Jurnal Cuti Tahunan – 19 derajat celcius

 

Hari ini Hari Jumat. Hari yang dirahmati Tuhan, harinya berpura – pura sibuk di kantor, hari yang selalu dimulai dengan semangat dan cukup istirahat untuk nanti malam yang rapat dengan asap. Hari yang kebanyakan orang masukan dalam doanya untuk ‘cepatlah datang’ saat Hari Senin tinggal sejengkal lagi. Lucu ya. Tetapi sebangunnya aku pagi ini, samar bunyi hujan terdengar teratur tak berirama dengan suara yang makin besar. Entah sadarku yang makin kuat atau memang hujan di luar baru saja dimulai. Sungguh pun aku lihat jam di tanganku, tetapi aku tidak kawatir sama sekali dengan jadwal commuter line yang biasanya terpengaruh hujan. Permufakatan jahat antara cuaca Depok, kasur tanpa sprei, dan badanku yang meringkuk mencari kehangatan tidak memberiku ruang sama sekali untuk berkompromi dengan aktivitas apapun. Pagi ini suhu udara di Depok 25 derajat celcius.

Aku sedang libur mengambil jatah cuti tahunanku yang masih tersisa untuk tahun ini. Sedang libur namun tidak sedang liburan. Lima hari liburku ini seharga urusan remeh temeh yang selalu saja aku tunda setiap akhir pekan datang: Bayar pajak kendaraan bermotor yang memang sudah terlambat satu bulan. Kata kawanku telat bayar sehari atau sebelas bulan sama saja dendanya, namun karena mendapat kabar tentang pemutihan denda pajak kendaraan bermotor yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat maka jadwal libur hari pertamaku ini hanya untuk membayar pajak kendaraan bermotor sahaja. Walaupun  pada akhirnya ternyata kendaraanku yang telat bayar pajak sebulan tetap mesti bayar denda. Nantinya setelah aku membayar di Sistem Administrasi Satu Atap, aku baru tahu bahwa yang mendapatkan pemutihan denda pajak kendaraan bermotor ialah mereka yang belum pernah membayar pajak selama misalnya lima tahun. Mereka tidak akan dikenakan denda apapun, namun hanya harus membayar pokok pajak tahunannya saja untuk lima tahun kebelakang dan tahun yang bersangkutan. Aku yang hanya telat sebulan mungkin dianggap masih dalam kelompok nanti-juga-bayar-belum-perlu-diputihin. Entahlah, siapa juga yang tiba tiba baca peraturan gubernur setentangnya.

Pukul 06.30, aku masih terkapar dengan proposionalnya udara Depok pagi ini menurutku. Ini bukan udara Depok aku pikir, lebih mirip tatapan sinis perempuan dengan senyum manis di tenda pecel lele pengkolan semalam. Dari sudut sempit tempat aku melihat perempuan semalam, diantara sela sela gambar bebek dan ikan lele pada poster tendanya, yang manis wajahnya bisa aku kocok berbarengan dengan donat jualannya Pak Ali, aku menyimpulkan, layaknya seorang wanita yang sering menyimpulkan sendiri intonasi pesan singkat pasangannya, bahwa itu adalah tatapan pembunuh dibalut senyum termanis milik Aspartam. Manis memang, namun kadarnya membahayakan. Seperti gelapnya langit pagi ini-aku sempat melirik ke jendela. 

Masih dalam posisi tidur meringkuk, ponsel ku bergetar tepat di bawah ketiak kananku, aku ambil, aku intip dengan usaha otot kelopak mata seminimal mungkin, aku lihat ada pesan masuk dari Raya dan kemudian aku terhisap lagi oleh kasur hidup kamarku. Tanpa aku lihat isi pesan darinya dan ponselku sendiri, jempolku bergerak dengan sendirinya menuju opsi balas dengan bertanya kepadanya : Hujan di Bandung? Disana berapa derajat suhunya? Kemudian aku tersihir lagi oleh penyihir 25 derajat celcius yang menutup seluruh wilayah Depok. Penyihir itu tidak nampak akan mengurangi sihirnya, hujan terus turun bergantian dengan asiknya. Tidak lama kemudian ponselku bergetar kembali dan kali ini aku coba melihat dengan sepenuh hati apa isi pesan dari Raya : Makanya kalau balas sms ya dilihat dulu isinya. Aku tidak langsung membaca pesan Raya sebelumnya sampai akhirnya aku harus ke kamar mandi dan aku buka pesan pertama Raya pagi ini. Disana tertulis : Bandung Hujan, suhunya 19 derajat celcius. Pemanasan global my arse.


Pukul 7.10 aku telah selesai mandi, aku menuju beranda rumahku dengan memegang segelas susu coklat panas. Hujan masih terus turun tanpa menunjukan gelagat akan berhenti dalam waktu dekat. Dari beranda aku lihat beberapa payung bergerak di jalan kecil depan rumahku menuju jalan raya dan suara suara sepatu yang terdengar mengiringi gerak payung tersebut diantara penuhnya suara hujan pagi ini. Hari Jumat yang dibuka dengan hujan merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi para pekerja Jakarta. Dengan banyaknya hal yang harus dipikirkan untuk bisa tetap memiliki niat yang kuat pergi ke kantor pagi ini, aku rasa tidak mungkin ada waktu bagi mereka untuk tiba tiba terpikir tentang keadaan terumbu karang di kepulauan seribu. Ya, kebetulan bulan lalu aku pergi ke kepulauan seribu, Pulau Pramuka lebih tepatnya. Mereka mesti mengejar kereta yang sudah bisa dipastikan penuh sesak pagi ini, memikirkan strategi agar bisa nyelip masuk kereta dengan tenang, bukan memikirkan bagaimana cara memberitahu para pengunjung kepulauan seribu yang datang tiap akhir pekan tentang bagaimana cara berwisata bahari yang berkelanjutan.


Aku memikirkan hal – hal semacam itu, terumbu karang, gambut hutan tropis, ataupun filter rokok putih. Entah memang aku yang tidak peduli dengan kereta mana yang akan aku naiki tetapi aku pasti sempat memikirkan hal – hal semacam itu. Pernah suatu ketika aku pulang dari kantor, hari itu Hari Jumat sekitar pukul 19.00, di kereta aku melihat seorang wanita disampingku yang sedang memegang ponsel dengan wallpaper akuarium, aku pikir itu merupakan akuarium air asin karena aku bisa melihat ada koral koral dan ikan ikan yang biasa aku lihat di laut. Kereta saat itu tidak terlalu ramai, sehingga aku bisa memperhatikan dengan jelas akuarium tersebut bahkan kata kunci yang wanita itu ketik di ponselnya. Dari kualitas gambarnya aku yakin foto itu diambil dengan ponsel miliknya sendiri. Aku penasaran dengan akuarium tersebut apakah miliknya pribadi atau hanya sebuah gambar yang ia ambil di internet. Namun apapun jawabannya aku yakin ia pasti tertarik dengan hal – hal yang berhubungan dengan laut. Tepat sebelum aku menyadari keberadaan wanita tersebut dan ponselnya, aku sedang berpikir tentang bagaimana para nelayan yang mendampingi orang – orang untuk snorkling di kepulauan seribu membuang jangkarnya dengan tidak memperhatikan apakah ada terumbu karang atau tidak di bawah perahunya. Aku pikir ini waktunya aku bisa memulai sebuah percakapan dengan seorang wanita yang tidak aku kenal di kereta. Aku mencoba mencari kalimat pembuka terbaik yang tidak kacangan-setidaknya menurutku. Saat aku bisa melihat kembali wallpaper akuarium air asin miliknya, aku tiba tiba teringat dengan kasus pemutihan terumbu karang di dunia yang terjadi sekitar tahun 1998. Penyebabnya tidak lain ialah kenaikan suhu air laut akibat perubahan iklim, dan kalau tidak salah tahun itu memang sedang terjadi anomali perubahan iklim, el-nino. Yang terparah yaitu di kawasan Perairan Samudera Pasifik bagian utara. Terumbu karang di Indonesia juga terkena dampak yang cukup parah. Misalnya 90% terumbu karang di Kepulauan Gili Lombok rusak karena pemutihan. Bayangkan bagaimana dampaknya terhadap parisiwisata di daerah Lombok saat itu yang banyak berpegangan pada wisata bahari. Memang wisatawan baik lokal maupun mancanegara baru mulai ramai mengunjungi Pulau Lombok, khususnya Gili Matra, setelah Tahun 2002, yaitu setelah Pulau Bali mulai diteror dengan ledakan ledakan bom. Namun bagaimana kalau hal itu terjadi lagi sekarang? Dengan jumlah wisatawan yang sudah mencapai kurang lebih tiga juta orang menurut klaim dari Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat, apakah tidak akan berpengaruh secara langsung terhadap kehidupan para penduduk disana? Aku harap wanita ini tahu yang ia pilih sebagai wallpaper ponselnya.


Sudah hampir sepuluh menit kereta berhenti menunggu antrian masuk di Stasiun Manggarai-menurut masinis yang berbicara lewat pengeras suara. Aku belum memulai percakapan apapun dengan wanita tersebut. Ia masih sibuk dengan ponsel yang dipegangnya. Sepertinya ia mulai resah dengan kereta yang tidak kunjung bergerak. Mungkin ia sudah ada janji makan mie rebus dengan seseorang malam ini. Padalah aku sudah punya pikiran makan mie aceh dengannya malam ini, tetapi sampai sekarang yang sudah aku lakukan hanyalah mengintip kata sandi ponselnya. Hah, social hacking. Makin dalam aku mengintip wanita tersebut, makin dalam pula aku berpikir tentang pemutihan terumbu karang. Wanita ini, wanita yang sedang memegang ponsel dengan wallpaper akuarium air asin, sama sekali tidak akan terpengaruh apapun jika saat ini benar benar sedang terjadi pemutihan terumbu karang di perairan Gili Lombok. Ia akan tetap turun dari kereta dengan tujuan misalnya ke satu warung indomie yang jika hujan tiba tiba turun aku yakin ia juga sudah siap sedia payung di tas punggungnya. Setelah sampai disana, mungkin ia juga sudah ditunggu oleh seorang pria yang mungkin akan menjawab ‘Ah, enggak. Baru juga sampe’ saat wanita itu berkata ‘Sorry baru sampe, udah lama ya?’ Benar benar tidak akan ada pengaruhnya untuk wanita itu. Benar benar tidak ada pengaruhnya untuk pria itu. Apapun namanya perubahan yang misalnya memang sedang terjadi di perairan Gili Lombok, benar benar tidak ada pengaruhnya untuk aku, untuk wanita itu, untuk pria imajiner itu, untuk semua manusia di Kota ini sekarang yang sedang memulai menyelami indahnya malam Sabtu ditemani gerimis yang mulai turun. Pemanasan Global my arse.

Saat kereta berhenti di Stasiun Kalibata, aku tengok termometer ruangan di dinding kereta. Disana tertulis suhu udara 19 derajat celcius. Wanita tersebut turun tanpa sempat aku membagi sedikitpun pikiranku malam itu.

515 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Ladiesman217

Jarang membaca tapi jarang menulis. Doyan tidur.

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: