Pergi Jauh 2: Rindu yang Baru

Yang di kampung pergi ke kota, bingung harus menaiki kendaraan apa, semua serupa. Yang di kota pergi kampung, sama bingungnya karena tak ada apa-apa. Yang di kota bicara bersama, tapi rindu ladang sawahnya. Yang di kampung bicara sendiri, terlintas ramainya jalanan ibu kota. Yang di kota  menyeru tak punya, yang di kampung berbisik tak ada, di mana rumahnya.

Mereka meminta satu, mereka mendapat segalanya. Mereka meminta dua, mereka tak dapat apa-apa. Hidup yang lurus berbelok dengan sendirinya. Asap yang mengepul bisa berhembus entah ke mana, ditiup angin tanpa berdaya. Ada yang berhenti untuk menepi. Beberapa karena tak ada yang dapat membuat mereka melaju lagi. Jalannya tertutup batu, atau semangatnya tercecer di setiap langkahnya.

Sedikit yang menyadari, setiap hari sang pagi memperhatikannya. Tiap sore, langit menawarkan untuk meluruhkan peluhnya. Sedikit yang tahu, semesta berbicara kepadanya. Entah sekadar menyapa atau mengusulkan sebuah rencana. Sedikit yang memperhatikan, matahari selalu muncul menyambut laranya, mengantarnya memenuhi janji-janjinya.

Ada yang gugur, tak melebat lagi. Ada yang kembali diguyur hujan, merekahkan lagi daun-daunnya. Ada yang merebahkan diri, menancapkan akar. Ada yang berlari, tak pernah mengerti arti berhenti. Ada yang bersatu membulatkan cita-cita. Ada yang sendiri, membangun renjana. Beberapa terlihat tertawa, sebenarnya tidak tahu ke mana tujuannya. Di seberangnya menangis, peluknya hanya mengenai udara.

Hidup seperti hujan, di suatu pagi ia membawa suka, malam berikutnya menjatuhkan lara. Hidup seperti seutas senar gitar, bersama lima lainnya mengiringi sebuah lagu cinta, tak tahu kapan ia akan tanggal menunaikan tugasnya. Hidup seperti lautan, terlihat tenang tetapi menyimpan banyak rahasia di dalamnya.

Sembilu yang pilu, mengubah semua menjadi Biru. Seharusnya Merah ada di sana, membawa keberaniannya ke mana-mana, menunggu dia kuat menggunakannya. Tapi Merah tak di sana, empunya memutuskan untuk meninggalkannya. Dititipkan di rumah, tempat kelahirannya. Dia tak lagi melangkah saat Putih bersaut dari jauh, “ayolah kawan, lupakan”.

Dia tak tahu ada di mana, saat tersadar di tengah perjalanannya.

Dia sudah lupa awalnya, kapan ia memulai  semuanya.

0 comments on “Pergi Jauh 2: Rindu yang BaruAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *