Sepahit Daun Pepaya Mentah

Tahun ini Indonsia memasuki usia yang ke 73. Jika diumpamakan seorang manusia, Indonesia sudah semakin renta. Semakin kehilangan kekuatan fisik dan mulai mengalami kepikunan laten. Juga mulai muncul penyakit lain khas lansia.

Namun jika dikonversi ke dalam umur sebuah negara, Indonesia terhitung masih sangat muda semenjak masa kelahirannya. Yaitu saat lepas dari belenggu kolonialisme.

Di usia yang semakin dewasa negara ini masih saja berkutat dengan permasalahan sedari zaman kolonial. Korupsi mengakar jauh ke dalam sendi kehidupan, bahkan, menjadi budaya. Dan bukannya tidak mungkin akan menjadi gaya hidup.

Tahun 2018 masih saja tetap diwarnai dengan terungkapnya pelbagai kasus Korupsi. Dari kasus receh sampai masif. Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK di tahun 2017 adalah yang terbanyak semenjak tahun 2005. Tercatat ada 19 kasus dan 72 orang tersangka hasil dari OTT tersebut.

Dari data yang dilansir oleh KPK, ada sekitar 6.000 (enam ribu) laporan pengaduan masyarakat terkait indikasi kasus TPK (Tindak Pidana Korupsi) di tahun 2017. Dengan rincian 2.319 laporan terindikasi kasus Non TPK dan 3.681 laporan terindikasi kasus TPK. Dan 70 laporan masih dalam tahap telaah.

Laporan pengaduan tertinggi datang dari pusat ekonomi dan pemerintahan di Indonesia, DKI Jakarta, sebanyak 840 kasus pengaduan. Disusul oleh Jawa Timur sebanyak 605 kasus pengaduan, Jawa Barat 566 kasus pengaduan, Sumatera Utara 489 kasus pengaduan, Sumatera Selatan 401 kasus pengaduan, dan Jawa Tengah 394 kasus pengaduan.

Sedangkan regional dengan tingkat pelaporan terendah, menurut KPK, datang dari Luar Negeri sebanyak 7 kasus pengaduan, disusul oleh Sulawesi Barat 17 kasus pengaduan, Kalimantan Utara 21 kasus pengaduan, Maluku Utara 24 kasus pengaduan, dan Kepulauan Bangka Belitung 28 kasus pengaduan.

Berdasarkan Delik, laporan atas “Perbuatan melawan hukum / menyalahgunakan wewenang yang mengakibatkan kerugian negara” menempati urutan pertama dengan 2.531 kasus pelaporan.

Belajar dari Tetangga

Transparency International memiliki nilai acuan tersendiri dalam mengukur tingkat kekorupan sebuah negara yang disebut Corruption Perception Index (CPI). CPI adalah tingkat korupsi sebuah negara yang ditentukan berdasarkan penilaian ahli, survey serta opini. Namun bukan hanya “tingkat korupsi”, kemudahan akses informasi publik serta transparansi lembaga pemerintah dan non-pemerintah menjadi tolok ukur penilaian.

Di 2017 Indonesia mendapatkan skor CPI 37, menduduki peringkat keempat di ASEAN. Di posisi ketiga ada Malaysia yang mendapatkan skor CPI 47. Kemudian di peringkat kedua ada Brunei Darussalam dengan skor CPI 62. Dan di urutan pertama, tidak-lain-tidak-bukan, adalah Singapura dengan supremasi skor CPI 84 bersaing dengan negara-negara maju seperti Denmark, UK, Switzerland, Finlandia, juga Selandia Baru.

Nilai tersebut turut merefleksikan peringkat korupsi. Indonesia dengan menduduki posisi 97 dari 180 negara, SEDANGKAN Singapura menduduki peringkat ke 6. Telisik punya telisik, ternyata ada beberapa alasan mengapa tingkat korupsi di Singapur sangat rendah.

Salah satunya adalah peran aktif dari Lee Kuan Yew yang melahirkan kebijakan-kebijakan strategis yang menekan terjadinya angka korupsi membumbung tinggi. Seperti halnya KPK di Indonesia, Singapura mempunyai Corrupt Practices Investigation untuk menangani kasus korupsi dan memiliki wewenang yang sangat tinggi.

Namun jangan main-main, hukuman yang diberikan sangat berat, berbeda dengan di Indonesia yang ujung-ujungnya cuma mentok 2 tahun. Pemberitaan di media pun tidak main-main. Nama pelaku akan dijatuhkan sejatuh-jatuhnya sampai karir profesional dan nama baik pelaku benar-benar hancur. Dan di Singapura tidak akan ada yang berani-beraninya mencalonkan diri lagi kaya caleg-caleg yang urat malunya sudah putus itu.

Alasan lainnya adalah karena gaji bulanan para politikus di sana sudah terbilang tinggi, karenanya mereka tidak ngiler ketika ditawari commitment fee ataupun fulus pelancar terpilihnya proyek.

Sekolah yang Bernama Penjara

Mungkin kalian sempat berpikir, “ah, seharusnya sekarang korupsi sudah jauh berkurang dibandingkan dulu. Kan sekarang sudah ada KPK, yang mau korupsi pasti takut”. Wajar. Melihat sepak terjang komisi anti ‘rasuah’ beberapa tahun terakhir. Hingga kemudian, sebuah kasus muncul menggelitik soal sel-sel mewah di rutan Sukamiskin.

Penjara, yang seharusnya menjadi tempat untuk refleksi diri para pelaku tindak kriminal ini malah juga merupakan salah satu tempat praktik kkn. Ya jadi wajar saja jika korupsi masih tetap meraja, lha penjaranya pun senyaman hotel bintang tiga.

KPK, sebagai pihak yang banting tulang, saban hari dan malam bekerja mengungkap kasus-kasus keji pasti merasakan kekecewaan yang amat mendalam dari kejadian tersebut.

Mungkin itu salah satu sebab utama mengapa korupsi masih menjadi primadona di negeri ini. Karena hukuman yang diberikan tidak begitu “menakutkan”. Wacana untuk menyatukan penjara dengan penjara umum dinilai bisa menjadi solusi. Namun saya sangsi, berkaca dari buruknya sistem kepenjaraan di negeri ini, hal tersebut bisa terlaksana. Pertama kali terkuak adalah kamar milik Artalita “Ayin” Aryani  di Rutan kelas IIA, Pondok Bambu, Jakarta Timur, tahun 2010 silam. Kemudian menyusul nama-nama seperti Haryanto Chandra, Freddy Budiman, Agusrin Najamuddin, Gayus Tambunan, hingga yang paling anyar lapas mewah di Lapas Sukamiskin.

Sudah saatnya pemerintah mengambil langkah tegas untuk mengurai benang kusut korupsi dan antek-anteknya di negeri ini. Percuma jika penjara tidak lagi membuat mereka jera. Mungkin sudah saatnya hukuman korupsi adalah dengan mengirim mereka kepada Sang Ilahi.

Korupsi dalam Kacamata Sains Sosial

Menelaah lebih jauh fenomena korupsi dari sisi ilmu sains, mau tidak mau kita harus siap untuk terlibat lebih jauh ke dalam fenomena itu sendiri. Seperti yang diceritakan oleh Celia Moore dalam Psychological Processes in Organizational Corruption, korupsi merupakan sebuah proses dinamika yang kompleks yang terdiri dari compulsion (paksaan), compliance (penyesuaian), contagion(penularan), dan corrosion(pelapukan).

Pada tahap compulsion, korupsi sebagai “moral deterioration” bekerja dari dalam-ke-luar berdasarkan rasionalitas dan etika seseorang, hingga kemudian memberikan peluang untuk terjebak ke dalam proses yang disebut The Slippery Slope. Tahap berikutnya adalah compliance. korupsi sebagai “perversion or destruction of integrity”bekerja dari luar-ke-dalam yang ditunjukan dengan munculnya tekanan dari luar untuk mematuhi si pemegang kekuasaan atau iut menyesuaikan dengan norma yang berlaku di sebuah grup.

Sedangkan di tahap contagion, korupsi merupakan “infection” yang bekerja dari dalam-ke-luar yang merujuk kepada perubahan-perubahan lain yang terjadi di jejaring sosial individu dan secara bertahap merembet masuk ke sistem sosialnya. Di tahap terakhir, korupsi sebagai “oxidation” direpresentasikan dalam corrosion. Merujuk kepada cara tentang bagaimana kekuatan struktural / sistematikal dapat memberikan tekanan eksternal terhadap grup, serta, memberikan insentif kepada grup untuk terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang korup dan semacamnya.

Masih dalam jurnal yang sama, Celia, Menjelaskan mengenai proses The Slippery Slope. Arti dari perumpamaan ini adalah betapa mudahnya seorang individu mengambil langkah-langkah kecil menuju ke akhir yang menyesatkan, dan dengan sulitnya menyadari adanya perubahan dalam perilaku mereka, semakin mempermulus jalan mereka menuju perbuatan rasuah jauh yang lebih besar dan lebih besar lagi.

Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa korupsi tidaklah sesederhana yang kita pikirkan karena melibatkan banyak aspek seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya. Karenanya, membumihanguskan praktik-praktik korupsi tidaklah semudah hanya dengan memenjarakan para terdakwa, tetapi ada unsur-unsur lain yang harus dipertimbangkan baik dari sisi internal individu (compulsion-contagion) dan eksternal (compliance-corrosion).

Photo by Thought Catalog on Unsplash

3,818 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: