggal perkawinan, pernah ada kayuhan sepeda penuh gelora demi membakar Cerbera manghas. Benar adanya bahwa dulu waktu bukan menjadi penanda kami untuk berhenti atau memulai. Bahwa kami belum sepakat dengan konsep waktu sebagai penanda agar bertemu bisa dilakukan. Meski konsep waktu hanya ada dan bermakna pada dimensi dimana manusia hidup, namun persepsi kami dengan manusia belum sama. Bukan kami tidak hidup, hanya muda dan buta.

Yogyakarta, Mei 2013
Sajian teh manis hangat sebagai minuman selamat datang rasanya kurang untuk mengisi perut kosong kami, sehingga kami mencari tempat makan di sepanjang jalan Malioboro. Dengan situasi Jalan Malioboro yang sangat ramai wisatawan dan juga penjual makanan, agaknya kami cukup sulit untuk memilih penjual yang beruntung. Ditambah dengan wanita wanita yang sedaritadi melintas, makin membuat rumit kondisi pemilihan tempat makan ini. Hukum mencari makan di daerah seperti Jalan Malioboro untuk kami sebenarnya cukup sederhana, asalkan sang penjaja makanan menganut asas murah, banyak, enak, dan tahan lama, kita akan makan disana. Tetapi justru disana letak kerumitannya.

Satu catatan jika makan di sekitar Jalan Malioboro yaitu saat para musisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmu, merintih sendiri, ditelan deru kotamu. Agaknya para musisi jalanan ini percaya bahwa semua pelancong disana punya tangan yang ringan dan menaruh harapan lebih kepada kami dalam berbagi. Kebiasaan memberikan tangan di ibukota bukan menjadi halangan mereka, entah untuk sekedar mengisi waktu atau melangsungkan hidupnya. Bukan kami tidak mau berbagi, namun kadang santapan nusantara tidak melulu harus diiringi dengan musik bukan? Mungkin karena dahulu Ibu Sisca Soewitomo saat memasak pada acara ‘Aroma’ selalu diiringi musik yang membuat setiap masakannya menarik, diluar fakta bahwa suaranya memang sudah menarik.

Saat menikmati YOGYAKARTA yang luas berakhir hanya di sepanjang Jalan Malioboro. Fakta bahwa kami baru saja selesai berkendara selama dua belas jam dan besok harus kami ulang lagi, bikin nafsu kami untuk menikmati hari di YOGYAKARTA tidak sebesar kota ini. Semua hal yang bisa kami lakukan untuk menikmati kota ini dengan usaha seminimal mungkin kami lakukan. Mendatangkan mereka yang kami kenal dan sedang berada atau selalu ada di Kota ini menjadi pilihan terakhir, atau malah sedari awal rencana perjalanan ini dibuat. Dari Stasiun Tugu hingga Benteng Vredeburg kami jalan, foto, jalan, foto, foto bareng pengamen, (menyamar secara tidak sengaja) menjadi pengemis, dan mendapat kecup hangat dari teman wanita kami. Masih terasa basah sampai sekarang. Memangmia menarik sekali.

 

1,808 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Ladiesman217

Jarang membaca tapi jarang menulis. Doyan tidur.

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: