MEMEKNYA BASAH BANGET!

laper euy

makan lah! Malah curhat

abis duit gua, tanggal tua men, tipis

yeuh, memek mulu sih lu!

Percakapan di atas tampaknya begitu kasar, bisa jadi jorok meskipun mereka sama sekali tidak berbicara sambil lap-lap ingus dengan kerah baju atau berak di celana. Percakapan itu bisa juga memiliki konotasi yang dapat membawa pikiran kita kepada penilaian atau stereotip bahwa Si Laper adalah pribadi yang gemar melakukan petualangan di dunia lendir dan sengaja mengalokasikan dana yang ia punyai, bahkan rela kehabisan dana untuk makan, untuk itu. Atau, teman yang meresponnya hanya melemparkan guyonan kepada Si Laper yang memang pikirannya tidak jauh-jauh seputar selangkangan. Entahlah. Yang jelas, dalam nilai-nilai berkomunikasi di masyarakat, percakapan tersebut dinilai tidak pantas atau tidak sopan, lebih-lebih apabila digunakan dalam ruang publik. Tapi, sebentar – sebentar, mungkin saja ada sesuatu yang kita lewatkan.

Alkisah, dalam lingkaran persahabatan yang saya miliki, kata memek dapat dibilang populer – atau sekurang-kurangnya sekali muncul dalam sekali kongko – begitu pun dengan kata-kata segenusnya. Hingga suatu waktu ada semacam keengganan bagi beberapa individu untuk melulu mengonsumsi istilah tersebut. Mungkin hal itu berbanding lurus dengan nilai angka yang semakin tinggi yang digunakan sebagai penanda usia. Tentu saja, itu baru asumsi, mungkin butuh karya tulis ilmiah setingkat disertasi untuk membuktikan gejala tersebut. Atau mungkin tidak perlu sama sekali.

Namun begitu, ada individu yang kukuh mempertahankan keberadaan kata memek. Ia berpendapat bahwa memek merupakan anggota tubuh sama seperti kepala, tangan, dan kaki. Tak ada ubahnya apabila kita mengucapkan “dasar tangan lu!” atau “woi, kaki!”, sehingga pada dasarnya ucapan “ah, memek!” sebenarnya biasa saja. Sungguh, pernyataan yang sarat filosofis. Ia tidak hanya mempertahankan kedudukan kata memek sebagai anggota tubuh melainkan juga menyelamatkannya dari jurang persepsi nilai dan moral. Pada waktu itu, kami kembali ke nol. Muncul sinar putih dari latar belakang masing-masing tubuh kami, hingga akhirnya tubuh kami melebur pada sinar putih itu.

Persoalan kata memek ada pula terjadi di grup whatsapp – sayangnya bukan grup whatsapp keluarga. Saya tidak ingat apa persisnya pembahasan saat itu, yang jelas ia – masih orang yang sama yang memberikan pencerahan kata memek – menyampaikan definisi kata memek dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dimana hal tersebut semakin membuktikan kalau ia benar-benar pencerah. Memang tepat sudah julukan yang kami sematkan padanya. Namun, saya tidak dapat memberitahu apa julukan itu sebab tidak ingin dituduh menistakan agama. Meskipun tidak bakal ada juga yang menuntut kami, lagipula tidak ada satupun dari kami yang menduduki jabatan penting dalam struktur kenegaraan, seperti gubernur misalnya.

Keberadaan kata memek diakui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia selaku organ pemerintahan yang menaungi persoalan bahasa, tepatnya diemban dan dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Ya, memek secara resmi merupakan bahasa Indonesia dan ia memiliki makna yaitu merengek-rengek. Sebentar, sebentar. Iya, sudah dicek ulang dan benar artinya memang merengek-rengek. Bukan alat kelamin perempuan, vagina, nonok, meki, atau itulah. Coba saja tengok memek.

Memang, terdapat juga makna yang dianggap sebagai alat kelamin perempuan namun diterakan pula keterangan bahwa makna tersebut diambil dari percakapan dan digunakan dalam ragam takbaku. Artinya, makna tersebut bukan makna asli yang dikandung oleh kata yang dimaksud, dalam hal ini, memek.

Situs KBBI daring itu adalah laman resmi pencarian kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan menggunakan basis data dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima tahun terbitan 2016, edisi terbaru. Apabila menengok KBBI daring ini, dimana basis data yang digunakan adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga tahun terbitan 2005, tidak terdapat makna atau keterangan seperti yang populer diketahui – yang juga muncul di edisi kelima. Jadi, sepertinya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa kini cenderung permisif ketika menyusun edisi kelima sehingga memasukkan makna populer tersebut – dengan menambahkan keterangan takbaku.

Yah, mungkin pembelajaran bahasa Indonesia di buku paket pelajaran SD bisa ditambahkan contohnya menjadi:

ini Budi

Budi bermain bola

Budi tidak jadi bermain bola

Budi memek pada ibunya

Atau bagaimana Erlangga saja.

Setidaknya, apabila lain waktu ada percakapan yang terdengar kira-kira seperti:

duh, pusing nih, bro

kenapa lu?

lagi penat aja, bro

eh, mau yang enak-enak ga?

apa tuh apa??

tuh, cewek itu tuh, memeknya basah banget!

Jangan terburu-buru mengeluarkan ponsel untuk mencatat nomor ponsel si perempuan untuk diproses lebih jauh, mungkin maksudnya, si perempuan kalau merengek-rengek sampai basah wajahnya karena menangis tersedu-sedu. Merengek mau apa belum tahu, sih.

Kredit sepenuhnya untuk Suryadi, Duta Kata Kasar Negeri Kayangan.

2,896 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: