Memetik Bunga Akhir Zaman

Ha? Kau benar-benar ingin tahu apa yang akan kulakukan untuk menyenangkanmu? Kau bercanda, bukan? Tidak? Baiklah. Kalau begitu bersiaplah karena kau pasti akan terkejut mendengarnya. Bersiaplah. Akan kuceritakan sedikit kisahnya.

Aku akan menyelipkan setangkai bunga terindah di alam semesta, di telingamu. Bukan Mawar, Melati ataupun Tulip. Adalah bunga yang jauh lebih indah dari seluruh bunga yang ada di muka Bumi. Lebih harum dan tentu lebih cemerlang dibandingkan bunga manapun. Meminjam istilah Kakek Pramoedya, bunga ini akan kusebut “Bunga Akhir Zaman”. Sebuah bunga, yang sebegitu berseri dan begitu gemilang, yang menandakan berakhirnya sebuah zaman dan lahirnya sebuah zaman baru.

Bibitnya kucuri langsung dari peti harta milik Rahwana yang tadinya akan dia persembahkan untuk Dewi Shinta. Beruntung aku masih bisa mencurinya. Namun bibit itu tidak akan kutanam di sini, di Bumi, tidak, karena aku takut nanti seluruh lebah, tawon, kumbang dan burung kolibri akan mengerumuninya kelak saat ia tumbuh. Maka, kutitipkanlah bibit itu pada Gundala untuk kemudiannya dibawa dan ditanam di atas tanah Venus. Aku kuatir jika bibit itu kutanam di tanah Mars, Bulan akan dapat melihatnya dan cemburu dengan keindahannya ketika mekar.

Saban hari tak habis pikir, tak habis cemas, merenungi bagaimana keadaan bakal kembang itu. Karena itu Kupanggil Ifrit dari inti perut bumi dan kuutus untuk mengurus bunga itu. Merawatnya, menyiraminya, menjaganya dari gulma-gulma yang merusak. Tapi kurasa semua itu masih kurang, tak cukup, invalid. Karenanya pergilah aku keliling dunia untuk bertemu dengan orang-orang suci dan saleh. Dari dataran tinggi Tibet bertemu Dalai, lalu ke Mekah bertemu keturunan Rasul, lalu ke Vatikan bertemu Paus, lalu ke Utara Jepang bertemu dukun Ainu. Semua itu hanya demi untuk meminta doa dan jampi supaya terjaganya bakal bunga ini.

Minggu-minggu sudah lewat, bulan-bulan pun juga. Pohon Rambutan di depan rumah sudah berbuah. Pohon Singkong di Kebon Pak Amat pun sudah panen dan dijual di warung dekat pengkolan jalan. Bersamaan dengan itu semua, akhirnya, tiba juga waktu ini. Mekar sudah bungaku, Bunga Akhir Zaman. Berbeda dengan sebelumnya. Khusus untuk momen ini aku tidak akan mengutus siapapun untuk mengambilnya. Akulah seorang yang akan pergi, ke Venus, dan memetiknya yang kemudian akan kubawa pulang untukmu.

Aku berpikir, dengan apa aku akan pergi ke sana? Semula aku berencana untuk meminjam Sputnik atau Soyuz, buatan negeri Beruang Merah, efisien, nol eror dan tangguh. Namun entah mengapa, belakangan, aku sering tiba-tiba merasakan ikatan batik yang kuat dengan Voyager. Ya sudahlah. Yang manapun sebenarnya tidak masalah (akhirnya aku memilih Voyager).

Aku berangkat pagi-pagi betul sebelum ayam-ayam menyiapkan kokoknya. Tentu saja setelah mendapatkan izin dari Ayah dan Ibu supaya perjalanan berlangsung dengan lancar dana aman. Tak lupa juga aku berdoa kepada Tuhan YME untuk keselamatan ku. Kunyalakan roket pendorong tanpa ragu, kurasai seluruh pesawat bergetar hebat. Dan dalam satu sentakan keras membawaku terbang tinnggi. Jauh, jauh, tinggi. Dalam hitungan kurang dari tiga detik roketku sudah menembus kecepatan Mach 1, lalu menembus Mach 4 di tiga detik berikutnya hingga mencapai kecepatan maksimal hanya dalam dua puluh detik. Dengan cepat menembusi setiap lapisan atmosfer terus melaju sampai keluar lintasan orbit bumi.

Dari arah timur, di kejauhan, aku dapat melihat Wahana Antariksa Internasional (ISS) terapung-apung di ruang hampa. Dan jujur saja, sebenarnya ada sedikit keinginan untuk sekedar mampir kesana saat itu. Yah, hanya sekedar mampir untuk menikmati secangkir kopi, sebatang rokok dan mengobrol ringan soal perspektif tentang kehidupan dari atas sini. Terdengar sangat menyenangkan. Minum kopi, merokok, dan mengobrol santai dengan Bumi sebagai pemandangan di luar jendela. Dan akan jadi sempurna jika ditambah sepiring pisang goreng atau uli bakar.

Tapi tidak. Aku tetap bersikukuh pada pendirianku, pada tujuan awalku. Bahwa bunga itu harus diambil hari ini. Tidak bisa besok, tidak bisa lusa. Harus hari ini, tidak bisa tidak. Karena itu dengan segera aku mengarahkan roketku menuju Venus.

Tidak lama, akhirnya aku sudah bisa melihat Venus di ujung cakrawala. Segera kutakar dan kuhitung kecepatan, sudut elevasi dan posisi roket supaya bisa menembus atmosfer planet ini dengan selamat. Proses pendaratannya sendiri tidak terlalu mulus menurutku. Wajar saja karena ini kali pertama aku berkunjung ke Planet ini, kau tahu? Beruntung tidak ada kerusakan serius pada tubuh ataupun mesin roket.

Tepat sebelum hari keberangkatan aku menyempatkan diri untuk bertemu dengan Gundala untuk menanyakan dimana tepatnya Ia menanam bibit tersebut karena aku tidak mau bersusah payah mencari sebatang tanaman di sebuah planet yang tidak kukenal. Gundalan berkata bahwa, supaya mudah ditemukan Ia menaman bibit itu di tempat yang mudah dikenal. Di sebuah puncak gunung purba tertinggi yang ada di Planet Venus. Kukira akan butuh waktu yang cukup lama untuk menemukannya, tapi ternyata, aku mendarat tepat di puncak gunung purba itu!

Dan tidak jauh dari tempatku berdiri aku dapat melihat bunga itu. Bunga Akhir Zaman-ku. Yang ku rawat seperti anakku sendiri, dengan darah dan keringat. Karena itu kurasakan perlu untuk memberikan sebuah penghormatan terakhir sebelum bunga itu kupetik. Sebuah penghormatan sederhana yang sudah kupersiapkan dari jauh-jauh hari. Kuambil gitar usangku dari dalam roket dan aku menyanyikannya satu-dua buah tembang yang sudah kutentukan sebelumnya. Ya, aku menyanyikan beberapa buah lagu kepada bunga itu. Hebat bukan? Karena, menurutku, aku harus membuat bunga itu sedikit bahagia, setidaknya, sebelum akhirnya kupetik.

Lagu yang kumainkan adalah Bunga-nya Banda Neira, Desember-nya Efek Rumah Kaca serta Sweetest things-nya Camera Obscura. Walaupun sebenarnya aku pun sadar kalau suaraku tidak merdu-merdu sekali. Tapi itu tidak jadi masalah. Karena yang dihitung adalah usaha dan jerih payahnya. Aku tahu betul itu. Bunga itu pun sadar akan hal itu.

Sesaat sebelum kupetik kubisikan pada bunga itu, “ Kuharap bunga ini bisa membuat Adinda senang, sekurang-kurangnya tersenyum..” kemudian aku kembali ke Bumi.

Dan sekarang Kau pasti akan bertanya dimana bunga itu? Sebentar dulu. Karena waktu itu aku berangkat dengan menggunakan properti kepunyaan NASA, maka, sebagai gantinya mereka bermaksud untuk meminjam bunga tersebut untuk diteliti. Karena menurut mereka bunga itu sungguh indah, sungguh cantik. Tidak ada intan permata atau berlian ataupun zamrud yang sanggup menandingi keelokannya. Dan mereka ingin tahu alasannya. Sampai kapan mereka akan meminjamnya? Entahlah. Yang jelas mereka akan menghubungiku jika kepentingannya telah selesai.

Karena itu, sebagai ganti karena aku tidak bisa memberikan bunga itu saat ini, bagaimana jika kita makan malam sajalah di Bubur Ayam Cianjur kesukaanmu? Mungkin kita bisa mampir ke Warung Kopi setelahnya jika belum terlalu larut. Aku yakin itu akan membuatmu senang, sekurang-kurangnya tersenyum. Namun, jika dengan itu semua kamu masih belum bisa senang, maka aku tidak tahu lagi apa yang bisa.

 

*image from Pinterest.com

 

256 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: