Fantasi Es Kelapa Muda

Saya mau cerita tentang pengalaman saya waktu masih kuliah di Cimahi sekitar tahun 2011. Waktu itu sore hari, saya lagi nonton tv dengan dua teman saya yang lain, sebut saja Gilang dan Rio. Entah saya lupa lagi nonton acara apa, sepertinya sih membosankan dan tiba-tiba Rio nanya ke Gilang. Rio nanya dengan yakin dan sambil matanya masih menatap kosong ke layar tv “Kalau lo bisa berfantasi seks sebebas-bebasnya, lo mau berfantasi dengan siapa, Lang? Saya yang lagi duduk diantara mereka jadi penasaran buat dengar jawaban teman saya ini. Kebetulan Gilang lagi makan indomie rebus saat itu, jadi dia mencoba berpikir buat jawab pertanyaan Rio sembari makan indomie rebus. Dia mikir agak lama, saya rasa mungkin lagi mencari jawaban yang memang bebas tapi cukup takarannya buat didengar oleh kami berdua. Sedikit-sedikit saya juga mencoba berpikir mencari orang yang memang cocok untuk ketegori ‘fantasi seks sebebas-bebasnya’ ini, jaga-jaga kalau Rio kemudian lanjut tanya kepada saya. Entah apakah ada pengaruh dari indomie rebus yang lagi dimakan, dia kemudian menjawab dengan jawaban yang saya rasa cara berpikirnya diluar kemampuan saya berfantasi pada masanya. Dia menyebut seorang wanita tukang es kelapa muda deket kos kami. Luar biasa memang. Bukan maksud untuk mendiskreditkan tukang es kelapa di Cimahi, atau bahkan di Indonesia, tapi ya kemudian kita ketawa lah. Saya sendiri nggak bisa memberi contoh batas atas dan batas bawah jawaban dari pertanyaan itu dan saya nggak bisa juga menentukan kalau jawaban Gilang itu ada di mana, makanya saya ketawa aja. Untungnya abis itu Rio nggak kemudian lanjut tanya ke saya.

Dipikir-pikir untuk jadi bahan ketawa memang jawaban Gilang ini ‘lucu’-menurut saya. Dia diberi kesempatan untuk berfantasi tanpa batasan tapi kemudian dia memilih untuk memberi batas-batas imajiner di atas fantasi bebasnya sendiri. Memang sampai sekarang saya belum pernah tanya kenapa dia menjawab kayak gitu-atau mungkin sudah namun saya yang lupa, jadinya saya cuma bisa bilang jawabannya out-of-depok (baru nemu di twitter)Tapi kemudian sekarang saya jadi penasaran kenapa teman saya ini bisa sampai jawab demikian karena kadang memang ada hal-hal yang saya temui bikin saya penasaran kenapa bisa sampai jadi macam itu. Namun untuk soal Gilang, dengan kesederhanaan data  primer yang saya punya tentang teman saya ini, nggak elok rasanya kalau saya coba gali soal ini dari sisi psikologinya, satu hal personal aja yang mesti diketahui, dia kalau dikatain cina bakal teriak “Heh?! Gue Jawa, kirik”.

Kalau saja percakapan teman-teman saya sampaikan di forum terbuka, maka bisa dipastikan banyak peserta forum yang kurang setuju, khususnya dengan jawaban dari Gilang. Mungkin menurut para peserta forum masih ada ruang kosong yang nggak dimanfaatkan oleh Gilang untuk jawab pertanyaan Rio. Tapi saya rasa para peserta forum juga pasti belum tahu alasan apa yang melatarbelakangi jawaban dari teman saya itu. Maka dari itu, disini saya coba memahami kemungkinan-kemungkinan yang ada dengan metode sederhana paling relevan. Untuk mengurai percakapan teman-teman saya tadi, khususnya jawaban Gilang, biar kita bisa paham kenapa sampai dia bisa menjawab demikian, maka hal yang paling mungkin yaitu dengan menganalogikannya dengan hal lain yang lebih sederhana. Hal lain yang dapat ditarik garis lurus dari titik soal wanita dan fantasi menjadi hal yang lebih sederhana namun tetap dengan jenis kompleksitas yang sama, yaitu- menurut saya-film. Dengan metode analogi ini maka kita akan mengubah obrolan teman-teman saya ini menjadi obrolan yang lebih cocok diobrolin siang-siang, obrolan tentang film. Film seks? Bukan, film secara keseluruhan. Di mana di dalamnya juga termasuk film seks. Bebas, deh

Film itu singkatnya, menurut saya, hasil karya manusia yang mencoba menghidupkan rasa yang dipikirkannya secara bebas dalam urutan dan sudut pandang yang manusia itu tentukan sendiri, tentunya dalam bentuk gambar bergerak dan suara. Entah kemudian sampai kepada yang menyaksikan menjadi berubah sudut pandangnya, itu sudah hak mereka, karena film yang disaksikan tersebut sudah berada dalam pikiran masing-masing orang. Saya punya pendapat tentang hubungan manusia sekarang dan film mirip kayak Chinese proverb: You are what you watch. “Heh?! Gue Jawa, kirik”. Mungkin berdasar dari pengalaman saya menonton film dengan berbagai macam situasi dan implikasinya kepada bagaimana saya menyikapi hidup-anj4y-makanya saya bisa bilang demikian. Mungkin lagi, banyak teori-teori bagus tentang film dan jalan cerita yang bisa saya pakai kalau memang saya rajin riset dulu, tapi berhubung analisis ini ala komentar di facebook, jadi yaudahlah ya. Tapi lagi, kan ini memang sedang bahas tentang jawaban teman saya tadi, bukan tentang filmnya. Filmnya ini cuma sebagai analogi segar aja agar lebih mudah dipahami dan dioblorin siang bolong.

Saya bukan pecinta film sejati yang setiap film saya lahap, saya juga nggak bisa bikin review film yang di setiap akhir tulisannya merekomendasikan buat ditonton atau nggak, dan saya akui kalau saya masih banyak dosa dari bagaimana cara saya nonton film, sulit memang supply di Indonesia ini. Nah kan jadi nyalahin orang lain. Tapi, sekali lagi, disini saya coba memahami hal-hal yang melatarbelakangi pikiran tentang seorang anak manusia menjawab sebuah pertanyaan sederhana namun ada semesta di dalamnya. Teleq. Maka kemudian pertanyaan Rio kepada Gilang bisa kita ubah jadi “Dari semua film yang pernah dibuat manusia bumi, film apa yang paling lo nikmati?” Fantasi ada di setiap film dan manusia sebagai yang membuat film menjadi seolah-olah batasan dari pertanyaan tersebut. Cocok.

Hal berikutnya yang mesti dianalogikan juga adalah jawaban dari Gilang. Namun wanita tukang es kelapa muda deket kos kami ini masih sangat bias untuk bisa dianalogikan secara langsung. Jadi, mungkin terlebih dahulu saya bisa mendeskripsikan wanita tukang es kelapa muda deket kos kami ini secara sederhana, sehingga nanti deskripsi tersebut yang dianalogikan menjadi sebuah judul film atau mungkin cukup dengan jenis filmnya. Sama halnya dengan data tentang Gilang, wanita tukang es kelapa muda deket kos kami ini juga tidak saya miliki data-data yang mumpuni untuk bisa dideskripsikan secara lugas. Jadi saya akan memberi gambaran secukupnya yaitu: Jarang, karena tidak banyak tukang es kelapa di dekat kos kami waktu itu. Unik, karena dia berjualan di pinggir tebing yang bawahnya jalur kereta. Mungkin cukup segitu ya. 

Nah, dari deskripsi singkat tadi, unik dan jarang, maka kemungkinan analoginya adalah suatu film yang memiliki karakteristik unik dan jarang. Film jarang itu kaya gimana sih? Film yang jarang itu ya film yang renggang, yang nggak rata, nggak padat, lebar jaraknya, yang nggak diproduksi secara terus menerus, atau jika bicara tentang tema maka tema film tersebut memang tidak mudah dicari, kalau bicara tentang jalan cerita maka jalan cerita film tersebut tidak ada di sebagian besar film yang sering ditonton, dan jika bicara tentang suatu akhir cerita film maka akhir cerita film tersebut tidak rata di tiap jalan ceritanya. Seingat saya, film pertama yang saya pernah tonton itu ‘Casper’ (1995) di KC. gaya betul. Film itu buatan Holywood dan sampai sekarang Tahun 2018, (iya 2018, gw jon titor) karya-karya sutradara dari Holywood memang masih mendominasi bioskop-bioskop disini, maka film jarang bisa juga dikatakan film yang bukan buatan Holywood. Lalu kalau film unik itu gimana? Film unik itu kan berarti film yang tersendiri dalam bentuk atau jenisnya, film yang lain daripada yang lain. Kalau kita mau pukul rata, kebanyakan film itu selalu menawarkan pilihan fantasi terbaik, pemeran terbaik, makanan terbaik walaupun dihidangkan dengan cara yang berbeda-beda. Yang sepertinya menggunakan latar serupa hidup kita tetapi nggak. Mereka selalu secara tersirat menampilkan bahwa selalu ada kunci jawaban pasti atas setiap soal ujian, padahal belum tentu soalnya pilihan ganda. Maka kalau kita tarik pada tema dan jalan cerita film, maka unik itu kemungkinan tema dan jalan ceritanya adalah hal yang benar-benar biasa kita temui di kehidupan normal pada umumnya, dan tentunya dihidangkan dengan sikap kehidupan pada umumnya, bukan hidangan terbaik. Atau kalau dihidangkan dengan hidangan terbaik, pas mau dimakan, ditendang sama orang lain atau yang sebanding dengan itu, dah.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah kenapa sampai ada orang-orang yang menonton film-film unik dan jarang tersebut? Ini analogi pertanyaan utama yang memang mesti dijawab. Situasi apa yang sejatinya bisa menarik seseorang untuk menikmati film-film tersebut? Bisa jadi seseorang memang sudah biasa menonton film normal dan ia sangat tertarik saat ditampikan film-film lain yang unik dan jarang tersebut. Atau seseorang memang benar-benar memiliki toleransi terhadap kenikmatan menonton film yang sangat lebar dimana semua spektrum jenis film bisa ia dapatkan kenikmatannya. Atau bisa juga ia sudah skeptis terhadap film-film yang berbau normal, ia hanya percaya pada keunikan yang sebenarnya dalam sebuah film itu sama dengan paling mendekati normal.

Nyatanya, walaupun sudah mencoba untuk menjabarkan film-film tersebut, masih terlalu banyak alasan yang bisa didapat dari pertanyaan kenapa menikmati menonton film-film unik dan jarang. Dan kalau kita kembali kepada pernyataan/jawaban GIlang yaitu: seorang wanita tukang es kelapa muda deket kos kami, maka dapat kita katakan hal yang serupa, yaitu walaupun sudah mencoba untuk menjabarkan dan menganalogikan hal-hal sederhana tersebut, masih banyak alasan yang berbeda-beda yang bisa keluar menjadi juara bagi para pendengar-pendengarnya. Sehingga menurut saya, pada akhirnya tidak ada yang perlu dijabarkan atas jawaban Gilang tersebut. Mungkin itu merupakan jawaban yang memang bebas tapi cukup takarannya buat didengar oleh kami berdua pada masanya. Biarkan Ia menikmati seorang wanita tukang es kelapa muda deket kos kami dengan fantasinya sendiri dan kita mengamini apapun alasan yang ada dipikiran kita. 

Jadi, apa yang bisa kita garis bawahi disini? Kadang jawaban itu melewati masanya, Mungkin mereka yang menikmati film-film unik dan jarang sadar bahwa bermimpi untuk terbang hingga ke bulan tidak akan benar-benar membawanya ke bulan, tetapi ia akan bisa benar-benar menghargai tiap proses yang ia lalui untuk mewujudkannya dan tidak terlalu peduli bulan atau yang lebih jauh nantinya ia berpijak. Atau mungkin kita memang tidak sepantasnya mengukur kejadian dengan kacamata yang kita miliki saja. Bahwa satu ember air yang dilihat orang banyak tidak melulu satu ember air. Mungkin untuk setiap persoalan yang kita hadapi, semakin segala persoalan tersebut dijelaskan dengan bahasa yang terbatas ini, semakin ia jadi tersembunyi, tertutup-tutup hal yang nggak jelas. Jadi, jangan sampai hal-hal yang terus menerus kita ucapkan tidak memberikan pesan substantif apapun dalam hidup ini. Cukup pahami satu sama lain.

Sore itu, Rio dan saya cuma bisa menertawakan dan menyebarluaskan jawaban dari Gilang.

gambar utama disadur dari http://catatanenyrahayu.blogspot.co.id/2012/03/amigos-x-siempre-dan-hidup-gue.html

1,697 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini

0 comments on “Fantasi Es Kelapa MudaAdd yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *