Menuju Permulaan

Suatu sore di awal tahun, secangkir kopi panas yangdiiringi angin khas senja hari, dan sebuah jiwa yang mengajak raga untuk pergi ke tempat yang baru. Berawal dari sebuah obrolan ringan tentang betapa indahnya dunia untuk dijelajahi bersama, hingga sebuah kesepakatan bahwa kali ini sang jiwa berkata yang sejujurnya, kami butuh membawa raga kami ke suatu tempat yang tak akan kami lupakan.
Kami butuh kembali ke awal. Ya, seperti Desember yang telah kembali pada Januari, kami butuh permulaan yang baru. Seketika muncul pertanyaan baru di atas pertanyaan yang belum terselesaikan, “apakah arti sebuah kata ‘awal’ itu sendiri?”. Awal, permulaan, titik baru, nol. Benar sekali, 0! Titik 0 mdpl adalah tujuan kami. Di mana kami dapat menemui titik tersebut? Tentu saja di pantai dengan lautnya. Setelah semua kesepakatan menjadi satu. rencana segera disiapkan.
Kendaraan telah siap, rencana telah matang, 9 orang pasukan telah yakin jiwanya, siap bertempur melawan rasa penasaran seperti apa rasanya kembali ke awal. Jumat tengah malam di bulan Januari kami memulai perjalanan kami, meninggalkan rumah dan menitipkan kota tempat tinggal. Meminta doa agar pencarian kali ini dapat kami tuntaskan. Saat kendaraan mulai dijalankan, doa pun mulai kami panjatkan.
Pantai Rancabuaya, Garut Selatan adalah tujuan kami, medan perang kami, sebuah pantai ditepi pegunungan yang menjanjikan pemandangan pesisir panjang tanpa hingar bingar turis. Sebuah janji yang patut kami percaya, rangkaian kata-kata yang sanggup membuat kami terus membayangkan betapa nikmatnya menyeduh secangkir kopi panas bersama sahabat dan melontarkan guyonan-guyonan khas kami di antara gunung dan pantainya. Merenjana di dalam kepala.
Bernyanyi riang sepanjang perjalanan tak lantas membuat kami berhenti menunggu. Tak lantas membuat kami lupa tujuan kami. Beberapa gunung telah kami puncaki, beragam kota telah kami lintasi. Hingga kami tiba di gunung terakhir sebelum kami sampai di tujuan. Gunung yang menyambut kami dengan nyiurnya yang melambai seakan mengucapkan selamat datang di pesisir dan sekaligus membuat kami bertanya-tanya, apakah 237 kilometer telah kami lalui? Apakah kami benar-benar sedikit lagi akan sampai?
Beberapa menit setelah pertanyaan terlintas di kepala kami, tepat di akhir tanjakan di puncak gunung, kami melihat pemandangan yang tak akan kami lupakan. Terlihat sebuah pemandangan pantai panjang dengan ombaknya yang seakan membentuk Taian di ujung mata kami. Riang, sorak sorai tak bisa ditahan, kami hentikan sejenak perjalanan kami untuk memandangi dan menyimpan sebanyak-banyaknya memori tentang apa yang baru saja kami lihat. Indah. Sekejap membebaskan pikiran kami dari terungku putaran roda dan debu jalanan  ibukota.
Setelah decak kagum dirasa cukup, segera kami menuruni gunung. Jalan aspal yang dihimpit gunung dan pantai pun sudah bukan sekadar kata-kata, kami ada di sini, kami ada di atasnya.
Gedung-gedung beton tergantikan pohon kelapa yang menjulang. Suara klakson kendaraan-kendaraan yang berhimpitan tergantikan desir ombak yang lembut menabrak pantai. Pertokoan di tepi jalan yang penuh dengan kerumunan sekarang diganti oleh pemandangan sawah luas dengan gubuk kecil milik seorang petani di tengahnya. Tempat ini adalah antonim, sebuah tempat untuk melepaskan.
Hanya ada satu jalan beraspal di tempat itu, jalan yang menyambung ratusan kilometer rumah kami dengan surga kecil di selatan Jawa Barat ini, satu seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jalan aspal panjang yang membelah pegunungan dan laut yang kami lalui. Sepi, hening, tenang, menuntun kami mengikuti arah angin pagi yang bertiup dari arah laut, membawa aroma samudera ikut serta dalam tiap hembusannya.
Menelusur kami ke arah pantai, keluar dari jalan aspal, sedikit melambat sembari mencari tempat berteduh dan sekadar merebahkan kaki. Dapatlah sepasang kamar di lantai 2 sebuah rumah milik sepasang suami istri  yang memang sengaja dibangun untuk disewakan untuk para pencari plesir seperti kami. Sebuah rumah tepat di depan pantai, dengan balkonnya yang tepat menghadap ke arah pesisir, persis seperti yang kami inginkan.
                Hal pertama yang muncul di pikiran saya adalah memesan secangkir kopi panas dan membiarkan asapnya membawa segala pikiran tentang kota terbang dan menghilang membaur bersama udara, selagi saya menyeruput kental hitamnya yang sekental persahabatan yang telah sejarahnya telah kami ukir semenjak kecil.
                Di tempat inilah kami bercengkerama dengan alam, di tepian daratan. Berlari ke arah laut sambil bertelanjang dada, meninggalkan sejenak segala penat urusan ibukota. Namun tujuan kami belum usai, satu lokasi yang kami incar dan kami perhatikan juga sebagai tujuan utama kedatangan kami ke tempat ini. Sebuah bukit di tepi pantai di tepi jalan yang pagi tadi kami lewati, sangat menggoda untuk disambangi.
Menuju kehampaan
                Setelah melontarkan beberapa pertanyaan kepada sang pemilik penginapan, kami pun mendapatkan rute menuju ke tempat tersebut. Beranjak kami menuju ke sana pada senja hari. Tidak sampai setengah jam, sampailah kami di tempat tersebut, dan tak pelak langsung kami dibuatnya kagum. Sebuah bukit hijau berlatarkan pegunungan yang juga tak kalah hijaunya, menghadap ke arah laut lepas dengan garis horizon Samudera Hindia menjadi batasnya. Layaknya sebuah balkon alam yang seperti sengaja didesain oleh Tuhan sebagai tempat untuk memahami bagian bumi pesisir pantai selatan dengan segala panorama yang menghiasinya, bukit Guha, nama tempat itu. Tak banyak kami berbicara, mata dan jiwa yang lebih banyak menikmatinya. Terduduk kami di tepian melihat ombak beradu merdu dengan burung-burung sambil meresapi jingga tenggelamnya sang matahari.
Alam jadi satu
                Malam hari telah menjelang, adzan magrib telah berkumandang dengan lantang. Kami pun kembali menuju penginapan. Saat hari tak lagi transisi, kembali kami ke bantaran pantai untuk menikmati malam, memesan beberapa minuman dan kudapan untuk menemani kami menikmati sinar bulan yang saat itu sedang temaram. Duduk melingkari sebuah lilin, kami saling berbagi cerita masa lalu sekaligus tanpa sadar sedang mengukir cerita masa depan.

 

Perjalanan ini bukanlah yang pertama, dan kami tak ingin menjadi yang terakhir. Ucap syukur kami kepada Tuhan yang telah memberikan kami kesempatan dan kebersamaan dalam kehangatan persahabatan. Terima kasih kami untuk tempat ini yang telah melengkapi pencarian kami seperti apa rasanya kembali ke awal. Di pagi hari mengikuti arah angin laut, kami kembali masuk ke daratan, pulang ke kota kami tanpa lupa meninggalkan sebuah janji, bahwa satu hari nanti, kami akan kembali lagi.
 
Sehangat kopi di senja hari
 

571 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: