Pulau Oar: Pusara Karang di Atas Pasir Putih (Catatan Perjalanan)

Hanya butuh waktu lima jam perjalanan darat untuk sampai di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, tempat sandar kapal yang akan membawa kami ke Pulau Oar. Namun untuk perjalanan pulang? Itu lain cerita.
Kami berlima sudah merencanakan untuk camping di Pulau Oar sekitar seminggu sebelumnya. Informasi yang berhasil kami himpun dari catatan perjalanan orang-orang  ke pulau tersebut di internet yaitu: kita bisa buka tenda di sana, tidak ada penduduk tinggal di Pulau Oar karena pulau tersebut sangat kecil, waktu menyeberang dari Sumur ke Pulau Oar hanya membutuhkan waktu 15 menit dan biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa kapal PP sebesar Rp 500.000. Dari informasi tersebut terdapat satu kekurangan yang cukup menjadi masalah kami, yaitu catatan perjalanan yang paling baru dibuat Bulan Oktober 2016, sudah hampir setahun lalu dan video-video blog yang tersedia di Youtube hanya berdurasi singkat. Jaman sekarang dimana jalan-jalan sudah menjadi seperti kebutuhan primer keempat para manusia ibukota, catatan perjalanan khusus tentang Pulau Oar baik dalam bentuk tulisan atau video blog, sepertinya masih sedikit dibuat oleh orang-orang. Bukan apa-apa, kami khawatir kalau informasi tersebut sudah tidak valid lagi dan sesampainya disana ternyata pulau tersebut sudah tidak boleh untuk camping (pernah terjadi pada Pulau Perak, Kep. Seribu) atau biaya untuk menyewa kapal sudah naik gara-gara Pilkada Banten, hampir setahun men!
 
Kami bisa dibilang sudah cukup sering menyambangi pulau atau pantai di akhir pekan untuk sekedar camping sejak tiga tahun lalu. Kebanyakan memang di Kepulauan Seribu, seperti Pulau Perak, Dolpin, Sepa, dan Pari. Maka dari itu, saat kami sudah mulai rindu untuk ‘bercumbu’ kembali dengan pasir pantai dan kebetulan menemukan Pulau Oar, kami tidak perlu berpikir lama untuk segera berangkat ke sana jika dan hanya jika kami tidak punya kendala dengan masalah keuangan, wqwqwqwq. Masalahnya adalah biaya untuk sewa kapal yaitu sebesar Rp 500.000 dan perjalanan kapal hanya membutuhkan waktu 15 menit. Pengalaman kami untuk ke pulau-pulau kecil di Kep. Seribu membutuhkan biaya Rp 600.000 dan perjalanan kapal membutuhkan waktu hingga 45 menit dari pulau Harapan di Kep. Seribu. Yang menjadi pertanyaan kami kenapa sampai bisa semahal itu untuk menyebrang ke Pulau Oar? Dari dua catatan perjalanan yang kami baca, memang ada yang menyebutkan biayanya sebesar Rp 300.000 dan Rp 500.000, mereka juga menambahkan catatan untuk pintar-pintar menawar kepada pemilik kapal/calo. Maka dari itu untuk meminimalisasi pengeluaran, kami selalu berusaha memaksimalkan anggota kelompok. Hitung-hitungan kami jika biaya kapal mentok-mentoknya Rp 500.000, ijin untuk buka tenda Rp 25.000/orang = Rp 125.000, ditambah belanja bahan makanan selama di pulau Rp 100.000, dan bensin + tol Rp 300.000, maka kasarnya anggaran untuk lima orang yaitu sekitar Rp 205.000.
 
Tidak berhasil mendapatkan anggota lain untuk ikut dalam perjalan ini, kami tetap berangkat berlima dengan menggunakan mobil salah satu anggota kelompok. Bermodal google maps dan insting binatang, kami berangkat dari Kota Depok pukul 3.00 pagi dan sampai di Kec. Sumur, Pandeglang pukul 08.30 sudah termasuk sarapan nasi uduk di jalan dan istirahat kencing. Untuk yang tidak punya insting binatang, modal google maps juga sebenarnya sudah cukup. Atau singkatnya bagi yang menggunakan kendaraan pribadi dari Jakarta dan sekitarnya bisa kami jelaskan: 
 
1. Masuk jalan tol Jakarta – Tangerang
2. Keluar di pintu tol Serang Timur
3. Dari sini tinggal ikutin marka jalan menuju Pandeglang / Labuan atau bisa juga cari penunjuk arah menuju Pantai Tanjung Lesung. Menuju Pulau Oar juga melewati rute menuju Pantai Tanjung Lesung namun lebih jauh lagi.
4. Sisanya tinggal ikuti marka jalan menuju Sumur / tanya orang pinggir jalan untuk arah menuju Kecamatan Sumur, Pandeglang. Mudah, kok.
 
Di akhir perjalanan kami, Pak Endang, semacam orang yang mengurusi perjalanan kapal kami, juga memberitahu cara ke Sumur dengan menggunakan kendaraan umum. Bisa Naik kereta dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Rangkas Bitung kemudian bisa dijemput dengan menggunakan Elf (satu Elf maksimal 12 orang) dengan biaya Rp 100.000 PP. Tentunya harus sudah janjian terlebih dahulu dengan Pak Endang. Sepanjang perjalanan juga banyak Terminal Bis yang kami lihat, sepertinya bisa juga menggunakan bis dari Terminal Kali Deres.
 
Sampai di Sumur kami beristirahat sejenak di satu warung dan bertemu dengan Pak Endang, ia menawarkan biaya kapal PP sebesar Rp 200.000 dengan kapasitas maksimal 10 – 12 orang. Di situ kami merasa senang dan menang karena ternyata harga kapalnya jauh lebih murah dari yang kami baca di internet. Namun setelah itu ia menambahkan bahwa ada biaya lain sebesar Rp 200.000 untuk administrasi di Pulau Oar dan biaya menginap/camping Rp 20.000/orang dan bisa snorkling dengan menambah Rp 50.000/orang. Dari penjelasan Pak Endang bahwa Pulau Oar merupakan pulau milik perusahaan swasta yang juga menguasai Pulau Umang, sebuah pulau resort di samping Pulau Umang. Mereka yang menginap di Pulau Umang akan mendapatkan fasilitas bisa bermain dan snorkling di Pulau Oar, karena di Pulau Umang tidak ada pasir putih seperti di Pulau Oar. Ternyata Rp 200.000 tersebut untuk membayar ke pengurus Pulau Umang, untuk Rp 20.000/orang entah kemana uang tersebut mengalir. Dengan segala jurus tawar-menawar dan pertimbangan keuangan, maka kami setuju dengan tawaran dari Pak Endang, tetapi tanpa snorkling karena kami semua bawa kaca mata renang dan satu masker dan snorkel, hwehwehwehwe. Sebelum berangkat kami memesan nasi bungkus + telor ceplok seharga Rp 10.000/bungkus untuk makan siang kami nanti di pulau dan Nasi bungkus doang Rp 5.000/bungkus untuk makan malam. Btw, Pulau Oar benar-benar sudah terlihat dari warung kita nunggu tadi.
Setelah sekitar 15 menit kami sampai di Pulau Oar dan benar saja, walaupun tidak begitu jauh jaraknya dengan dermaga jadi-jadian tadi tetapi perbedaan warna air lautnya bukan main, aduhai. Kalau di Kepulauan Seribu, laut sebagus ini harus ditempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam dari Dermaga Kali Adem/Muara Angke. Kalau cuma 15 menit dari Angke mungkin masih ketemu bungkus pilus dan tumpahan solar. Gradasi warna biru dari bibir pantai sampai pantai jauh benar-benar menenangkan mata kami. Pasir pantai berwarna putih juga langsung menyambut kami. Ingin rasanya langsung melepas semua pakaian yang menempel di tubuh ini dan berlari dengan senyum lebar ke laut. Tapi berhubung mesti buka tenda dulu, ya kami urung lakukan hal tadi. Setelah nemu spot untuk buka tenda, kemudian kami bersantai di depan tenda sembari main gitar. Kami menunggu tepat pukul 12.00 untuk main air biar tanda liburan kita di kulit maksimal, wqwqwqwq. Setelah jam 12.00 kemudian kami langsung nyebur ke laut yang jernihnya amboi sekali, laut dangkalnya cukup luas buat renang-renang santai. Saran kami kalo memang punya kacamata renang atau masker dan snorkel mending dibawa aja, sudah cukup, kok, toh kami juga snorkling jadi-jadian di spot snorkling mereka yang ambil paket snorkling, nggak jauh dari pantai, masih dangkal, jadi masih aman. Tempat snorkling disana ga terlalu banyak ikan, kalo pun ada memang ikannya lumayan gede, sih, tapi itupun udah deket laut yang warnanya biru banget ga keliatan dasarnya. 
  
Tidak ada terumbu karang di tempat kami snorkling jadi-jadian, arus lautnya juga lumayan kenceng. Ternyata terumbu karangnya pindah semua ke pantai, jadi di atas pasir putih yang alus sealusnya alus itu bertebaran semua bentuk terumbu karang yang udah jadi batu dari ukuran yang gede sampai kecil. Lumayan menyiksa kaki kalau lari di pantainya. Kalau dilihat dari jumlah terumbu karang yang udah jadi batu itu di pantai, sepertinya asumsi kami laut dangkalnya dulu isinya terumbu karang semua dan gara-gara sauh kapal dan juga arus laut yang kenceng semuanya patah dan kesapu ke pantai. Asumsi kami sih begitu. Benar-benar terlihat seperti kuburan terumbu karang di pantainya itu, walaupun ada beberapa daerah yang masih bersih juga pasirnya.
 
Oiya di Pulau Oar ada beberapa gazebo yang disiapkan untuk tamu dari Pulau Umang yang main ke Pulau Oar, kalau kami mau pakai gazebonya, kami harus bayar lagi ke satu penjaga pulau Oar dari Pulau Umang yang cuma jaga sampai magrib doang abis itu ngilang. Jadi dia nggak benar-benar penjaga pulau Oar. Heran.
 
Malam hari disana anginnya cukup kencang dan benar-benar semalaman anginnya ga berhenti-henti. Saran untuk yang buka tenda di sana, lebih baik tempatnya agak ke dalam pulau karena kalo agak di pinggir pantai anginnya nggak karuan.
 
Besoknya kami dijemput pukul 10.00 pagi dan dekat warung yang kemarin ada kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum kembali ke rumah. Sebelum balik Pak Endang cerita bahwa selama ini penjaga di Pulau Oar itu memang tidak benar-benar menjaga pulau itu baik kebersihannya maupun ikut menginap di pulau Oar. Pak Endang bilang ia pernah ngomong ke penjaganya kalo memang seperti itu, ia tidak akan membayar Rp 200.000 yang katanya biaya administrasi untuk pengurus Pulau Umang. Kemudian voila! Pak Endang bilang ke kami kalau kami kesini lagi, kami tidak perlu membayar biaya administrasi Rp 200.000 tersebut, cukup biaya kapal dan biaya menginap per orang saja. Semacam dapat voucher untuk kedatangan kedua, agak aneh sih kami mendengarnya.
 
Begitu catatan perjalanan kami camping di Pulau Oar, mudah-mudahan bisa berguna untuk kalian yang ingin kesana. Kalau kalian ikut open trip ke Pulau Peucang kayanya udah ada paket mampir ke Pulau Oar, deh. Tapi kalo cuma mau ke Pulau Oar saja, ya mungkin seperti ini caranya. Oh iya, overall pulaunya bagus untuk bersantai, walaupun banyak karang matinya tapi kalau sudah liat pasir putih dan warna biru lautnya pasti sangat menenangkan dan menentramkan jiwa dan raga. Jangan lupa kalau kesana kalau bisa bawa yang terkasih juga, biar nggak demek. Semoga bermanfaat.

2 comments on “Pulau Oar: Pusara Karang di Atas Pasir Putih (Catatan Perjalanan)Add yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *