Motivasi Tai Kucing

Banyak orangyang salah kaprah ihwal motivasi yang sering disamakan dengan kata-kata suciyang turun dari langit guna membantu manusia melewati dan mengatasi setiapmasalah yang ada di muka bumi.

Seiring dengan melonjaknya tingkat populasi orang-orang “bijak” di media sosial, acap kali kita jumpai gambar-gambar dengan kuotasi nan inspiratif terpampang di depan foto wajah-wajah sosok historikal.

Tapi apa dampaknya bagi kita? Apa dampaknya bagi hidup kita?

Tidak ada.

Kuotasi-kuotasi inspirasional itu hanya sekedar menjadi objek suka jempol kita dan sebagai ajang pengakuan sosial bahwa kita adalah individu yang “positif”, yang selalu menjalani hari dengan optimis.

Tapi apa dampaknya bagi kita? Apa dampaknya bagi hidup kita?

Sekali lagi. TIDAK ADA.

Karena kebanyakan orang sering salah kaprah.

Mereka berpikir bahwa motivasi itu adalah sebuah dorongan. Atau sebuah ledakan. Karena itu adalah sebuah ledakan maka akan ada sebuah “momentum”. Momentum dari ledakan tersebut, yang menghempaskan kita puluhan, bahkan ratusan meter ke depan.

Namun setelah momentum itu habis, habis juga daya dan laju. Serta merta selesai juga perjuangan kita.

Contoh yang paling klasik sekaligus simpel.

Motivasi untuk menurunkan berat badan. Skenarionya seperti ini:

Di suatu sore, ketika tengah menunda-nunda tenggat pekerjaan, tiba-tiba kita tersasar ke sebuah artikel tentang diet yang membahas tentang tips dan trik untuk membakar lemak-lemak di sekujur tubuh dengan gerakan yang simpel, tanpa harus ke gym.

Semua serba mudah, semua serba praktis. Hanya tinggal makan dada ayam rebus untuk makan siang, dan buah untuk makan malam. Sedangkan sarapan boleh makan roti, asalkan roti gandum.

Olahraganya pun sangat simpel. Jumping jack, push up, sit up, leg up, dan lainnya.

Kita pun kepincut. Ingin memiliki badan yang atletis bak model susu Elemen.

Merasa semua serba mudah, serba praktis.

Kita pun kepincut. Merasa sanggup melakukannya. Menganggap bahwa makan dada ayam rebus untuk makan siang adalah hal yang mudah. Melaksanakan satu set kardio di pagi hari sebelum berangkat ke kantor adalah hal yang sepele.

Moral kita membumbung tinggi, sementara motivasi untuk memiliki bentuk tubuh yang ideal meledak-ledak.

Sore itu juga, dengan berbekal sedikit pengetahuan dari artikel tersebut, kita berjanji untuk berubah. Kita mulai menghitung asupan kalori sehari-hari sampai mulai menjadwalkan menu olahraga di ponsel canggih kita.

Dengan harapan, motivasi tersebut bisa membawa mereka mencapai tujuan akhir mereka.

Tapi seperti yang bisa kita tebak, sebagian besar dari mereka yang mengandalkan motivasi gagal di tengah jalan.

Celakanya, hampir sebagian besar orang mengalami hal ini. Begitu juga saya.

Mengapa bisa seperti itu?

Self-Determination Theory

Kita harus terlebih dahulu mengetahui apa itu “motivasi”. Edward L. Deci dan Richard M. Ryan (1985) mengemukakan teori tentang Self-Determintaion Theory (SDT) yang merupakan sebuah teori tentang kepribadian, motivasi dan fungsi optimal pada manusia.

Singkat cerita, teori ini mengungkapkan bahwa ada dua sumber motivasi yaitu dari motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Motivasi intrinsikadalah jenis motivasi yang timbul dari dalam diri sendiri. Motivasi ini bisa timbul karena adanya “kecocokan” antara apa yang kita lakukan dengan nilai yang kita pegang. Dengan kata lain, kita melakukan hal yang pada dasarnya kita sukai. Bukan karena dorongan dari faktor eksternal seperti reward (hadiah)ataupun punishment (hukuman). Seperti main gim, tidur siang, atau bermain musik.

Sebaliknya, motivasi ekstrinsikadalah motivasi yang muncul akibat dorongan dari luar. Motivasi ini muncul karena kita mengharapkan untuk bisa mendapatkan/menghindari hal-hal tertentu. Contohnya, seorang pegawai bekerja dengan giat demi mendapatkan kenaikan gaji, atau seorang pengendara motor yang mengenakan helm karena takut ditilang.

Karena itulah mengapa, diet kita tidak kunjung menuai kesuksesan. Sebab, pada dasarnya kita sangat menyukai makan makanan cepat saji nan lezat. Dibandingkan dengan makan makanan sehat, seperti buah dan sayuran, yang memberikan vitamin serta serat yang dibutuhkan oleh tubuh yang sejujurnya kita benci.

Motivasi intrinsik kita tidak selaras dengan motivasi ektrinsik.

Kita mau mempunyai bentuk badan yang ideal dan aduhai, namun jauh dari lubuk hati yang paling dalam, kita menjadikan indomi sebagai pilihan ketika lapar menyerang di tengah malam.

Nah, salah satu cara yang bisa ditempuh guna mencapai cita-cita kita adalah dengan “menyamakan” motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang sering disebut dengan istilah integrated motivational outlook. Hal tersebut bisa terwujud hanya jika “nilai” dari motivasi intrinsik kita sama dengan motivasi ekstrinsik.

Contohnya, seorang entrepreneur yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran akan sekuat tenaga menjalankan bisnisnya dengan baik dan menjauhi setiap kegiatan yang menuntut untuk melakukan tindakan tidak terpuji.

Namun jangan terkecoh, motivasi ekstrinsik tidak melulu soal hadiah, hukuman atau tekanan. Faktor-faktor seperti itu hanya akan membuat performa individu hanya mencapai tahap sub-optimal. dan tentu saja, keadaan itu tidak akan berlangsung lama karena individu akan merasa “terpaksa” ketika menjalankan tugasnya.

Lalu bagaimana kita setidaknya menyadari apakah motivasi intrinsik dan ekstrinsik kita sejalan?

Kedua motivasi tersebut sangat dipengaruhi oleh perilaku dan kebiasaan kita. Dan hal tersebut mendorong kita untuk menghadapi tiga kebutuhan dasar yang diidentifikasi oleh model SDT.

Yang pertama adalah kebutuhan terhadap autonomy (kebebasan). Setiap individu selalu dihadapkan kepada pilihan setiap harinya. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kita bisa memilih untuk bisa bangun siang, kita bisa memilih untuk mengenakan baju apa, bahkan (percaya atau tidak) kita bisa memilih tindakan apa yang bisa kita lakukan ketika seseorang meludahi wajah kita selain balik meludahinya.

Kita harus mampu bertanya kepada diri sendiri, mengenai, “Pilihan apa yang saya punya?”, sekaligus harus mampu mengulas ulang mengenai pilihan-pilihan yang telah kita buat dengan cara bertanya, “pilihan-pilihan apa yang saya buat hari ini?”

Hal tersebut dapat memberikan kita gambaran bahwa, sebenarnya, kita mempunyai “pilihan” tentang bagaimana kita menjalani hari. Namun karena satu dan lain hal, kita memutuskan untuk membuat “pilihan” tersebut.

Berikutnya adalah kebutuhan terhadap relatedness (kesamaan). Kita mencari kesamaan nilai dari motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Ini adalah salah satu langkah yang cukup krusial. Persamaan nasib dan latar belakang adalah salah satu alasan yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia untuk keluar dari belenggu kolonial. Setali tiga uang dengan menyamakan motivasi intrinsik dengan ektrinsik.

Dalam konteks ini kita bisa bertanya kepada diri sendiri tentang, “Nilai seperti APA yang saya pegang?” lalu kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan, “Bagaimana cara saya mengimplementasikan nilai-nilai saya dengan apa yang saya lakukan untuk mencapai tujuan?” Jika kalian masih belum mempunyai nilai diri, segeralah tentukan. Karena itu akan sangat membantu.

Dan terakhir adalah kebutuhan terhadap competence (kompetensi). Kompetensi ini berkaitan dengan reward. Tak bisa dipungkiri bahwa hampir seluruh motivasi manusia dimotori oleh perasaan “ingin mendapatkan imbalan”. Dan bagi mereka yang menyadarinya, “hadiah” dalam bentuk peningkatan kompetensi adalah bentuk imbalan yang paling berharga.

“Apa yang sudah saya kerjakan hari ini?”, “Apakah hal yang saya kerjakan hari ini bisa meningkatkan kompetensi saya?”, “Bagaimana saya bisa menjadi lebih baik dari kemarin?” Memahami bahwa apa yang kita kerjakan juga turut meningkatkan kompetensi kita sebagai individu adalah cara lain untuk bisa menyamakan motivasi intrinsik dan ekstrinsik.

350 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: