Jalan Pulang

 

PRAKATA: Tulisan dibawah adalah hasil interpretasi lagu “Percakapan” dari The Usptairs oleh penulis. Sila disetel terlebih dahulu, lagunya, sebelum membaca untuk pengalaman maksimal

 

 

“Udah malem nih, buruan abisin makanannya“
“Iya ini juga lagi dimakan. Lagian, kamu makannya cepet banget“
“Gue kebiasaan makan cepet dari kecil“
“Kenapa gitu?“ ujarnya tanpa melepas garpu dan sendok di tangannya
“Apanya yang kenapa?“
“Itu. Makannya. Kenapa cepet banget“
“Oh. Kenapa ya? Mungkin karena kebiasaan.“ sahutku sekenanya
“Justru karena kebiasaan. Ada penyebab yang membuat kamu jadi terbiasa“
“Bener juga“
“Ayah kamu tentara ya?” tanyanya sebelum meyuapkan makanan
“Kenapa gitu?“
“Soalnya kan tentara biasa makan cepet“
“Bukan. Bokap gue pegawai bank. Tapi iya makannya emang cepet kaya tentara“
“Hahaha. Tuh, betul kan”
“Kadang dia bisa makan lebih cepet dari tentara“
“Kok bisa??“
“Iya, kalo makanan yang ada di meja itu bokap ga suka. Pasti makannya cepet”
“…….“ dia terdiam menunggu terusan cerita
“Selesai makan bokap langsung pergi ke warkop depan buat makan lagi. Mesen indomi biasanya”
“Hahahahaa“
“Pernah sekali waktu nyokap mergokin bokap lagi kaya gitu“
“Terus, terus?”
“Engga, nyokap ga marah-marah. Cuma selama seminggu penuh nyokap selalu masak makanan yang ga bokap suka. Jadinya bokap terpaksa makan indomi terus selama seminggu”
“Beneraan? Hahahaha. Lucu banget ya ayah kamu“ aku ikut tersenyum
“……..“ (mengeluarkan sekotak rokok dari kantong)
“Kamu masih laper ga? Abisin makanan aku dong” ujarnya terburu-buru
“ ……. “
“Kekenyangan nih“ lanjutnya seraya menunjuk perut
“Ayam di kampung pada mati kalo lo makannya ga abis, tau”
“Makanya kamu abisin kalo gitu. Biar ayamnya ga ada yang mati“ katanya sambil menggeser mangkok indomi ke hadapanku
“Dasar“ aku dapat melihat dia tersenyum kecil dari sudut mataku.
“Hehe“
“Lo risih ga kalo gue ngerokok?“ tanyaku memastikan. Sambil menghabiskan sisa indominya
“Eh, minggu depan enak kali ya kalo jalan-jalan ke Bogor“ ucapnya seraya mengubah topik pembicaraan. Benar, Dia ternyata risih
“Bogor? Bukannya minggu lalu baru kesana sana?“ sahutku mengikuti pembicaraannya
“Ah itu kan minggu lalu. Lagian itu cuma makan-makan doang“
“Trus kalo gitu mau ngapain lagi disana? Kalo engga makan“
“Entah. Mungkin jalan-jalan“
“ …… “ aku terdiam. Ada agenda lain sebenarnya minggu depan
“Hey, kok bengong. Kamu ga bisa?“
“Kan macet jalanan kalo kita kesana hari mingg “ ujarku sedikit berargumen mencoba menggoyahkan ajakannya
“jangan naik mobil Kalo begitu“
“Naik motor juga macet“
“Jangan naik motor juga kalo gitu“
“Kalo naik kereta kelamaan dijalannya“
“Gapapa. Ga harus cepet-cepet kok“ balasnya lagi

“(sigh) Yaudah. Minggu depan. Tapi baliknya jangan kemaleman“ aku mengalah. Lagipula, tak pernah bisa menang beradu pendapat dengan dia
“Oke. Minggu depan ya“
“Pulang yuk. Udah mau ujan nih”
“Yuk“

Setelah selesai membayar segera kunyalakan motor. Tanpa disuruh dia langsung naik di jok belakang. Pelan-pelan, motor mulai melaju meninggalkan warkop tempat kami makan barusan jauh di belakang. Belum ada setengah jalan menuju Kalibata, gerimis turut menemani perjalanan pulang malam itu. Sekitar pukul sembilan malam.

Sambil melambatkan laju motor, kepalaku celingukan mencari tempat untuk berteduh. Ketemu. Kubelokkan motor ke depan emperan bengkel yang sudah tutup. Sudah ada dua motor yang berteduh disana lebih dulu dari kami. Mesin motor kumatikan walaupun masih belum persis sampai di depan bengkel.

“ Loh, kok berhenti? “ sahutnya dari jok belakang.

Tiba-tiba. Dalam sedetik gerimis langsung berubah menjadi hujan deras. Aku mendengar suaranya berteriak, kaget karena hujan deras dengan tiba-tiba. Dengan segera aku menyuruhnya turun. Segera aku turun dari motor tanpa ku kunci stang. Lalu aku langsung meraih dan menyembunyikan tubuhnya dari derasnya hujan di dalam jaket yang sedang kukenakan dan bergegas menuju ke tempat yang terlindung dari air hujan.

“Kok berhenti?“ ulangnya menuntut jawaban yang belum terjawab
“Tuh“ sahutku sambil menunjuk dengan dagu.
“Ih. Ujan juga cuma air kali. Sama ujan aja takut“
“Uang juga cuma kertas. Tapi kenapa kita takut kalo ga punya uang  jawabku
“Hahahaha. Apaan sih. Beda lah” ujarnya tersipu. (Manis betul)
“Mau terobos ujan aja? Kalo lo sakit jangan salahin gue ya“ kataku sambil meliriknya
“Iya“
“Sebentar“

Kemudian aku berlari ke arah motorku dan mengeluarkan ponco dari joknya kemudian mengenakannya. Setelah menyalakan lagi mesinnya, aku memberikan aba-aba supaya dia segera naik motor. Kemudian dengan sedikit berlari dan sedikit berteriak kedinginan, karena menerobos hujan, dia datang menghampiri dan langsung naik ke jok belakang seraya menyembunyikan tubuhnya di balik ponco.

“Pegangan ya“ ujarku
“Apaaa?“ balasnya sedikit berteriak dari bawah ponco. Suaranya sedikit kalah dengan suara hujan.
“Pegangan ya“ ujarku dengan lebih pelan

Motor kembali ku jalankan ke arah kalibata. Hujan masih tetap deras dan ponco yang kami kenakan tidak sepenuhnya melindungi kami dari air yang turun. Apa boleh buat.

part 2

2,388 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: