Seperti Membolos Kerja

Ini pertama kalinya aku melakukan hal ini, dan rasanya mengagumkan! Maksudku lari dari tanggung jawab. Semenjak dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas tidak pernah sekalipun aku bolos sekolah tanpa sepengetahuan orangtuaku. Maksudku, yah, aku pernah tidak masuk sekolah karena alasan yang dibuat-buat atau sakit yang dibuat-buat. Klasik. Tapi setidaknya aku di rumah. Dan aku yakin satu-dua kali Ibuku pasti sadar bahwa aku tidak sesakit itu dan hanya jenuh dengan rutinitas. Setidaknya itu yang aku tangkap hingga saat ini.

Tapi kali ini berbeda. Umurku tidak lagi 16 tahun dan aku tidak sedang sekolah. Yang sedang aku lakukan saat ini adalah bolos kerja dengan alasan sakit dan kemudian malah pergi ke bioskop menonton film kartun jebolan Disney. Yang ibuku tahu adalah aku berangkat ke kantor seperti biasa, hari ini. Sedangkan yang atasanku tahu adalah aku sedang terkulai lemah di rumah. Bukan pekerjaan mudah, kawan.

Aku akui bahwa sebenarnya apa yang kulakuan adalah sebuah perbuatan yang salah. Karena itulah hari ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kepuasanku. Segera setelah selesai menonton film keanyaran itu aku segera menuju ke toko buku terdekat. Ada beberapa buku yang ingin kupunya. Kebetulan aku sedang kepingin membaca buku-buku lama bikinan George Orwell atau Tolstoy. Dan di toko buku itulah aku bertemu dengan dia.

Bulu tengkuk ku sontak berdiri. Merinding. Kurasai butir-butir keringat dingin mulai mebasahi dahi, punggung hingga ketiakku. Sosoknya begitu samar. Dengan diam dia berdiri di salah satu sudut toko (kalau tidak salah saat itu dia terlihat di bagian buku anak). Aku tidak bisa mempercaya dengan apa yang aku lihat.

Seorang perempuan yang begitu anggun memesona. Begitu rupawan. Sesaat, Aku tidak bisa mengatakan apakah dia benar-benar seorang manusia atau merupakan jelmaan Aprhodite yang sedang mengunjungi bumi untuk memberikan kalam-kalam kudus. Matanya hitam segelap malam, rambutnya hitam sekelam malam, bibirnya terlihat dingin seperti mimpi. Melihatnya seperti melihat Dago di awal tahun 90an. Sepi, dingin dan penuh rindu.

Kupaksakan kaki untuk melangkah mendekatinya. Dapat kurasakan detak jantungku yang teramat keras. Aku celingukan dengan risih sambil memastikan, takut-takut orang lain bisa mendengarnya juga. Tapi tentu saja mustahil. Ragu-ragu juga mendadak menyinggahi pikiran. Semua keadaan ini terlalu sempurna. SEMPURNA. Apakah ini adalah sebuah setting acara yang suka menjahili orang seperti yang sering kulihat di TV? Mudah-mudahan bukan.

Jarak ku hanya tinggal beberapa langkah. Semakin kupertegas, semakin aduhai sosok perempuan yang ada di depanku ini. Dia sedang memegang dua buku cerita anak. Kelihatannya seperti sedang menentukan, sedang menimbang-nimbang, manakah buku yang akan dia beli. Kepalaku dipenuhi berbagai pertanyaan. Untuk siapa buku itu? Untuk kau baca? Atau untuk adikmu? Aku jadi semakin penasaran.

Tiga langkah lagi. Jarak ku dengan dirinya. Pikiranku kini disesaki oleh berbagai macam skenario tentang bagaimana cara memulai percakapan yang baik, benar dan berujung sukses. Karena jujur saja, seumur hidup aku tidak pernah sekalipun melakukan ini. Kenapa justru hal-hal seperti ini tidak diajarkan di sekolah? Maksudku hal-hal terlihat sederhana, namun sebenarnya sangat pokok, seperti ini yang justru kami butuhkan untuk keberlangsungan dan kemaslahatan garis keturunan, bukan? Ayolah, aku tahu jika kalian juga sependapat denganku.

Sekarang jarak ku benar-benar hanya tinggal dua langkah lagi. Dan kuputuskan untuk berhenti. Karena akan sangat canggung jika aku berhenti lebih dekat dari ini. Dan tentu saja aku sangat tidak menginginkan hal tersebut. Lagipula, jika tidak terlalu dekat, aku masih mempunyai waktu untuk menghindar jika ternyata dia merasa terpojok dan dengan tiba-tiba mengeluarkan pisau lipat kupu-kupu dari tas jinjingnya dan kemudian menyerangku. Tenang saja, hal tersebut juga masuk dalam perhitunganku.

Sebelum semakin banyak skenario-skenario tidak masuk akal terlintas di pikiranku, aku putuskan untuk segera menyapanya. Tapi apa yang harus aku katakan?? Apa yang harus aku katakan pertama kali??? Menurutku “Halo” terdengar begitu formal, sedangkan “Hai” mungkin terkesan terlalu akrab, bagaimana dengan “Apa kabar?”. Hmmm, boleh juga.

Setelah mengumpulkan sedikit keberanian, dan banyak kenekatan, akhirnya aku mulai membuka mulut untuk memanggilnya. Namun, saat itu juga, sekonyong-konyong dia menoleh ke arahku. Dan kemudian tersenyum dengan manisnya. Dan kemudian tersenyum dengan sangat manisnya. Dan kemudian tersenyum dengan teramat sangat manisnya.

Mulutku masih setengah terbuka, belum sempat ada satu kata pun terlontar dari kerongkonganku. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mengatakan sesuatu tapi tidak dapat. Aku ingin membalasnya dengan tersenyum juga tidak bisa. Seolah rahangku berhenti berfungsi dan tidak bisa digerakkan. Aku pasti terlihat seperti orang idiot. Dan aku yakin dewa-dewa di sorga sana pasti sedang tertawa melihat apa yang terjadi denganku.  ” Hey, lihat saja, suatu saat pastiakan kubalas. . ” pikirku.

Dadaku terasa semakin hangat. Seperti ada bara api yang menyala kecil yang kemudian ditaruh sekam diatasnya sehingga bara itu berubah menjadi api. Semakin-lama semakin-hangat. Hanya karena sebuah senyuman. Aku bisa merasakan vitalitas di sekujur tubuhku. Aku bisa merasakan darah menjalari tubuhku dan menjadikannya hangat. Aku merasa hidup.

Namun tiba-tiba pandanganku menjadi kabur. Mataku menjadi semakin buram. Pemandangan di sekitarku juga menjadi semakin kabur. Kualihkan lagi pandanganku ke perempuan itu. Dia pun tampak bergerak menjauh. Aku mencoba untuk mendekatinya tapi tidak bisa. Tubuh ku seperti diikat disebuah batang besi dengan menggunakan tali tambang. Dengan penuh upaya aku mencoba melawan sekuat tenaga. Namun tetap sia-sia.

Dengan segenap tenaga aku mengulurkan tanganku, mencoba menggapainya, berusaha menggapainya. Dia menjadi semakin jauh, semakin kabur. Samar-samar aku melihat bibirnya bergerak pelan, seolah sedang berbisik, mengatakan sesuatu. Kuperhatikan dengan lekat bibir itu. Dia bergumam pelan

” Apa kabar. .?”

Dan hal berikutnya yang aku lihat adalah langit-langit kamarku. Dan juga dering alarm di telepon selulerku. Aku masih merasa nanar, seluruh tubuhku terasa nanar, enggan berbuat barang sesuatu apapun. Kulirik jam di atas pintu. Jam lima tiga puluh. Aku menghela napas panjang saraya memegangi dadaku. Masih hangat.

” Ini jelas rindu. . ” kataku

image(s) from:

https://unsplash(dot)com/@ugmonk (header image)

https://unsplash(dot)com/@juliacaesar (last image)

2,796 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: