Melihat Sejarah

((Bosccha)) “..Melihat langit itu adalah melihat sejarah…”

 
Kata salah satu guide pada kunjungan terakhir gue ke Bosccha. Dan seketika itu juga gue takjub. Bosccha, dibaca “bos-ka” bukan “bos-sya” atau “bo-sye” (Iya, gue tau, dulu Sherina sama Saddam nyebutnya “bos-sya”. Tapi gapapa, namanya manusia tempatnya hilap dan salah), adalah sebuah laboratorium astronomi terbesar di Indonesia. Bertempat di daerah Lembang, Bandung,
 
kini tempat ini sudah menjadi kepemilikan Institut Teknologi Bandung. Dan tentu saja sekarang telah diokupansi oleh jurusan Astronomi dari almamater yang sama. Baru-baru ini gue berkesempatan untuk studi tur kesana. Yah ga studi tur sih sebenenrnya. Tur aja.
 
Karena kemarin gue ga cuma sekedar dateng dan foto-foto dihalamannya aja. Tapi juga turut serta dalam tur pengenalan Laboratorium Observasi Bosccha, melihat sejarah, mengikuti simulasi dan materi singkat tentang alam semesta juga ikut mengintip langit melalui teleskop-teleskop yang ada disana.
 
Mengunjungi dan menjelajahi Bosccha lebih jauh, lebih dalam. Seru sekali. Sekalian napak tilas film Petualangan Sherina juga sebenernya.
 
Pertama-tama kita akan diajak untuk mengunjungi Teleskop tersbesar yang ada di Laboratorium Observasi Bosccha bernama teleskop Zeiss (dibaca “ceis”). Teleskop ini adalah teleskop refraktor ganda yang memiliki fungsi utama untuk mengamati bintang ganda pada suatu sistem tata surya.
 
Memiliki dua lensa dengan masing-masing diameter 60cm, dengan berat 12 Ton dan panjang 11 meter. Teleskop ini ditopang oleh kerangka-kerangka besi dan bisa digerakan secara vertikal dan horizontal. Bintang-ganda. BINTANG-GANDA. GILA. Ga setiap hari lo denger istilah “bintang ganda”.
 
Tapi sayangnya pengunjung umum tidak dapat melihat teleskop ini dioperasikan, apalagi menggunakannya. Hanya para astronom dan peneliti yang boleh menggunakannya. Disini kemudian perlahan timbul penyesalan tentang mengapa dulu sewaktu kuliah tidak tertarik untuk mengambil jurusan astronomi sebagai program studi (walaupun jawabannya kepalang gampang. Karena saya dulu mengambil jurusan sosial ketika di bangku SMA. Well, dan karena nilai kimia saya yang anjlok laksana KRL).
 
Juga hal lain yang gue inget adalah bahwa dulu Sherina nyium Saddam disini, setelah Saddam asmanya kambuh, dan kemudian Sherina cabut lewat lobang ventilasi. Emang dasar perempuan.
 
Berikutnya kita diajak untuk mendengarkan presentasi tentang sejarah singkat tentang Bosccha dan simulasi tentang alam semesta. Bosccha, yang awalnya bernama Bosscha Sterrenwacht, didirikan dahulu pada tahun 1923 sampai rampung di tahun 1928 oleh. Lembang sendiri sengaja dipilih karena letaknya yang sesuai untuk pengamatan benda-benda langit karena jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk.
 
Tujuannya adalah sebagai pusat penelitian keastronomian (di) Indonesia, walaupun bahkan dahulu kosakata “Indonesia” sendiri masih belum tergagas ketika Bosccha dibangun. Dan seiring dengan berjalannya waktu Laboratorium Bosccha diakuisisi oleh Indonesia kemudian jatuh ke angan ITB disekitar tahun 80an.
 
Kita juga diperlihatkan sebuah video yang menggambarkan komparasi tentang luasnya alam semesta. Videonya singkat, cuma lima belas menit, tapi sangat berkesan. Kita akan diajak terbang jauh meninggalkan Bumi, jauh menembuh tata surya, naik terus menembus gugus-gugus tata surya, jauh sampai ke bagian pinggiran alam semesta yang masih belum dipetakan. Dramatis banget asli. Cukup untuk membuat seorang laki-laki dewasa berkaca-kaca. Sayup-sayup gue juga denger suara sesenggukan dari Bapak yang duduk di belakang gue. Nangis kayaknya, tapi ga nangis-nangis amat sih.
Kemudian dalam bagian tur yang terakhir para peserta diberikan kesempatan untuk mengintip Mars, Jupiter dan Saturnus melalui teleskop-teleskop portabel dan Teleskop Bamberg yang bisa kita gunakan untuk meneropong.
 
Dan seperti yang telah diperkirakan, antusiasme para peserta untuk sekedar menjajal teleskop-teleskop tersebut sangat tinggi. Antrean di setiap teleskop sudah mengular panjang layaknya antrean di pintu tol cikampek kala musim mudik. Tua, muda semuanya turut mengantre dengan gembira namun tetap tertib. Kebetulan juga langit sedang nampak cerah jadi proses peneropongan bisa berjalan lancar.
 
Mars kelihatan gagah dengan warna merah-oranye dominan yang menyala dengan sangat jeli. Jupiter nampak menawan gradasi garis-garis krem-putih, begitu pula dengan mata pusaran tornadonya yang abadi. Dan seperti biasa, Saturnus tetap terlihat elegan dan magis dengan cincinya yang melingkar diagonal.
 
Kesempatan untuk bisa lebih intim dengan dunia
Buat gue, kunjungan ini bukannya hanya untuk menghilangkan dahaga akan pengetahuan tentang kelangitan. Tapi juga sebagai ajang untuk ziarah ke pusat astronomi terbesar di Indonesia. Juga sebagai sarana untuk selalu mengingatkan manusia bahwa kita layaknya hanya debu mikroskopik di tengah belantara semesta.
Tur sendiri selesai di sekitar pukul 8 malam waktu sekitar. Kondisi jalan udah bener-bener gelap. Langit cerah, jadi sebelum balik kita sempet nongkrong sedikit, tiduran sambil ngeliatin langit yang pelan-pelan semakin gelap, semakin dingin, semakin tersesat di antariksa.
Teleskop Zeiss. Credit: Perdana
Teleskop Bamberg. Credit: Perdana
  

226 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: