Tikus – Tikus Anjing

“Tikus, tikus apa yang anjing?”

“Tikus anjing”

Biasanya, pertanyaan – pertanyaan yang sangat tidak mencerminkan budaya kaum terpelajar kerap terdengar ketika gue dan teman-teman sedang kongkow. Pertanyaan tolol yang dijawab dengan jawaban tolol yang ditanggapi oleh orang-orang yang jauh lebih tolol.

Tapi biarpun tolol, mereka – mereka itu, adalah orang – orang tolol yang cerdas. Kenapa bisa begitu? Karena mereka tolol untuk diri mereka sendiri, mentok – mentok tololnya “cuma” ditularin di tongkrongan, ga bikin rugi orang lain. Beda sama mereka – mereka yang tololnya bikin susah orang banyak, bikin satu negara gerah, bikin satu bangsa merana. Ketololan yang sungguh lalim.

Orang – orang yang Maha Tolol ini sebenernya pinter. Cerdas. Mungkin salah satu murid teladan sewaktu sekolah, ataupun mapres (mahasiwa berprestasi) kala kuliah. Minimal ngantongin program Magister, ataupun Profesor. Semua orang pasti kagum sama mereka, berangan bahwa suatu saat, di masa depan, mereka bisa menjadi salah satu tonggak pemimpin negara yang akan membawa perubahan menuju kemakmuran, menjauhi kemelaratan.

Tapi apa dikata? Semua berubah. Semua berubah.

Jl. Raya Ps. Minggu pukul 11.00

Jl. Raya Ps. Minggu jam 11 siang. Berusaha buat memacu motor kredit kesayangan. Tapi apadaya jalan isinya kendaraan doang. Jangankan kebut, bergerak pun engga.

Baru – baru ini ada penelitian yang dilakukan oleh European Space Agency (ESA) kalau ternyata jarak matahari terhadap bumi semakin dekat khususnya di jam-jam 11 – 1 siang, khusus di bagian Jl. Raya Ps. Minggu sampai Pancoran.

“ The heat totally feels like shit!” kata ilmuwan dari Eropa yang meniliti gejala tersebut.

“ Panasnya kek tai! “ Kata ilmuwan itu kalau dia berasal dari daerah Kalideres.

Tapi beneran. Panasnya bikin lo inget Tuhan dan hari pembalasan.

Waktu itu kondisinya gue lagi di jalan berangkat menuju kantor, agak siang karena abis mampir ke salah satu lokasi program, juga di daerah Ps. Minggu. Urusan program kelar, gue langsung pacu motor kesayangan gue, (yang gue kasih nama Rebecca karena warnanya item). Niatan mau buru-buru sampe kantor karena selain panas, ada kerjaan yang masih harus gue kelarin. Juga karena panas sebenernya.

Gue ga tau hari itu lagi ada apaan di Jakarta tapi sumpah, demi Apapun yang kalian percaya, hari itu jalan padat banget. Kalo jalan itu diibaratkan anak sungai dan kendaraan yang melintasi diibaratkan air, gue rasa itu yang ngalir di anak sungai bukan air tapi yogurt cimori. Kentel banget coy.

Gue ga habis pikir kenapa bisa begitu. Kayaknya di Jakarta udah ga ada Si Komo yang suka bikin macet. Apa mungkin ada syuting La La Land di depan Terminal Manggarai sampe bikin macet kaya gini? Ga ada yang paham. Pun  bapak pengendara motor sebelah gue yang pake jaket kulit siang-siang juga ga paham. Sama dengan Gue yang ga paham kenapa dia siang-siang pake jaket kulit. Dipikir Alpen sebelah Pancoran.

Akhirnya gue sampai di satu kesimpulan. Karena gue ga punya uang

Ga punya uang > ke kantor motoran > kejebak macet > jalan sedikit > kejebak macet lagi > (mengulang proses sebelumnya berulang kali sampai ganteng) > sampe kantor

Kalo gue punya uang yang banyak banget skemanya akan gini

Punya uang banyak > ke kantor naik helicopter > ga kena macet > pulangnya jalan sama Tatjana Saphira

Semua menang, semua senang. Tapi apadaya, hamba hanyalah seorang tak berdaya. Lalu bagaimana supaya hamba bisa cepat kaya…

Tikus – Tikus Anjing

Dalam paragraph-paragraf di bawah akan ada penggantian kata-kata karena dinilai terlalu kasar untuk dibaca. Sebagai berikut:

Koruptor = Tikus Anjing

Korupsi = Makanan Tikus Anjing

Belakangan Papah Setdah Nohanakbaderbanget sedang kena kasus Makanan Tikus Anjing. Ga tanggung-tanggung. Nilainya gede. Banget. Kalo ngitung pake kalkulator tukang sayur rumah gue yakin nolnya ga akan cukup. Nilainya fantastis. Hitung-hitung realistis gue, itu nilai baru bisa gue kumpulin nanti ketika anak gue udah punya cucu. Which is, nearly impossible to achieve for a humble salary man like most of us.

Enak ya Makanan Tikus Anjing. Hasilnya bisa buat oncang-oncang kaki sambil garuk-garuk aksesoris yang nempel di selangkangan sambil minum Limun dingin yang gelasnya keringetan dipegangin oleh selir simpanan yang mukanya mirip Masami Nagasawa di Ibiza siang-siang. Enak ya Makanan Tikus-Tikus Anjing.

Ehtapi, ternyata ga segampang itu juga ternyata buat Makanan Tikus Anjing. Harus kreatif bikin phrasing supaya pas disadap nyaru dengan percakapan pada umumnya. Dipikir gampang bikin gituan? Coba tanya anak-anak Copywriter. Dipikir gampang?

Butuh keelokan dan keliahain namun tetap mengedepankan unsur estetika juga seni. Sandi bisa diangkat dari tema yang terbilang bebas, walaupun sejauh ini sandi yang berhubungan dengan agama masih menjadi favorit. Peringkat kedua disusul oleh penggunaan buah-buahan. Mungkin juga untuk semakin meyakinkan si penyadap bahwa percakapan si tersadap tentang bagi-bagi hasil Makanan Tikus Anjing tersebut hanyalah percakapan tentang panganan buah yang mengindikasi bahwa si tersadap sedang mengalami susah BAB (susah berak) karena kekurangan serat. Kemudian disusul oleh penggunaan istilah warna-warni. Dan sisanya sampah, ga ada kreatif-kreatifnya, ga patut dibahas. Berikut sumbernya

https://nasional.tempo.co/read/1023170/12-kata-sandi-kasus-makanan Tikus-Tikus Anjing-yang-diungkap-kpk

Sering gue geram kalo inget kejadian-kejadian Makanan Tikus Anjing. Kok bisa segampang itu ngambil uang rakyat ya. Dipikir gampang nyari duit. Gue kasih tau aja nih buat kalian yang mau melakukan Makanan Tikus Anjing. Gue dan juga orang-orang lain tiap hari kerja dari pagi sampe malem. Kadang bawa pulang kerjaan ke rumah, kadang Sabtu-Minggu juga masih kerja. Cuma buat nerima gaji di akhir bulan yang akan di potong oleh pajak. Dan ga cuma itu. Disetiap sendi ber kehidupan gue di negara bak Sorga ini semua kena pajak. Gue makan enak dikit di resto kena pajak, beli baju di tempat yang ada mesin kasirnya kena pajak, bahkan gajian kena pajak. Hanya buat tau kalo duit pajak yang seharusnya bisa untuk bikin E-KTP di jadikan Makanan Tikus Anjing.

NYET. DUIT PAJAK GUE DI JADI BAHAN MAKANAN TIKUS ANJING (capslock, increase font size, underline). Duit hasil keringetan-kering lagi-keringetan-kering lagi tiap hari. Dari yang berangkat pagi bau parfum sampe pulang-pulang bau prengus. Di grepe-grepe di kereta. BITCH, YOU STOLE OUR TAXES? HOW DARE YOU???
Belakangan teman-teman karib gue pada sering ngeluh katanya gue gampang marah. Boy, denger berita ginian saban hari itu bikin urat marah tepo (tipis, elah maksudnya. PERNAH MAIN LAYANGAN GA SIH?!). Harusnya gue yang bingung kenapa mereka bisa stay sane di keadaan kaya gini.

Filipin sama Cina udah nerapin hukuman mati buat para Tikus Anjing. Kenapa negeri Kahyangan ini gabisa seperti itu juga? Ya jelas karena setiap orang itu memiliki HAM (Hak Asasi Manusia nih kepanjangannya, gue kasih tau aja). Oke, fine. Gue ngerti. Karena itu gue propose sebuah hukuman yang samasekali tidak akan melanggar HAM buat para Tikus Anjing yang sudah jelas-jelas melanggar kode etik manusia.

Gini, coba kalo bisa dibikin setting supaya mirip-mirip sama film The Purgatory gitu. Jadi ada satu hari dimana kita bebas memburu para Tikus Anjing itu. Ga ada polisi, hukum ataupun HAM yang bisa melindungi Tikus Anjing itu. Not even God Himself. Semua orang akan berlomba-lomba berusaha sekuat tenaga buat melukai para Tikus Anjing. Rumahnya akan kita dobrak, mereka lari kita kejar, trus ketangkep, trus mereka akan mohon-mohon buat ga dibuat kesakitan. Kita akan ragu-ragu, kemudian seperti mempertimbangkan ucapan mereka (mereka pasti akan berusaha buat mengiming-imingi uang sebagai balas jasa baut ngelepasin mereka). Setelah itu kita kasih speech soal keadilan sedikit. Trus berikutnya tinggal eksekusi.

Hmm, tapi kalo dipikir-pikir lagi masih agak sadis ga sih? Kasian lah kalo mereka harus “diburu” kaya gitu. Yaudah. Gue masih ada opsi lain. Kita bikin kaya filme Deathrace aja. Para Tikus Anjing itu dipisahin dari kriminal-kriminal lain dan disatukan di sebuah penjara khusus. Mereka harus ikutan balapan yang mematikan setiap pekannya. Yang menang kompetisi selama lima kali berturut-turut akan dibebaskan. Nah yang bebas itu nantinya akan jadi partisipan di kegiatan macam film The Purgatory. Tetep.

“Am I a lil bit too sadistic?” Of course.

“Am I a lil bit too masochist?” Maybe.

“Don’t you have any pity for them?” absolutely not.

“Emang lo ga mikirin apa perasaan mereka pas nerima hukuman?”

Woy, Lo pikir mereka itu mikirin kita ketika mau, sedang, juga setelah korupsi? Well, make a guess J

pictures: from google

 

 

19,792 kali dilihat, 94 kali dilihat hari ini

3 comments on “Tikus – Tikus AnjingAdd yours →

Tinggalkan Balasan