Referensi Film Korea Pilihan Keluarga Volume 02

Perjalanan kami mulai pada malam hari, 24 Mei 2013. YOGYAKARTA. Itulah tujuan kami, cinta kami, selera kami, semua yang keburu pergi tapibelum sempat kami lepas. Kesepakatan bagaimana kami memulai perjalanan ini sudah didapat pekan kemarin, namun semuanya masih samar samar layaknya Japan Adult Video atau black hole milik Dita. Black hole milik Dita sebenarnya masih berupa misteri samar samar karena tidak seorang pun yang pernah melihatnya secara langsung. Gosip kacangan mulai berkembang setelah ballpoint salah satu teman kami lenyap entah kemana setelah terjatuh ke kolong meja dan kebetulan Dita duduk dibelakangnya. Kami yakin jika memang ada orang yang pernah coba coba untuk melihat black hole milik Dita, ia sudah tak ada di dunia ini lagi. Tapi nyatanya kami naik kelas tujuh dengan lengkap.

 

 
Kembali ke perjalanan spiritual kami ke YOGYAKARTA. Bertolak bareng bareng dengan sekitar 200 juta warga brengsek Jakarta yang juga bikin macet atau mungkin warga norak Bekasi yang baru pada pulang kerja, mulai di Bekasi Barat, kami baru bisa memacu Starlet. Setelah itu bebas hambatan hingga Cileunyi. ada kejadian aneh terjadi di sekitaran Tol Cipularang. Mobil kami tiba tiba mati sendiri di tengah jalan dalam situasi tidak macet, hujan deras seketika dan penumpangnya sedang teriak teriak lantang i want you! i need you! i love you! Sungguh aneh emang tapi untungnya langsung bisa dihidupkan kembali. Kami menduga akibat kegaduhan kami teriak i want you! i need you! i love you! Padahal tak sampainya suara teriakan i want you! i need you! i love you! terdengar ke mobil seberang.

 

 
Terus jalan kami punya mobil hingga jam menunjuk pukul lima pagi untuk jadi waktu yang kami lihat. Saat itu kami baru sampai di Banjar, sebuah kota di Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan  Jawa Tengah, untuk melipir melaksanakan salah satu  perintah Tuhan. Kelar kami bersipuh di hadapan Sang Maha Pencipta, Maha Esa, Maha Kuasa, dan suara suara penyerumu telah diperdengarkan, maka ampunilah dosaku. Amin. Jadi, ada hal yang sangat kami perhatikan saat kami pindah dari wilayah kekuasaan Ahmad Heryawan menuju wilayah kekuasaan Ganjar Pranopo (NB: Saat itu beliau belum menjadi  gubernur jenderal, namun saya lupa siapa nama pemimpin sebelumnya) yaitu jalanannya. Daerah di Jawa Barat yang sudah dekat ke perbatasan memiliki aspal jalan yang bisa dibilang bagus, halus, rata, dan layak untuk road bike, namun setelah kami memasuki wilayah Jawa Tengah, seingat kami daerah sebelum Cilacap, jalannya berubah jadi banyak berlubang. Walaupun memang jarang kami lihat pemukiman penduduk, namun  perbedaan tersebut sangat bisa dirasakan dan mencolok untuk daerah perbatasan antar provinsi.

 

Ada hal yang sampai sekarang masih sangat sulit kami tuangkan menjadi tulisan untuk dibagi kepada khalayak, kecuali mereka mengalaminya sendiri. Kami berempat adalah saksi bahwa tentram itu adalah kata yang masih bisa digunakan untuk mengungkapkan ketenangan batin yang hakiki. Kami ingat, saat itu waktu menunjukan pukul 6.30, masih sekitar perbatasan di Jawa Tengah dan kami mulai memasuki wilayah pemukiman penduduk. Kami melewati jalan yang bisa dibilang sepi dan sudah mulai bagus. Kami melihat beberapa penduduknya baru mulai keluar untuk beraktifitas, seperti anak sekolah yang sedang menunggu angkutan umum untuk menjemput impian mereka, para lelaki yang sudah memanggul cangkul untuk menarik rezeki mereka ke depan pintu, dan ibu ibu yang sedang berjalan tanpa menoleh ke belakang dan terus menghitung langkahnya untuk dijual di pasar. Dengan hanya memperhatikan mereka dari mobil yang melaju tidak terlalu cepat, kami sudah bisa melihat keindahan hidup mereka dalam dalam. Mungkin karena kami yang enam jam lalu masih berusaha untuk menjadi paling benar dan paling penting di jalanan Jakarta yang membuat kami sangat bisa meresapi dan menghargai apa yang sedang kami lewati ini. Namun diluar itu semua, ada hal yang kami rindukan dari langkah ibu ibu tersebut. Jauh dari pikiran wanita mana yang  akan kami persunting tahun depan, atau hanya sekedar wanita mana yang akan kami temui nanti, saat itu kami lebih merasa bahwa tempat ini sudah menjawab ‘iya’ untuk semua tumpukan ragu tentang masa depan. Semua aktifitas penduduk disana sangat menarik perhatian waktu hingga ia lupa untuk terus bergerak maju secara konstan pada dimensi ruang. Langkah ibu ibu itu telah menarik mundur waktu dengan ketenangan rahasia mereka dan kami pun larut ke dalamnya. Rumah rumah penduduk dengan orang tua yang sedang berada di terasnya dan jalanan yang berkelok kelok telah berhasil menghisap ego kami untuk menjadi pemenang walaupun tidak dalam perlombaan. Tempat ini benar benar mengingatkan kami bahwa hidup tidak melulu berupa kesenangan, tetapi juga ketentraman.

 

 
Sebentar kami berhenti untuk ber isti rahat di salah satu SPBU di Cilacap, perjalanan kemudian kami lanjutkan melalui jalur selatan. Berbekal Maps dari Google, kami mempertaruhkan keyakinan kami untuk sampai ke YOGKAKARTA kepada Maps tersebut melalui jalur selatan atau mungkin lebih tepatnya yaitu jalur paling selatan. Alhasil memang benar kami melalui jalur selatan, tapi bukan jalur yang umum digunakan para awak bis malam. nilai lebihnya yaitu kita bisa melihat laut selatan sesekali dari kejeuahan, kurangnya yaitu jarak menjadi makin jauh, jalanan gradakan, tidak bisa ngebut, debu, laut cuma sedikit doang kelihatannya, setelah itu zonk lagi.


ilustrasi Jalur Selatan versi Normal dan berbagai rute lain yang ditawarkan :




ilustrasi Jalur Paling Selatan versi kami (NB : Bahkan di rute lain yang ditawarkan pada versi normal tidak ada) :


Beruntung kami bukan orang orang yang diburu waktu. HA.

Pukul 10.30 kami akhirnya memasuki wilayah YOGYAKARTA bagian selatan, Bantul. Pengemudi satu akhirnya tewas di tempat. Ia sudah mengemudi selama hampir 10 jam. tidak lama setelah itu kami masuk daerah kota, di suatu pertigaan kami melihat marka jalan yang menunjukan jika kami berbelok ke arah kanan maka kami akan tiba di YOGKAKARTA. Saat itu pula sebauh lagu yang sudah kami persiapkan mulai berkumandang keras secara terus menerus. Darah dan Air Mata yang telah keluar terbayar lunas. 25 Mei 2013 pukul 12.00 kami tiba di YOGKAYARTA.



858 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Ladiesman217

Jarang membaca tapi jarang menulis. Doyan tidur.

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: