Medan atau sekalian saja Saigon (Catatan Perjalanan)

Dalam rangka memperingati hari ke 60 berhentinya asap rokok hilir mudik di kehidupan saya, maka saya membuat tulisan dalam rangka memperingati hari ke 60 berhentinya asap rokok hilir mudik di kehidupan saya.

Oktober 2017
Bermula dari ketidak-bisa-hadiran saya untuk datang ke kawinan kawan lama, sampai-sampai saya ditelpon purnamalam pertamanya. Maka muncullah ide untuk membayar ketidakhadiran saya itu. Namanya Islam dan bertugas di Medan. Dari sanalah saya bertekad padu untuk bisa datang ke Medan membezoek pasangan baru tersebut pada masa liburan panjang terakhir di Bulan Agustus 2018 nanti. Padahal tempat kawinannya hanya di Bandung,  hal tersebut menjadi bukti bahwa memang benar sekosong itulah dompet waktu itu, imbas dari pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang masih mengggunakan basis kas.

Juli 2018
Saran kecil untuk siapapun jikalau memang berniat untuk merencanakan liburan ke suatu tempat, coba dimulai dari membuka peta. Dari sana kita bisa mengeksplorasi lebih jauh kemungkinan-kemungkinan yang bisa diambil untuk mengakali waktu liburan seuntung-untungnya. Dalam kasus saya, saat saya membuka peta dan melihat Kota Medan, saya coba cari destinasi sekitar Kota Medan yang bisa disekalianin. Ternyata saya baru sadar saat melihat Pulau Sumatera secara keseluruhan. Ada sebuah kesempatan bagi saya untuk bisa berlayar dari ujung selatan pulau tersebut sampai ke Kota Medan. Kalau aja jodoh manusia semudah cari tau angkutan darat apa yang bisa bawa saya sampai ke Medan, pasti mereka pada ngumpul semuanya di pangkalan ALS (perusahaan moda transportasi darat). Ya, ternyata ada bus yang bisa membawa saya dari Kampung Rambutan, Jakarta menuju Kota Medan dan segera saya bulatkan tekad untuk cicipi.

Iseng bukan sembarang iseng, masih melihat peta yang sama tapi sekarang saya perluas lagi pandangan saya, kemudian terbentanglah sebuah kawasan mandiri yang masyarakatnya ekonomi banget, yak ASEAN. Percampuran dari lihat peta ditambah klik satu lokasi ditambah buka tab baru ditambah cari info tempat dan cara kesana ditambah catet-aja-dulu-nanti-juga-mungkin-bisa menghasilkan sebuah garis biru cantik yang dimulai dari:
Kampung Rambutan, Jakarta Timur – Pelabuhan Merak, Banten – Pelabuhan Bakauheni, Lampung – OKU, Sumatera Selatan – Muara Bungo, Jambi – Bukit Tinggi, Sumatera Barat – Tarutung, Sumatera Utara – Pematang Siantar, Sumatera Utara – Medan, Sumatera Utara.

Lalu garis biru cantik itu menyelami selat Malaka menuju:
Penang, Malaysia – Padang Besar, Thailand – Bangkok, Thailand – Siem Reap, Kamboja – Phnom Penh, Kamboja – Saigon, Vietnam,
dan berakhir kembali ke Jakarta tapi bukan Kampung Rambutan. Dengan segala macam pencarian yang dilakukan, perjalanan tersebut dapat ditempuh melalui transportasi darat, baik kereta maupun bus, kecuali yang nyebrang pulau.

Ilustrasinya macem ni:

Jakarta - Medan

Rencana perjalanan darat Kp. Rambutan, Jakarta – Medan

 

Penang - Saigon

Penang – Saigon

Rencana perjalanan darat Penang – Saigon

Itulah rencana perjalanan catet-aja-dulu-nanti-juga-mungkin-bisa, yang berawal dari gagal ke kawinan kawan di Bandung pada Bulan Oktober silam. つづく

Ladiesman217

Jarang membaca tapi jarang menulis. Doyan tidur.

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: