Sabda Ayam

Nama dia Ayam, rasi bintangnya Libra. Pernah suatu hari saat beliau minum bareng saya ia bercerita tentang kematian. Menurutnya kematian adalah suatu bentuk penghargaan tertinggi untuk kaumnya. Karena ketika mati, dia dapat merelakan semua tubuhnya untuk makhluk yang lebih membutuhkan. Bulu beliau bisa jadi kemoceng. Cekernya bisa jadi makanan bakar angkringan. Suaranya membantu makhluk lain untuk bangun dikala pagi datang. Dagingnya bisa dijadikan steak dengan harga yang lebih terjangkau. Bahkan tulangnya masih dapat dijadikan kaldu. Kepala beliau pun bisa dijadikan hiasan di atas cerobong asap bersama kepala harimau dan rusa yang diawetkan. Ia tau kalau kematian itu menyakitkan, tapi ia bersyukur kaumnya tidak diberikan akal. Menurutnya akal seperti yang dimiliki manusia mungkin menjadikannya makhluk paling sempurna, tetapi membuat kematian itu menjadi hal yang sangat menakutkan. Menjadikan kematian begitu ribet. Akal merupakan pisau bermata dua kata beliau. Akal membuat manusia harus meraup pahala yang banyak untuk dapat masuk ke surga. Tapi makin hari beliau melihat manusia makin bingung akan maksud pahala itu sendiri. Akal membuat manusia menafsirkan pahala kebanyak persepsi, bahkan banyak manusia juga yang memelintirkan dosa-dosa agar tetap dipercayai menjadi sebuah pahala sambil menikmati indahnya dosa tersebut. Perasaan cinta, marah, sedih dan bahagia itu adalah insting, akal membuatnya menjadi suatu bentuk yang biasa mereka sebut manusiawi. Sayangnya ga semua manusia bisa mengikuti evolusi dari akal, membuat manusia menjadi makhluk yang jauh dari kata sempurna bahkan lebih buruk dari binatang. “Dikasih akal iya, guna kaga” cetus Ayam sambil ngunyah karet gelang.

18,862 kali dilihat, 95 kali dilihat hari ini

0 comments on “Sabda AyamAdd yours →

Tinggalkan Balasan