Yogyakarta: Yang Istimewa Selain Martabak

Kalian tahu, bahwa ternyata ingatan bisa diwariskan oleh leluhur dan orang-orang di semesta lain melalui bintang-bintang dan debu-debu galaksi? Melewati ruangku dan waktumu, singgah di kepala orang tua kita, lalu akhirnya bertemu dan berpindah dalam sebuah prosesi yang sakral (yang biasanya penuh laga dan sarat akan ketegangan), hingga akhirnya melebur menjadi sebuah trofi organik dan termanifest di dalam ruh kita sebagai manusia baru.

Jika tidak begitu mana mungkin gejala ini bisa dijelaskan secara logis. Yogyakarta. Sebuah Daerah Istimewa yang terletak di tengah Jawa Tengah menempel di bagian selatan Jawa. Tidak ada yang tidak tahu tentangnya. Dan menjadi “istimewa” bukan karena kandungan jumlah telur dalam adonannya tetapi karena signifikansinya dalam membela dan mengklaim kedaulatan negara.

Oke. Sekali lagi akan kuulang. Yogyakarta. Bagaimana sekarang? Apakah ada perbedaan? Apakah bulu tengkuk kalian sudah mulai berdiri? Pasti sudah. Atau setidaknya kalian mulai merasakan sensasi yang luar biasanya nyaman dan nostaljik dan perlahan-lahan, tapi pasti, ingatan kalian mulai mereka-reka ulang adegan kalian kala itu. Sini. Biar kubantu visualisasi.

Saat itu kalian masih di usia yang tergolong muda. Tidak lebih dari tujuhbelas tahun. Wajah yang mulai dipenuhi jerawat. Kalian laki-laki sudah mulai menjajal rokok pertama kalian dan kian dekat dengan Mastur (walaupun bukan Mastur artis tahun 90an yang kalian pikirkan). Sedang kalian perempuan sudah semakim telaten merawat rambuh dan wajah kalian juga akrab dengan cuti bulanan setiap mendekati bulan purnama.

Kalian datang dalam rombongan besar. Enam bus kira-kira. Di setiap jendela depan tertempel nomor bis dan asal sekolah. Kalian baru saja habis berkunjung dari keraton atau ugm atau pabrik gula. Dan ketika sampai di Malioboro hari sudah mulai sore. Bersama dengan teman-teman terdekat, kalian mulai berkeliaran di sana. Dari mulai mencari gelang untuk pamer ataupun untuk usaha pendekatan di sekolah, lalu mencari bakpia titipan orang tua yang belinya harus merek yang kelewat spesifik (tidak boleh tidak, niscaya merek lain kurang enak rasanya), hingga yang sekedar mencoba nasi kucing atau wedang ronde. Hanya ada tawa, hanya ada bahagia, hanya ada memorabilia.

Lalu skema berikutnya. Saat ini kalian sudah semakin dewasa. Usia kalian tidak kurang dari duapuluhsatu tahun. Kalian sudah mulai melihat dunia dengan menggunakan kacamata dengan lensa yang lebih lebar. Perawakan dan sikap kalian sudah semakin matang. Sedang libur kuliah ganjil atau genap. Kali ini kalian datang dengan menggunakan kereta, namun ada juga dengan naik mobil pribadi. Formatnya tetap sama. Dengan teman-teman juga tapi kali ini lebih sedikit, teman terintim kalian saat itu.

Sudah tidak ada lagi lari-lari dan tawa liar seperti muda dulu. Bukannya kalian bosan, tapi kalian, saat ini, sudah bisa menemukan hal-hal sederhana yang bisa membuat kalian puas. Seperti kesederhanaan dalam segelas susu jahe, wedang ronde (ini jajanan wajib), atau kopi joss. Lesehan di pinggir jalan. Sengaja mencari sudut yang tidak terlalu ramai karena kalian ingin berbincang santai dan menikmati momentum-momentum rotasi bumi pada orbitnya, revolusi bumi pada jalurnya dan pergerakan bima sakti dalam gugusnya. Masih tetap tertawa, tetap bahagia dan tetap berkesan.

Skema berikutnya adalah skema yang paling klasik. Layaknya sebuah pertanyaan retorika. Kedatangan kalian kali ini adalah untuk mencari jawaban. Jawaban tentang apa yang sebenarnya sudah kelewat bertahun-tahun yang lalu. Kalian rindu oleh saat-saat itu. Rindu oleh rasa itu. Walaupun batu tidak berongga namun tetap masih ada lubang di dalam sana. Walaupun kalian merasa diri kalian kian lama kian mengeras seperti batu namun tetap ada lubang di rongga dada itu. Yang tidak bisa diisi hanya oleh sel darah merah juga trombosit. Lalu pergilah kalian kesini untuk mencarinya. Juga untuk mengamini apakah benar kalian masih merasakan hal yang sama tentang apa yang kalian pikirkan. Apa yang sebenernya kalian pikirkan.

Entah tentang teman-teman dekat yang sekarang cuma menjadi sekedar “nama” dari sekian banyak kontak di telepon. Atau tentang prinsip dan ideologi yang dulu sempat kalian kenakan dengan lapang di depan dada kalian, hingga kini (mungkin) kalian telah letakkan di bawah tumpukan-tumpukan kardus kosong di loteng. Atau malah cerita tentang kekasih lama yang suaranya masih bisa kalian dengar saat siut angin lewat di samping telinga. Dan aku yakin saat itu usia kalian tidak kurang dari duapuluhtujuh namun tidak lebih dari tigapuluhlima.

Bak sebuah oase Yogyakarta selalu menjadi pusat gravitasi dunia yang kemudian menarik memori-memori lama yang terpendam di dalam diri kita. Dan layaknya seorang kafilah yang mengembara di tengah gurun oase yang bernama Yogyakarta ini menjadi sebuah tempat persinggahan yang sulit untuk dihiraukan.

Ada yang membuat kota ini begitu “spesial” walaupun bukan karena ada tambahan teri dan petai. Selalu ada mendadak timbul jika kita berbincang tentang Yogyakarta. Tanpa diperintah dan dengan sendirinya akan muncul rasa rindu yang teramat sangat yang tidak ada seorang pun yang bisa membendung, bahkan Ghandi sekalipun. Aku yakin, jika saja dulu Obama tumbuh besar di Yogya, bukan di Menteng, mungkin akan banyak gerobak-gerobak sego kucing di trotoar NY Time Square.

Kalian tahu, bahwa ternyata ingatan bisa diwariskan oleh leluhur dan orang-orang di semesta lain melalui bintang-bintang dan debu-debu galaksi? Jika tidak begitu, ada apa dengan rindu dan resah yang tidak biasa ini? Ingatan tentang keakraban siapa ini yang singgah di ingatan kita? Ada risau yang tidak bisa dijawab kecuali oleh kota itu, bukan Paris, Praha atau Bora – Bora tetapi Yogyakarta. Entah mengapa kalian merasa sangat akrab dengan kota ini, dengan suasana ini, dengan segala tatakramanya. Seperti mantra yang membuat kita tak berdaya, Yogyakarta adalah sihir.

Saranku adalah jangan sekali-sekali memutar lagu Yogyakarta-nya Kla Project saat sedang suntuk mengerjakan tugas kuliah ataupun sedang dikejar deadline di kantor. Karena secara impulsif, kalian bisa-bisa langsung memesan tiket kereta menuju Stasiun Tugu secara tiba-tiba. Lalu akhirnya menjalani sisa hari dengan senyum dan perasaan riang karena kalian tahu bahwa kalian, sekali lagi, mendapatkan kesempatan untuk menyelami memoar manis ini. Selamanya.

*image from maritimtours(dot)com

**bukan promosi loh tapi emang fotonya sangat ciamik

 

235 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: