Jurnal Cuti Tahunan – Le Chevalier Noir

Ramai sekali hari ini, bahkan untuk ukuran Hari Senin sekalipun. Apa memang semua orang baru pulang dari cuti liburan? Atau ada pesan berantai tentang lomba naik kereta Hari Senin yang aku tidak dapatkan? Pikirku kalau seperti ini adanya, cuaca dingin ini tidak akan bertahan lama setelah aku bisa masuk ke dalam kereta. Kemudian aku lihat sekelilingku. Penuhnya manusia di atas peron 1 yang bahkan belum nampak sedikitpun kereta berikutnya namun sudah terlihat ada perang untuk posisi terbaik. Kemudian aku perhatikan atap peron yang rasa-rasanya seperti terbalik dan membuat air hujan jatuh ke sisi tengah atap, bukan samping. Aku pikir ini inovasi sederhana yang menguntungkan, sentralisasi. Kemudian aku tengok jam tangan milik laki laki disampingku, aku memiringkan kepalaku sedikit untuk mencoba membaca waktu. Pukul 7.30. Hah, aneh. Entah kebetulan atau tidak, tetapi jam masuk kantorku juga sama, tepat pukul 7.30.

Suara announcer wanita stasiun kereta terdengar keras meminta maaf atas keterlambatan jadwal kereta. Aku coba mendengar lebih dalam suara tersebut, suara yang yakin dan lembut namun dibalut oleh gangguan wesel. Aku rasa ada kemiripan antara suara ini dengan wajah seseorang. Aku mencoba mengingat wajah-wajah yang cocok dengan suara ini, seperti, tetapi bukan, dia pasti lebih pendek sedikit. Ah! Aku ingat wajahnya! Ini adalah suara yang mengingatkanku dengan program televisi tentang budaya indonesia. Jelas suara ini yang mewawancara seseorang dari Lampung tentang batik tulis dan kaum perempuan disana. Sial, aku lupa namanya dan aku tidak tahu kata kunci apa yang harus kugunakan bila harus mencarinya di internet. Mungkin aku harus mendengar lagi suara tentang keterlambatan itu. Apa mungkin aku harus berdoa untuk keterlambatan yang lain agar bisa mendengar suara itu? Sepertinya hanya aku yang menikmati keterlambatan ini. Samar-samar suara wanita tersebut keluar di pikiranku, menyebutkan kata-kata yang jamak didengar untuk menyapa penonton televisi. Terasa gatal otakku mencoba mencocokan pemilik suara tersebut dengan wajah yang aku ingat. Acara tentang budaya Indonesia, batik, bahasa, jajanan khas daerah, Indonesia, biru, hijau. Tiba-tiba suara wanita tersebut terdengar kembali menginformasikan tentang keterlambatan jadwal kereta dan meminta maaf. Lucia Saharui.


Terjawab sudah pertanyaan tentang ramainya stasiun Senin pagi ini. Setidaknya sudah dua kali Lucia Saharui meminta maaf atas nama perusahaannya untuk keterlambatan yang terjadi. Suasana stasiun makin padat dengan para pengguna kereta. Aku pikir sudah tidak mungkin bertambah ramai lagi saat aku datang kesini, namun ternyata aku salah. Aku jadi rindu Bandung Hari Minggu Kemarin. Saat hujan seperti ini memang sering sekali kereta mengalami gangguan, namun peduli apa kantor dengan hal ini. Yang kantor inginkan hanya kehadiran pegawainya sesuai aturan tanpa peduli bagaimanapun caranya. Tapi kalau dipikir-pikir, jika hal tersebut ditukar dengan rupiah yang diberikan kantor kepada pegawainya tanpa peduli bagaimanapun cara aku bekerja, apa bisa disebut impas? Rupiah yang aku terima ditukar dengan situasi pagi ini, apa bisa disebut sepadan? Bagaimana jika aku mencoba mencari taksi dan keluar dari situasi ini? Jangan-jangan kantorku akan diuntungkan, jauh dari kata impas buatku. Enak saja. Siapa yang tahu kalau gangguan sinyal itu ternyata karena ulah seseorang yang murni hanya ingin menikmati kekacauan saja. Lalu apa yang bisa aku lakukan dengan semua ini? Apa aku tetap harus berdesakan dalam kereta pagi ini atau aku punya pilihan lain? Seperti, seperti taksi? seperti masa bodo? Ya, mungkin hari ini khusus untuk masa bodo.


Tiga kereta telah lewat dan aku hanya menikmati bagaimana orang-orang memaksa masuk. Kereta ketiga sudah tidak begitu parah memang, tetapi aku tetap memilih menikmati pagi ini. Matematikaku jelas untuk pagi ini, saldo pagi ini tidak akan aku ubah menjadi milik kantorku, matematika masa bodo. Aku menoleh ke arah luar stasiun, mencari apakah ada warung kopi terdekat yang bisa menemani aku dan hujan pagi ini. Tiba-tiba ponselku bergetar di saku kanan celanaku. Aku lihat ada pesan masuk. Ternyata itu dari Raya, tertulis: Hey. Singkat saja. Kemudian segera aku balas: hey, lagi di stasiun menuju kantor. Kenapa? Tidak lama kemudian aku langsung pergi keluar stasiun dengan sedikit berlari untuk menghindari hujan menuju warung indomie di balik pagar stasiun, memesan kopi sambil mengunyah gorengan. Tidak ada balasan pesan lagi dari Raya untuk durasi satu gelas kopi. Aku merasa seperti waktu pertama mengenalnya. Jangan-jangan dia masih memikirkan obrolan kemarin. Mungkin aku harus memesan segelas kopi lagi untuk mengingat obrolan kemarin.


Ada berita tentang Kota Bandung dan perayaan usai nonton bareng Final ISL (Indonesia Super League) jumat lalu. Persib Bandung menjadi juara dan beberapa suporternya melakukan perusakan terhadap mobil dengan plat nomor B. Raya menyebutnya oknum suporter, seperti oknum Polisi dan oknum PNS. Menurut kesaksian korban, ia menyebutkan bahwa polisi tidak bisa melakukan banyak hal. Aku pikir mungkin karena jumlahnya yang tidak sebanding. Tidak semua mental polisi bisa disamakan. Raya sempat khawatir saat aku tetap memilih untuk pergi ke Bandung Hari Sabtu lalu. Ia bilang dikhawatirkan akan ada pemeriksaan KTP jalanan oleh para oknum. Sayangnya, pikiranku tidak sampai sejauh itu. 


Dari kejadian itu muncul obrolan tentang prilaku semacam oknum suporter tersebut. Para oknum tersebut tidak mencari keuntungan materil dengan melakukan perusakan, ia tidak mengambil barang pribadi apapun milik korban, mereka hanya ingin melakukan perusakan untuk kesenangan yang menurut mereka atas dasar klub sepakbola. Kemudian Raya bertanya tentang bagaimana kira-kira cara mengatasi kejadian tersebut, apabila polisi saja tidak berani mengambil sikap, diluar fakta bahwa memang jumlah mereka tidak sebanding. Aku pikir itu hanya pertanyaan iseng di sore hari, ternyata ia serius menanyakan itu dan berharap dengan pendapatku. Ia merasa perilaku tersebut merupakan bibit dari kejahatan yang besar. Ia bilang angka kebolehjadiannya memang kecil jika dilihat dari keadaan sosial ekonomi sekarang, tetapi bibit seperti ini memang tidak memerlukan banyak perhatian agar bisa tumbuh. Orang-orang lebih memilih “pekerjaan” yang bisa mengisi perut mereka, bukan “pekerjaan” untuk kesenangan semacam itu. Aku sedikit terkejut saat ia mengatakan hal tersebut. Entah kelas apa yang telah ia ambil di kampusnya. Akhirnya aku katakan aku akan beritahu pendapatku di tempat makan nanti. Ia agak kurang setuju dan berkata “cuma nanya pendapat doang harus makan dulu, ribet.” Aku hanya bisa mengerutkan dahiku dan berkata “kan kalau ngedapetinnya susah, enggak gampang dilupain.” Ia kemudian melengos pergi dan berkata bahwa referensi dialog yang aku gunakan terlalu mudah ditebak.


Sama saja, mudah ditebak. Referensi tempat makannya selalu Punclut. Setelah memilih lauk dan meminta Ibu penjual makanan untuk teh manis panasnya didahulukan, aku mencoba melanjutkan obrolan kita sebelumnya di rumah Raya. Aku bilang hal tersebut sudah menyangkut keyakinan, sekecil apapun keyakinan tersebut, bahkan terhadap sebuah klub sepakbola, mereka melakukan perusakan atas dasar itu. Kemudian Raya bertanya “jadi  bagaimana cara melawan hal semacam itu?” dan aku menjawab “keyakinan harus dibalas dengan keyakinan dan sekumpulan orang harus dibalas juga dengan sekumpulan orang.” Raya masih penasaran dengan maksud dari perkataanku, ia menanyakan siapa yang paling tepat menangani hal semacam itu, apakah unit polisi khusus atau warga masyarakat sendiri yang memiliki mental dan kesadaran. Aku menjawab “aku sendiri yang akan melawan orang-orang semacam itu, tanpa mengotori tanganku sendiri.”

614 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Ladiesman217

Jarang membaca tapi jarang menulis. Doyan tidur.

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: