Dengan Roket Aku Pergi Ke Sana

PRAKATA: Tulisan dibawah adalah hasil interpretasi lagu “Rocketship Goes By – Goodnight Electric Cover” dari The Usptairs oleh penulis. Sila disetel terlebih dahulu, lagunya, sebelum membaca untuk pengalaman maksimal

Juli 19, 2016

Berita itu datang tiba-tiba seperti hama belalang di penghujung musim panen yang tidak bisa dibendung. Seperti baru saja ditiupkan oleh angin muson timur dari belahan bumi nun di sana. Diam terpaku, hanya itu yang bisa kulakukan. Hanya itu yang bisa kulakukan sedari dulu. Seperti jam rusak di dinding kamar yang belum diganti baterainya, seperti tebing curam yang luluh melihat lembahan di bawah kakinya. Seperti, ah, seperti. Terlalu banyak seperti.

Kalut, segera kukenakan sweater abu-abu usang kemudian menyalakan motor kemudian berjalan tanpa arah. Menelusuri gelapnya Kotabaru sembari mencari warung rokok pinggir jalan. Ternyata tidak segampang di Jakarta. Masih sangat jarang dan jarak antar toko tidak dekat.

“Kenapa harus rokok..? Merokok pun ga nyelesaiin masalah, kan?” ujarnya dahulu.

“Iya emang engga sih“

“Nah kalo gitu Kamu juga berhenti dong“ balasnya sambil tersenyum.

“Iya“

“Janji?“

“Janji “ jawabku.

Memang rokok tidak akan menyelesaikan sebuah masalah. Begitu juga alkohol ataupun susu sapi. Apalagi Ganja ataupun lem aibon. Karena memang tidak akan ada yang bisa menyelesaikan kecuali diri kita sendiri. Ironis memang. Kita berlomba-lomba mencari cara alternatif untung melupakan masalah namun bukan untuk menyelesaikannya. Ironis memang.

Kalian tahu bahwa dalam beberapa milyar tahun ke depan Galaksi Andromeda akan bertubrukan dengan Galaksi Bimasakti. Perlahan tapi pasti, Andromeda semakin bergerak mendekati Bimasakti bagaikan dua kutub magnet yang saling tarik menarik, perlahan tapi pasti. Kejadian ini akan ditunjukan dengan penampakan Andromeda di langit malam yang semakin besar dan jelas dalam beberapa ribu tahun lagi. Apakah itu yang dimaksud dengan hari pembalasan? Mungkin.

Dan itulah yang menyebabkan mengapa setiap kali seekor semut bertemu dengan semut lainnya mereka selalu berbisikan. Mereka selalu menyampaikan dan mengingatkan bahwa ramalan tentang akhir zaman akan segera tiba. Supaya mereka semua percaya dan bersiap. Layaknya ramalan Nostradamus yang selalu dipercayai oleh Suneo bahwa semuanya akan datang dan terjadi. Sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan.

Seperti keyakinan pantai dan pasirnya akan debur ombak dan gumpal buih. Yang percaya bahwa berapa kali pun mereka berpisah maka mereka pasti akan kembali lagi. Tak peduli selama dan sejauh apapun ombak dan buih pergi mereka pasti akan kembali lagi sahut pantai dan pasir. Aku pun pasti akan datang kembali dengan pasti dan bertatap lagi walaupun Aku harus datang dengan menaiki gelombang yang jauh lebih tinggi dan lebih hebat layaknya tsunami jawab ombak dan buih.

Terbebas dari pikiran mengawangku, akhirnya kutemukan juga warung yang masih buka di jam segini. Sambil menyulut dan menghirup rokok dalam-dalam kubiarkan mesin motorku tetap menyala. Supaya tidak terlalu sepi. Ohiya, ini adalah rokok pertama ku setelah sekian lama Aku berjanji Aku akan berhenti kepadanya. Tapi apa boleh buat dia yang terlebih dahulu melanggar janjinya.

 

September 20, 2014

Delay ya? “ tanyaku

“Iya nih. Kebiasaan“

Kemudian kami kembali diam. Orang lalu-lalang di sekitar kami menghiraukan kami dan hal lainnya. Suara perempuan muda di awal dua puluhan daritadi sibuk mengumumkan hal-hal yang berkaitan dengan penerbangan. Di kejauhan ada seorang ibu yang berteriak memanggil anaknya yang sedang asik bermain dengan troli. Panggilan pertama sang Ibu masih diabaikan oleh anaknya. Begitu juga yang kedua dan ketiga. Takut terjadi dengan hal-hal buruk terjadi kepada anaknya dengan segera dia beranjak dan mengajak sang anak untuk kembali ke sisinya.

Aku kagum. Kukira ia akan tetap memanggil sang anak namun dengan nada dan intonasi yang lebih tinggi, lebih mengancam. Tapi tidak. Dengan hati-hati ia mendekati sang anak yang usianya kelihatannya masih belum genap 6 tahun dan kemudian mengajaknya untuk menjauhi troli tersebut. Aku hendak menunjukan hal tersebut kepadanya namun tiba-tiba kurasakan kepalanya bersandar ke bahuku. Kuurungkan niatku.

Wajahnya terlihat penuh guratan seperti seorang yang tengah berpikir tentang banyak hal dalam satu waktu. Aku bertaruh bahwa dia memikirkan tentang kepergiannya yang tidak sebentar kali ini. Mudah dibaca memang perempuan yang satu ini.

“Lo ga duduk sama Ayah Ibu? di ruang tunggu“

“ Gapapa. lagi ga pengen”

“Besok kan udah ga ketemu lagi“

“Gapapa. Mereka bisa kok dateng ke tempatku kalo mereka pengen“

“Turki kan jauh. Mahal juga ongkosnya“

“Ga jauh dan mahal buat seorang Direktur perusahaan telepon dan istrinya“

“Iya sih“

“Kamu gimana?“

“Gue gimana apanya??“

“Kamu kapan mau kesana? Main ke tempatku nanti“

“Nanti deh kalo gitu. Kalo udah ada.. “

“Udah ada apa?“

“Udah ada Deborah jurusan Depok – Turki“

“Hahahaha. Ih gitu amat“

“Ya abis gimana dong? Jauh. Mahal juga. Gue kan bukan Direktur perusahaan telepon“ balasku

“Hmmm. Kalo gitu jangan lupa inget-inget buat Aku“

“Nah, kalo yang ini bisa“

“Kalo bisa inget-inget Aku terus setiap hari“

“Nah, kalo yang ini ga bisa”

“Hahahaha. Ih ngeselin“

“Tapi kalo setiap detik bisa“

“Hahahaha. Yeeyy“

“Karena itu lo harus bayar“

“Bayar? Bayar apaa??” tanyanya lagi

“Biaya buat ga lupa sama lo setiap detiknya”

“Bayarnya pake apa? Uang gitu?“

“Bukan“

“Trus apa dong?“

“Pake janji. Janji baik-baik aja disana“

“Okee, janji“ Ujarnya riang

“Janji?“ balasku sembari menyodorkan kelingking kananku

“Janji“ sambutnya dengan balas mengait jari kelingkingku

 

Juli 24, 2016

“Hai“

“…“ Dia diam

“Maaf ya gue, maksudnya, Aku, baru bisa kesini sekarang. Lagi sibuk banget kemarenan“

“ … “

“Kamu tahu, belum lama Aku baru tahu ada grup musik bagus dari Surabaya. Silampukau namanya. Bagus. Ini Aku bawa CDnya. Buat Kamu. Juga Cdnya The Adams. Yang kemarin kita lihat di Sarinah“

“ … “ Dia tetap diam

“ Oh iya. Akhirnya kamu udah nonton Janji Joni belom? Bagus kan filmnya?“

“ … “

“ Kamu tahu. Aku sekarang lagi ambil kursus persiapan IELTS. Buat persiapan sekolah lagi. Gara-gara Kamu Aku jadi kepingin juga”

“ … “ Dia masih juga diam

“Lucu ya. Akhirnya Aku bisa kesini walaupun ga naik Deborah tapi naik motor”

“ … “

“ Kamu kenapa? Marah? “ jawabku dengan perasaan bersalah. Dadaku penuh sesal dan sesak.

“ … “

“Seharusnya malahan Aku yang marah” kurasai mataku mulai panas.

“ … “

“Kamu ga tepat janji. Dan Aku benci itu. Aku benar – benar membencinya“

kuharap saat ini segera turun hujan supaya bisa menyembunyikan air mata  yang tumpah tidak bisa terbendung. Bukan supaya lebih dramatis seperti di film-film romantis, tapi karena Aku tidak suka menunjukan diriku yang terbawa emosi.

Dan sementara itu Kamu masih saja diam. Apa yang Kamu pikirkan? Apakah Kamu sedih? Atau Kecewa? Atau Marah? Kuperhatikan lekat-lekat pusaramu. Gundukan tanah merah itu sekarang sudah mengering. Dirimu sudah tidak bisa kukenali lagi. Hanya tinggal namamu yang terpatri di papan kayu. Bahkan, tidak ada gambar wajahmu disana.

Kutinggalkan tempat itu dengan perasaan tak karuan. Entah sedih, kecewa, atau marah. Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, Aku kembali lagi ke depan pusaramu. Kutatap sekali lagi lekat-lekat, lebih lekat lagi. Kuambil selembar kertas dari saku celana ku dan kuletakkan disana. Kertas yang bertuliskan janji-janji yang akan kita penuhi ketika kita bertemu lagi. Yang salah satunya adalah menonton film Janji Joni bersama. Kutinggalkan disitu kertas itu. Barangkali Kamu ingat akan hal tersebut dan kembali kepadaku. Walaupun Aku tahu hal itu mustahil tapi Aku tetap melakukannya.

Aku mendapat kabar dari ibumu beberapa hari yang lalu tentang kepergianmu. Ibumu bilang Kamu menjadi salah satu korban dalam kudeta yang berujung gagal itu. Baik Aku ataupun ibumu tak habis pikir mengapa Kamu bisa jadi korban. Apakah Kamu diam-diam menjadi salah satu anggota dari Kaum revolusionis? Atau Kamu adalah salah satu mata-mata dari pemerintah yang bertugas menyelidiki perkembangan situasi disana namun akhirnya tertangkap seperti di film-film? Hehe. Maafkan Aku yang bercanda dengan kematianmu.

Jika tidak begitu, bisa susut kurus kering diriku, hanya menyisakan tulang-belulang, jika benar-benar kubiarkan diriku terlarut dalam rasa berkabung dan menangis laiknya orang kesurupan. Aku akan tetap sehat, demi dirimu, demi diriku. Aku akan tetap hidup, demi dirimu, demi diriku.

Jika saja saja kini Kau berada di Planet Mars, Aku pasti akan menyusulmu pergi kesana. Atau jika saja Kau berada di Galaksi Andromeda sekalipun, Aku pasti akan menyusulmu pergi kesana. Kau tahu, Kau telah pergi ke tempat yang teramat sangat jauh yang bahkan tidak bisa kujangkau dengan menaiki roketku. Apaboleh buat. Aku hanya berharap Kau tidak bosan di sana dan juga berharap semoga di sana ada bioskop supaya Kau akhirnya bisa menonton film itu dan menceritakan pendapatmu mengenainya melalui mimpi.

Part 2

595 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: