Jenazah Menolak Dimakamkan Karena Belum Mau Mati

Manusia hidup. Lahir, tumbuh, dewasa lalu mati. Sebuah siklus kehidupan yang mutlak dilalui oleh setiap makhluk hidup. Mamalia, reptilia, unggas, tanaman tak terkecuali. Sebuah lelucon terbesar yang dibuat alam semesta.

Seseorang pernah berkata, “nasib terbaik adalah yang tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanyamemang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Namun bagaimana bila jika kita sudah terlanjur lahir, hidup, tumbuh-berkembang sampai dewasa? Mau tidak mau kita akan mendapatkan tanggung jawab baru. Yaitu untuk mengarungi hidup. Mengarungi hidup dengan berbagai macam cara. Memberikan manfaat kepada orang lain, hidup dengan berani dan tulus, tanpa menyesali keputusan, dan lain-lainnya.

Karena akan semakin sial jika kita hidup dengan penyesalan dan pengasihanan terhadap diri. Lebih-lebih jika hanya hidup begitu-begitu saja. Terlalu banyak waktu yang terbuang dari hidup yang cuma sebentar.

Kali ini penulis ingin membagi pengalaman tentang bagaimana cara penulis mencoba mengatasi krisis-krisis yang muncul dalam kehidupan serta bagaimana cara mengatur pola pikir yang konstruktif ketika mengahadapinya. Sebuah hal yang sepele namun malah sering disepelekan oleh kebanyakan orang.

YAMERO..!!

YAMERO

Seperti halnya instrumen-instrumen di pasar modal, adakalanya kita berpikir bahwa hidup itu sebuah zero-sum game. Dimana jika ada satu pihak yang menang, sudah pasti akan ada satu pihak yang kalah. Seseorang tidak akan bisa mendapatkan untung jika tidak ada orang lain yang merugi.

Pola pikir tersebut relevan mengingat saat ini kita hidup di era kapitalisme dan materialisme. Kaya-miskin, hutang-piutang, untung-rugi. Akan selalu ada ketimpangan. Karena ketimpangan itu adalah keseimbangan. Dan keseimbangan itu mutlak.

Banyak orang berpendapat bahwa hidup itu tidak adil. Dan itu memang benar bahwa hidup itu tidak pernah adil.

Dan ada satu ketidakadilan yang paling lalim, jika dibandingkan ketidakadilan-ketidakadilan lainnya. Adalah rasa penyesalan.

Saya ingat betul, dulu Ibuk saya selalu mewanti-wanti kalau “penyesalan itu datengnya belakangan,” Memarahi saya yang sering iseng narik-bangku-ketika-orang-mau-naro-pantat-di-kursi yang menyebabkan orang yang mau duduk langsung duduk terjengkang. Di akhiri dengan raungan tawa saya dan teman-teman. Adegan slapsticknan lucu ala-ala komedi di tv.

Kemudian saya ceritakan kejadian tersebut ke Ibu saya. Alih-alih tertawa, Ibuk malah memberi hadiah jeweran di kuping kanan. Katanya, hal tersebut berbahaya. Jika tulang ekor sampai cedera, bisa mengakibatkan kelumpuhan, katanya. Dan disitulah kalimat pamungkas itu keluar, “penyesalan itu datengnya belakangan.” Karena takut kalau saya (ataupun teman yang saya jahili) menjadi lumpuh.

Dan layaknya anak umur 10 tahun, saya cuma mengagguk-angguk, tanpa benar-benar mengerti inti dari pesan yang sungguh berbahaya tersebut.  

Sekitar dua windu kemudian, barulah saya paham tentang apa yang dimaksud oleh Ibuk.

Rasanya seperti ditabrak oleh lokomotif kereta – jujur, saya belum pernah tertabrak oleh lokomotif kereta sebelumnya, tapi jika dikira-kira, mungkin seperti ini rasanya – rasa penyesalan itu.

Sudah 4 tahun saya lulus dari bangku perkuliahan. Bukannya perasaan bangga, namun perasaan sedih dan beban akan tanggung jawab, setiap ditanya dimana saya berkuliah dulu.

Menjadi alumni dari kampus (yang katanya) terbaik di Indonesia, sama sekali tidak membuat saya bangga. Alasan utama dari semua itu adalah karena rasa penyesalan. Menyesal karena saya tidak menjalani kehidupan selama perkuliahan dengan sebaik mungkin.

Saya termasuk seorang yang apatis ketika kuliah. Termasuk ke bagian orang-orang sombong yang memilih untuk meringkuk di zona nyaman yang aman-sangat-sempit. Padahal kampus sudah memfasilitasi segalanya. Mulai dari seminar yang mencerdaskan, workshop yang membangun, diskusi yang memprovokasi, dan kegiatan klub yang menantang.

Saya lebih memilih untuk duduk di salah satu pojokan kampus hanya untuk nongkrong tanpa juntrungan, dari pagi sampai tengah malam. Malah, dahulu saya seringkali mencibir terhadap teman-teman yang aktif terlibat di kegiatan-kegiatan kampus. Berprasangka bahwa mereka adalah orang-orang yang kelewat ambisius.

Karena menurut saya, lebih baik menikmati kehidupan di kampus hanya dengan haha-hihi. Dengan santai, jujur, dan bebas rahasia. Bahkan saya pun tidak benar-benar memperhatikan kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Susah-payah masuk kampus nomor wahid di Indonesia, dengan biaya yang tidak sedikit pula, namun mayoritas waktu dihabiskan untuk kegiatan SELAIN belajar. Ironis.

Sekarang saya tahu kalau pemikiran seperti itu salah. Tapi sayangnya, saya baru sadar sekarang, 4 tahun setelah lulus kuliah. Yang gagap ketika ditanya dulu waktu kuliah sibukngapain aja.

Yah, memang dulu saya pun sempat mengikuti berbagai macam kepanitiaan dengan berbagai posisi. Mulai dari pesuruh sampi jadi yang nyuruh. Sempat ikut seleksi Mahasiswa Pecinta Alam UI (tapi gagal). Juga ikut turnamen beladiri antar fakultas.

Namun yang ingin saya garis bawahi disini adalah, bahwa saya gagal menyadari betapa krusialnya masa perkuliahan ini dalam menentukan masa depan.

Saya gagal memanfaatkan lingkungan yang menyediakan segala sarana dan prasarana untuk tumbuh dan berkembang. Laksana kue bolu yang lupa ditaburi soda kue, saya menjadi bantat.

Banyak dari teman-teman se-angkatan saya yang saat ini sudah jauh lebih berkembang dari saya, yang menunjukan kualitas “kealumniannya”. Tapi jangan salah, Saya bukannya mengagungkan mereka yang diterima LPDP dan melanjutkan studi ke kampus di Eropa, juga bukan soal mereka yang saat ini tengah bekerja di perusahaan MNC(Multi National Company) dengan gaji dolar, apalagi soal viralnya video sex dari kampus tersebut. Bukan. Tapi lebih kepada kualitas individu.

Mereka yang memiliki pola pikir kritis dan nalar yang kuat. Juga memiliki kemampuan analitis yang dibalut dengan narasi yang cerdas. Piawai mengartikulasikan ide dan gagasan secara verbal dan tepat sasaran. Dan saya kenal mereka semua.

Mereka-mereka ini adalah cream of the crop. Yang tidak melulu hanya mengejar karir, harta, atau popularitas. Mereka fokus untuk memperjuangkan hal yang pantas diperjuangkan. Menggunakan kesempatan di kampus sebagai kamp pelatihan sebelum berikutnya turun bertempur di medan perang di kehidupan yang sesungguhnya.

Iya, saya terlambat menyadarinya.

Dan saya sangat MENYESAL karena kesempatan emas tersebut sudah berlalu. Berlalu begitu saja tanpa banyak hal yang saya perbuat untuk menghidupinya.

Saya sangat menyesal.

Lalu setelah itu bagaimana?

Menyesali dan mengutuki diri tentang kesempatan yang telah terbuang?

Atau tetap menjalani hidup seperti sedia kala?

Jika kalian sama terusiknya dengan saya, maka yang harus kita lakukan adalah mulai berubah.

Saat ini adalah saat dimana kita mengencangkan sabuk pengaman kemudian melaju menyusul yang lain yang sudah ada di depan. Tidak ada kata terlambat.

Namun itu juga berarti tidak ada lagi waktu yang bisa disia-siakan.

Buatlah perencanaan tentang masa depan dengan imajinasi layaknya seorang seniman lalu pengimplementasian dengan presisi layaknya seorang mantri sunat.

Korbankanlah waktumu yang berharga untuk belajar, belajar dan belajar. Kurangi kegiatan yang tidak berfaedah di akhir pekan. Isi waktu luang dengan membaca ketimbang selancaran di media sosial. Jangan ragu untuk mencari dukungan dari sekitar. Orang tua, saudara, teman, kekasih, istri/suami, siapapun itu. Dukungan untuk terus maju ketika tengah dihadapkan dengan situasi sulit.

Manfaatkan setiap peluang yang ada, untuk tumbuh berkembang. Demi lebih baik dari kemarin, demi melangkah lebih jauh dari hari ini.

Namun, tetap luangkan waktu untuk berkumpul bersama dengan orang-orang terkasih.

Juga sisipkan waktu untuk menikmati waktu.

740 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: