Situ dulu peju juga, kan?

Suatu waktu nanti jika anda sedang menikmati waktu sendirian, sekadar menggetarkan batang kenikmatan dengan gerakan sesuai selera, lalu muncul cairan putih yang tidak mengguyur tapi keluar bergiliran, coba untuk jangan menekan tuas flush. Coba lihat dan perhatikan, tak peduli encer atau kental, cairan itulah yang nantinya membawa kehidupan. Memastikan diri anda untuk terus ada di dunia, setidaknya anda menjadi bagian darinya.

Coba bayangkan dalam pikiran anda, wanita tercantik, terseksi, paling hot yang pernah anda lihat, lalu sandingkan dengan satu manusia lain paling menyebalkan yang anda menyesal pernah bertemu dengannya, manusia yang paling ingin anda tampar detik ini juga, paling anda ingin injak lehernya. Sandingkan mereka bersebelahan dalam pikiran anda. Sudah? Pertahankan. Mereka dulunya cairan putih yang sama seperti yang kita sebutkan di paragraf pertama, hanya berlabuh di tempat yang lebih tepat. Walaupun gen yang dibawa berbeda-beda, mereka melalui proses penciptaan yang sama.

Anda tentu pernah terjebak di tempat ramai yang begitu ramainya hingga terasa sesak. Entah itu di pusat perbelanjaan, atau di taman hiburan, mungkin di kereta senin pagi para pencari sesuap nasi dan setenteng Gucci. Anda melihat berbagai macam bentuk dan ide manusia di sana. Ada orang tua yang anda bingung kenapa bisa tersasar sampai di sana, ada anak muda yang pandangannya tak lepas dari gawai miliknya, ada orang kaya, ada orang tak punya, ada yang bercanda dengan teman-temannya, ada yang sendirian saja seperti anda. Coba di situasi seperti itu anda beranikan diri dan teriak pada mereka semua, atau bisikkan satu-satu ke telinganya,

 “Situ dulu peju juga, kan?”

Pertama akan saya yakinkan pada anda, anda akan berada dalam satu posisi yang sangat sangat, sangat  awkward. Tapi saya yakinkan yang kedua, bahwa mereka tidak akan marah. Emosi yang terluap akan disumbat oleh “eh iya juga ya” dalam pikiran mereka, bila mereka masih waras. Malah mungkin, hanya mungkin, anda akan merubah pandangan mereka tentang kehidupan yang ternyata sangat asbtrak. Seperti pandangan saya yang dirubah oleh kelahiran sang putra pertama.

Semua dimulai dari sebuah proses persalinan di sebuah rumah sakit ibu dan anak di kisaran kota Depok. Proses persalinan yang bisa dibilang sentimentil dan juga membawa banyak pertanyaan dan panjatan doa. Apalagi saat anda melihat sendiri apa yang terjadi di dalam sana, dan di dalamnya lagi.  Mulai dari erangan si ibu yang memenuhi ruangan dan membuat saya bertanya kapan ini akan segera berakhir, hingga munculnya si jabang bayi ke muka bumi yang membuat saya berdoa semoga kebersamaan keluarga ini harmonis tiada akhir. Seorang bayi yang menyambut adzan subuh, menandai awal tulisan kehidupannya. Beberapa milidetik setelah kelahirannya, bayi itu adalah manusia termuda di dunia.

Bocah berambut klimis beroleskan air ketuban dengan panjang setengah meter, berat 3600 gram yang saya adzankan di dalam inkubator ini dulunya adalah semua yang saya ceritakan sejak awal. Sebuah muncratan kecil yang kata para ilmuwan dan ilmuwati di luar sana membawa 37 megabyte data genetik manusia. Muncratan yang berhasil memenangkan balapan dan masuk ke dalam sel telur lebih dulu, saya tau persis rasanya, karena saya pernah memenangkannya dua puluh lima tahun lalu. Sembilan bulan ia menjelma dan membentuk diri, lalu keluar membawa tangisan pertamanya ke bumi. Tangisan pertama yang merekahkan senyum ayah dan ibunya. Meskipun sedikit yang mereka tahu, bagaimana rasanya tangisan-tangisan berikutnya.

Tuhan memang Maha Besar, kuasa-Nya di atas langit dan lebih besar dari semesta. Pria kecil ini entah jadi apa nanti saat sudah dewasa. Bisa jadi gitaris ternama dan menaklukkan banyak wanita, bisa jadi seorang bodybuilder yang sanggup menaklukkan tantangan 1000 push-up setiap harinya, atau mungkin jadi pekerja berangkat gelap pulang temaram dan menaklukkan Jakarta. Siapa yang tahu.

Satu yang pasti, setiap anak pertama adalah matahari ayah ibunya, tanda cinta pertama. Apalagi anak ini adalah cucu pertama kakek neneknya, tentu menjadi kebanggaan mereka juga. Beban cukup berat tertancap di bahu bocah mungil menggemaskan ini.  Tetapi tenang saja nak, ayah dan ibumu akan selalu menggenggammu, tidak peduli sebesar apa dirimu nanti. Tidak akan alpa walau semalam, tidak akan tinggal walau sehari, doa terpanjat tanpa putus agar kamu menjadi pria yang sehat, kuat, tampan, berguna bagi agama bangsa dan negara ini, dan yang paling penting, agar kamu selalu menyayangi kedua orang tua, agar sisi kami menjadi rindumu.

Saya mengerti, paragraf sebelumnya memang terlalu emosional dan terkesan seperti curhatan. Atau mungkin seluruh tulisan ini adalah sebuah luapan? Ah, saya tidak peduli, sebenarnya saya sedang dikejar deadline.

Mereka adalah tanah, kita adalah tanah, tanah yang bisa bicara dan mengerti.

Tulisan ini dipersembahkan untuk Kanaka Nara Arzaquna Ibrahim, sang GrgskrsJr pertama.

0 comments on “Situ dulu peju juga, kan?Add yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *