Surat dari Ibu

Ndul,

Apa kabar?

Semoga selalu sehat dan baik-baik saja. Kalau pun sedang kurang sehat dan tidak terlalu baik, Ibu harap supaya lekas-lekas kesehatanmu kembali.

Kemarin Ibu baru ketemu sama Bude Rahmi. Kamu kenalkan anaknya? Si Firman itu. Kemarin dia pulang setelah 10 tahun merantau ke Karawang. Alih-alih untung, malah buntung. Kaki kirinya hilang, Ndul. Katanya tergilas roda-roda troli sewaktu mengangkat puing besi.

Tapi beruntung. Dia tidak berubah menjadi seorang pemurung. Dia tetap tersenyum saat menceritakan kembali kemalangannya, menjadikannya sebagai pengingat dan nasihat untuk orang lain bahwa celaka bisa menimpa kapanpun dan dimanapun. Menjadikan kemalangan sebagai sebuah pemicu semangat untuk tetap tegak menghadapi hidup. Malah, dia berniat untuk membuka sebuah bengkel las di ujung jalan sana.

Tidak seperti si Bagus.

Baru diuji dengan sedikit masalah sudah menyerah. Cuma gara-gara warung sembakonya terbakar, sekarang setiap hari dihabiskan waktunya untuk melamun. Di lain waktu, dihabiskan dengan menagih paksa uang sewa dari pedagang-pedagang di samping stasiun. Kamu tidak boleh seperti itu ya ndul. Ibumu ini membesarkanmu untuk menjadi seorang pemenang, bukan pecundang.

 

Ndul,

Kalau kamu sedang ada waktu senggang, boleh lah kamu tulis surat untuk adikmu.

Belakangan, adikmu jadi makin semangat buat sekolah lho. Dia seneng banget ngeliat Mas nya masuk tivi. Dia cerita ke semua teman-temannya di sekolah, katanya, mas nya sekarang sudah jadi artis, masuk tivi. Padahal cuma kampusnya aja yang masuk berita, kamunya engga.

Terus gimana kuliahmu?

Ibu selalu mendoakan supaya selalu lancar tanpa ada satu kendala pun.

Ibu dengar sekarang kamu sedang sibuk sama kegiatan kampusmu. Ibu senang kalau kamu kerasan di sana. Sibuk dengan aktivitas kampus boleh, tapi tetap, tugas seorang pelajar adalah untuk belajar. Jadi jangan sampai kuliahmu terbengkalai ya. Apalagi sampai nilai-nilaimu jadi jeblok.

Jangan sampai kamu terlalu sibuk dengan urusan yang tidak terlalu penting. Jangan terlalu sering pulang malam, kurangi merokoknya. Kalau ga bisa berhenti, ya coba dikurangi. Jangan sehari sebungkus. Bisa tandas badanmu nanti kalau terlalu rajin merokok. Daripada untuk membeli rokok, lebih baik uangnya kamu tabung buat beli motor atau biaya menikah.

 

Ndul,

Kemarin Ibu tengok, padi di sawah sudah semakin menguning.

Sudah tujuh kali musim panen lewat Ibu ga ketemu kamu. Ibu kangen kamu, Ndul. Ibu kepingin ngeliat kamu. Pingin peluk kamu. Kamu pasti makin tinggi, makin gagah, makin ganteng kaya Bapakmu.

Ibu takut nanti kamu lupa sama Ibu, lupa sama rumah di kampung, lupa sama sungai tempat kamu mandi dulu, lupa sama sawah tempat kamu main dulu. Ibu takut nanti kamu lupa pulang, takut kamu lupa jalan pulang. Setiap ingat kamu, Ibu selalu teringat akan mendiang Bapak. Sikapmu itu betul-betul mirip dengan dia.

Keras kepala, ngga mau diajak kompromi, tapi cerdas dan sayang kepada semua orang. Dia orang yang berteriak paling lantang, dulu, ketika warga setempat protes soal penggusuran sawah untuk dijadikan pabrik semen. Karena itu dia dihilangkan. Karena itu dia dihilangkan oleh penguasa.

Ibu tahu, dari berita di tv dan koran, kalau situasi di kota sedang genting. Tawuran dimana-mana. Tentara bersenjata menangkapi orang-orang yang dicurigai sebagai dalang kerusuhan. Semuanya yang dicurigai kena bredel, apalagi yang sudah jelas-jelas bersalah.

Dan Ibu paling hapal perangaimu.

Kamu pasti menjadi yang terdepan dalam menyuarakan keadilan. Watakmu itu yang selalu Ibu syukuri, walau, terkadang juga Ibu sesali. Ibu tahu, kamu dan teman-temanmu sedang menuntut turunnya rezim, itu adalah sebuah perbuatan saleh dan juga terpuji. Tapi Ibu takut, Ndul. Takut sekali, kalau-kalau kamu sampai harus menyusul nasib Bapakmu.

Ibu ga sudi kalau sampai harus kehilangan lagi. Walau kejadian itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, jangan pikir Ibu sudah lupa. Engga Ndul, Ibu ingat setiap hari kejadian yang menimpa mendiang Bapak.

Ibu ingat tiap detik kejadian itu seperti baru terjadi kemarin. Bagaimana orang-orang itu tiba-tiba merangsek masuk ke halaman rumah, bagaimana Bapak melindungi Ibu, Kamu dan Adek. Teriakan dimana-mana, tetangga-tetangga semua keluar rumah, menontoni kejadian janggal itu. Tapi tak ada yang berani melerai. Karena preman-preman itu datang membawa parang, kayu rotan, bahkan pistol.

Ibu cuma bisa melihat Bapak dibawa paksa. Sambil menangis, sambil memelukmu dan Adek yang masih di perut, kuat-kuat.

Ibu sebenarnya keberatan dengan kepergianmu ke kota, walau Ibu tahu bahwa kepergianmu adalah untuk menuntut ilmu, tetap saja berat. Ibu takut kamu nanti kenapa-kenapa disana dan Ibu ga bisa nolong.

Tapi yang namanya orang tua pasti ingin supaya anaknya berhasil. Toh, setakut-takutnya Ibu, Ibu tetap pingin supaya kamu berhasil. Bisa menjadi seorang lelaki yang tidak hanya pintar, tapi juga berbudi luhur dan berakhlak mulia. Dengan pendidikan Ibu yakin kamu bisa mencapai itu semua.

Terakhir, pesan Ibu, kamu harus jaga diri baik-baik. Jangan lupa sembahyang dan berdoa ke Gusti Allah supaya diberikan kesehatan dan perlindungan dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ibu tunggu balasan dari kamu ya Ndul.

 

 

 

source image : https://archive.andsonsmagazine.com/19/letter-mom#.XJHs3KSyRhE

493 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: