Lalu Siang, Lalu Malam

 

PRAKATA: Tulisan dibawah adalah hasil interpretasi lagu “Layak Dikenang” dari The Usptairs oleh penulis. Sila disetel terlebih dahulu, lagunya, sebelum membaca untuk pengalaman maksimal

 

 

“Heeii” sahutku setengah teriak
” …. ” dia tidak mendengar seruanku
“Aniin..!!” kali ini kupanggil dengan suara yang lebih keras. Juga dengan namanya.
Kuperhatikan dia masih celingukan mencari asal dari sumber suara. Yah memang cukup mustahil untuk melihatku di tengah kerumunan ini. Segera kudekati dia dan kusentuh lengannya.

“Heh. Dipanggilin kan dari tadi”
“Haaiii. Maaf Aku ga denger. Abis berisik banget” ujarnya menunjuk telinga
“Kirain lo ga bakal dateng” ujarku. Sumringah. Masih setengah terkejut
“Abis lagi bosen di rumah”
“Trus kenapa kesini? Nanti jadi tambah bosen kan”
“Hahaha. Kan disini rame”
“Emang kalo rame jadinya ga bosen?”
“Jadinya ga sepi. Trus lupa sama bosennya”
“Emang apa hubungannya?”
“Ga ada sih. Hahaha”

Jujur saja, sebenarnya aku masih tidak percaya dia mau menyempatkan diri untuk datang ke acara ini. Dia pernah bilang bahwa dia tidak terlalu menyukai kegiatan yang disesaki oleh banyak orang, terlebih bising. Aku tahu itu. Pernah sekali waktu dia bercerita kepadaku.

 

Tapi kali ini berbeda. Walaupun aku tahu mengenai hal itu, ketidaksukaannya akan keramaian dan kebisingan, aku tetap berkeras mengajaknya. Karena aku membawa sebuah misi. Misi mulia untuk memperkenalkan dia denga duniaku. Dengan harapan duniaku bisa memberikan sebuah kesan menyenangkan yang mendalam yang tersimpan di dalam ingatan jangka panjangnya bahwa momen ini adalah momen yang berharga. Dan layak untuk diingat.

“Ke depan yuk” kataku seraya menunjuk panggung
“Emang disini kenapa?”
“Kurang enak. Ga keliatan yang lagi main”
“Kan suaranya masih kedengeran. Disini, maksudnya. Suaranya masih kedengeran ” balasnya
“Iya. Tapi la…” aku tiba-tiba berhenti. dari sound mulai terdengar intro Halo Beni. Menghentak disertai riuh suara teriakan puas penonton. Semakin sulit untuk berbicara di tengah keadaan macam ini.

Kuberikan aba-aba supaya dia mendekatkan telinganya.
“Lagu-lagu kaya giniiii, harus didengerin dari deket dan langsung. Biar dapet feelnyaaaa. Yuuuuk” ujarku. Lagi-lagi setengah berterjak
” ….. ” Dia hanya manggut-manggut mendengarkan. Entah dia mengerti dengan apa yang kukatakan atau tidak. Atau mungkin dia tidak mendengarnya.
“Udah mulai tuh. Yuk” sahutku lagi.
“Ayok…!” balasnya sambil tersenyum.

Kami pun mencoba untuk pindah ke barisan depan. Menyusup melalui celah-celah barisan-barisan manusia. Agak sulit memang untuk bisa mencapai barisan depan. Penonton sedang ramai-ramainya hari ini. Ya karena hari ini memang acara puncak sekaligus penutupan dari serangkaian acara sepekan ini.

Semakin mendekati bibir panggung, semakin penuh sesak oleh penonton. Kami terpaksa menghentikan laju karena nampaknya barisan depan sudah tidak bisa disusupi lagi. Bersamaan dengan itu intro Konservatif yang sangat ikonik mulai mengudara. Seluruh penonton riuh nampaknya. Tidak terkecuali Dia

“Eh..” ujarnya sambil menarik tali tasku selepas lagu itu selesai.
“Apaan?”
“Itu barusan yang nampil siapa namanya?”
“Yang barusan ?” balasku memastikan
“Iya yang barusan itu”
“The Adams”
“Judul lagunya apa?”
“Yang barusan?”
“He eh”
“Konservatif. Enak ya?”
“Iya. Lumayan. Hehe”
“Lagu itu kan jadi salah satu soundtracknya film Janji Joni”
“Janji Joni? Film apaan itu? Baru denger”
“Beneran?”
“Iya beneran. Emang kenapa sih?”
“Beneran?“ godaku
“Iyaaa, beneraa “
“ ….. “
“Ih kenapa sih? Kaya cuma aku doang yang ga nonton film itu” dia merajuk
“Bukan cuma kamu. Tapir sama Dugong juga ga nonton kok“
“Ngeselin “ sahutnya menahan senyum. “ Emang kenapa sih filmnya?“ lanjutnya.
“Kenapa ya? Soalnya film itu, menurut gue, unik banget. Dari segi alur cerita, castingnya, sama ya yang spesialnya itu pengisi soundtracknya” Ujarku panjang.
“Siapa aja yang ngisi soundtracknya?“
“Itu yang barusan main“
“Ohya!? The Adams!? Lagu yang mana?“
“Yang barusan dimainin“
“Konservatif?? Waah. Seru banget kayaknya filmnya. Kedengerannya”
“Ya lumayan” balasku
“Kamu mau air? Aku bawa. Nih” Ujarnya sekonyong-konyong. Aku hanya mengangguk dan kemudian mengambil air itu dari tangannya.
“Habis ini siapa yang main?” tanyanya lagi
“ ….. “ masih menenggak air dari dalam botol
“Hei. Ditanyain ga jawab“ katanya lagi sambil memukul punggungku. Yang hanya kubalas dengan tatapan kesal karena pukulannya hampir membuatku tersedak. Dan dia hanya tertawa dengan ditahan-tahan.

“Banyak” jawabku lagi. Karena tawanya manis, yasudahlah, hilang marahku.
“Banyak?”
“Ada Pure Saturday, White Shoes sama The Upstairs”
“Mereka ada di Janji Joni juga?”
“White Shoes doang kayaknya”
“Trus dua lagi engga?”
“Dua lagi engga”
“Tapi bagus ?”
“Tapi bagus”
“Eh eh. Mulai tuh” serunya sedikit kegirangan. Mungkin terbawa atmosfir yang sedang ceria saat itu.

Pure Saturday naik pentas dan membuka dengan lagu-lagu lamanya. Di Bangku Taman, Elora dan Pathetic Waltz dibawakan tanpa cela. Penonton ikut bernyanyi, bertepuk tangan juga ikut bersorak.

White Shoes naik pentas setelahnya. Nona Sari dan kawan-kawan tetap konsisten dengan penampilannya yang enerjik dan menghibur. Tam-tam Buku, Sabda Alam dan Senja Menggila menjadi pembuka di malam yang semakin malam itu.

“Seru ga?” Tanyaku
“Seru banget. Hehe”
“Abis ini lebih seru lagi”
“Abis ini yang main siapa? ”
“The Upstairs. Tuh” Tunjukku bersamaan dengan mereka mulai muncul ke atas panggung dan Jimmy seperti biasa muncul belakangan. Dibuka dengan Dansa Akhir Pekan lalu diikuti Apakah Aku Ada di Mars atau Mereka Mengundang Orang Mars. Penonton dibawa tersesat di arus disko gembel era awal 2000. Asik betul.

Kulihat Dia cukup menikmatinya. Sesekali dia tertawa mendengarkan lelucon-lelucon yang dilontarkan oleh Jimmy. Atau sekedar ikut bernyanyi saat Jimmy menyodorkan mic ke arah penonton walaupun mulutnya gelagapan karena tidak hapal liriknya. Juga ikut bergoyang saat lagu-lagu tempo cepat dimainkan. Walaupun agak malu-malu.

Hampir disepanjang acara yang kuperhatikan hanyalah dirinya. Bukan panggung, bukan Ario, Bukan Nona Sari, Bukan Jimmy, juga bukan backing vokal Upstair yang baru, Rebecca, yang sungguh sedap dipandang. Tapi hanya dia.

Dan saat Layak Dikenang dimainkan, seluruh kenangan dan harapan seakan berputar di kepalaku. Membawaku masuk ke momentum-momentum yang indah. Entah apa yang terjadi saat itu, tiba-tiba, aku sudah menggenggam tangannya.

Dia hanya diam. Begitu juga aku. Kami diam. Hanya lagu-lagu, orang-orang dan bumi yang bergerak kala itu. Tanpa suara, tanpa kata-kata, semua terbawa angin dan pindah ke utara. Malam semakin malam, acara semakin mendekati akhir hayatnya. Dan saat itu, dan saat itu, yang aku ingat hanyalah genggaman tangannya yang terasa lebih erat dari genggamanku.

Part 1                                                                                                                  Part 3

384 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: