Alih Program

“Jadi, sekembalinya kalian nanti, apa yang bisa menjadikan kalian berbeda dengan mereka yang tidak mendapatkan kesempatan ini? Atau apa yang menjadikan kalian berbeda dengan diri kalian yang lalu?”

Memaknai sebuah kesempatan yang kita dapatkan ini akan menjadi penting jika saja kita bisa melihat akan ke arah mana hidup ini selanjutnya. Untuk kembali belajar. Sebagian kita percaya bahwa kesempatan yang kita dapatkan adalah satu kesempatan yang baik dan akan membawa kita ke tempat yang lebih baik. Hal ini juga selalu diamini oleh mereka, para orang-orang hebat yang telah lebih dulu paham tentang apa yang dibicarakan, bahwa kita semua berhak atas sebuah ucapan selamat di setiap awal pertemuan. Pemahaman kecil kita tentang hal baik yang sedang menunggu kita selalu berhenti pada angka yang lebih besar, kelas yang lebih tinggi, dan harapan untuk bisa maju lebih jauh. Entah maksud seperti apa yang ingin mereka sampaikan, tetapi kita selalu memaknainya dangkal dan gagal.

“Atau kalian memang tidak merencanakan untuk menjadi berbeda sama sekali?”

Sumber dari semua yang dibilang akan membawa kita ke tempat yang lebih baik ada pada tangan dan pikiran mereka, para pembimbing, atas kita. Sadar dengan kuasa mereka yang bisa mencabut kebanggaan kita akan kesempatan kecil ini, berbondong-bondong kita menebar suasana yang dibilang positif. Satu tujuan, satu komando yang baik untuk memelihara hal positif di dalam ruang penuh ide dan pengetahuan. Namun, lagi-lagi, kita hanya berhasil mendengar kalimat yang belum rampung, tidak utuh, dan singkat. Kali ini bukan karena pemahaman kecil kita tentang hal baik yang sedang menunggu kita, tetapi karena memang kita hanya ingin mendengar apa yang ingin kita dengar. Perangai individualis, samar tetapi merata. Saat satu instruksi mengatakan bahwa kita semua harus mengambil dua ratus langkah ke depan bersama, tetapi individualisme samar, yang katanya hanya ada pada kita karena kita istimewa-itu juga kita sendiri yang mengatakannya, memaksa kita hanya mendengar satu kata awal saja. Semua hal tersebut telah dilakukan secara harmonis hingga sukses menyusun kita menjadi satu persekongkolan terbaik di antara kawanan sejenis.

“Apakah hanya ini jalannya? Apakah sudah terlambat untuk berhenti sama sekali? Atau sudah tidak ada keberanian? Jadi, hanya ini jalannya?”

Beberapa dari kita berhasil masuk ke dalam kampus, sebuah rumah-pengetahuan-berikutnya, tetapi tidak dapat bertahan lama. Walaupun suatu pengadilan singkat mengatakan bahwa ada ketidakhadiran orang-orang dalam menunjang mereka bersaksi pada waktu terakhir mereka, tetapi setumpuk kesalahan tetap ada pada mereka sendiri. Disini, di rumah-pengetahuan-berikutnya, hanya ada dua cara terbaik untuk menjadi seorang penyintas. Yang pertama dan yang paling lazim yaitu tunduk pada arus orientasi hasil, yang memang sudah mengakar pada ide terdalam kita sejak pertama kali datang dan berhasil masuk. Yang kedua, yang eksentrik, asing, dan anehnya-seharusnya-menjadi yang paling sederhana yaitu berjuang memaknai perbedaan nilai yang terkandung di tiap pengetahuan yang hadir pada saat itu. Bukan seperti cara yang jamak dipraktikan, yaitu memilah nilai yang hanya kita rasa perlu untuk dipahami. Sungguh bukan kita yang layak menilai mana yang perlu dan mana yang tidak, tetapi kita di masa depan. Namun, apalah kita ini. Ingatan yang salah tentang kesulitan dan pengorbanan untuk berhasil masuk tidak akan sudi ditukar dengan hal yang paling sederhana begitu saja. Kita adalah hasil tukar menukar cerita tentang kerumitan dan kejayaan tahun yang lalu.

“Selalu ada perbedaan dan kalian juga diharapkan demikian. Dimana posisi yang akan kalian ambil?”

Kebanggaan yang terpancar dari apapun gerak kita adalah sebuah ironi. Kita muak dengan apa yang masuk ke dalam isi kepala kita, tetapi kita senang dengan jeda antara hal-hal yang masuk ke dalam isi kepala kita. Apa yang telah masuk ke dalam isi kepala tidak akan lama bertahan di sana. Itu semua adalah ingatan yang mesti disirami ingatan yang sama milik orang lain di waktu-waktu tertentu. Maka kita tidak pernah dihakimi atas apa yang ada di dalam isi kepala kita, melainkan atas citra selama semua waktu diantaranya. Kemudian kita tidak akan menampik apapun, karena toh kita menikmati semuanya. Semua dosa, semua waktu, dan semua kelalaian manis secara komunal yang membenarkan masing-masing dirinya. Kita menjadi bagian dari komune yang terisolasi. Terisolasi oleh semua dosa, semua waktu, dan semua kelalaian manis secara komunal yang membenarkan masing-masing dirinya, menutupi nilai-nilai kejujuran dari dunia luar.

“Bertahan. Mendekat. Kalian akan tidak dipercaya, kalian akan berpikir berulang-ulang, dan kalian akan berbalik arah. Sekarang cukup pahami arah kalian.”

Pembenaran terakhir adalah kita, atau sebagian kita, telah berpikir ulang. Saat kemudahan dan keangkuhan hanya bisa melihat dari jauh, semua terasa lebih nyata. Maka kita menyusun ingatan-ingatan lalu dengan kenyataan yang sebenarnya. Agar kita paham dimana posisi kita yang nyata bila disaksikan oleh dunia luar. Saat pengakuan membuat semua menjadi lebih bijak, keberanian berikrar menegaskan warna kita selanjutnya. Saat setumpuk warna yang sama keluar untuk kembali melanjutkan apa yang dulu pernah dimulai, saat itu pula ide tiap-tiap orang mulai tumbuh. Nilai-nilai baru yang diyakini sekarang bisa jadi adalah nilai-nilai yang diyakini sampai seribu tahun kemudian. Nilai-nilai baru yang diyakini sekarang bisa jadi membawa kita ke tujuan yang tidak pernah kita tengok sebelumnya. Entah untuk kebaikan yang lebih besar atau untuk kebaikan dimanapun, sama saja. Karena kita berhasil berpikir secara luas.

Dari orang yang coba mencari tahu apa yang sebenarnya didapat selama menjadi mahasiswa alih program dalam dunia Kampus Ali Wardhana dengan pikiran sempit untuk mereka yang coba mencari tahu apa yang sebenarnya didapat dalam dunia Kampus Ali Wardhana dengan pikiran sempit.

Obrolan warung kopi : Tikus-Tikus Anjing

37 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Ladiesman217

Jarang membaca tapi jarang menulis. Doyan tidur.

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: