Bagaimana Cara Membenci #2

Dari apa yang telah aku amati selama bertahun-tahun, petir dan kilat suka menyambar dua hal. Yaitu orang bodoh dan burung Camar.

Tatapan itu. Aku tidak akan pernah melupakan tatapan itu seumur hidupku. Bahkan sampai saat ini. Saat sedang menunggu kopi pesananku datang. Secangkir espresso kopi robusta terbaik dari pulau Sumatera.

Sudah sekitar sepuluh menit. Espresso tak juga datang. Ku tengok sekali lagi ke bagian counter sekaligus dapur. Beberapa barista sedang membuat latte dengan acuh. Tak satu pun sempat menoleh padaku walaupun sudah sekuat tenaga kupanggil dengan telepati.

Sementara uap-uap panas ngebul di atas mesin seorang paruh baya masuk kemudian memilih meja yang langsung menghadap ke jalan. Memposisikan dirinya untuk tidak digugat. Menjadi seperti pertapa, memilih suduh tersunyi dan kemudian tenggelam dalam sebatang Marlboro putihnya. Lalu satu batang lagi. Dan kemudian satu batang lagi.

Breville jika mataku tidak menipu. Persis seperti di rumah Aya. Uap-uap panas membungbung di atasnya. Menjadi awan kecil lalu secara sporadis menghilang terhisap ke dalam kipas yang ada di langit-langit lalu dibuang ke langit.

Espresso ku datang. Dibuat dari kopi terbaik dari pulau Sumatera. Diantar oleh seorang pelayan yang kepalang cerewet. Terus menerus dia tanyai apakah ada lagi yang ingin kupesan. Aku sudah katakan tidak. Tapi mungkin dia tidak mendengarnya.

Dia masih gigih. Masih dengan tegap berdiri disamping mejaku. Sambil memeluk baki di depan dadanya. Dia masih gigih seperti seorang pengamen yang enggan pergi sebelum mendapat recehan. Kulihat dia ragu-ragu, dengan sebuah gerakan yang agak gugup menunjuk samping cangkirku.

Ada selembar kertas disana. Ada selembar kertas disana? Kertas putih kecil yang dilipat menjadi dua bagian. Sebuah surat. Sekilas kulihat ada jejeran angka tertera disana. Sebuah nomor telepon aku yakin. Mungkin ada salah seorang pengunjung  yang menitipkan padanya. Malu jika harus berkenalan secara langsung.

Ku ambil lalu ku buka. Memang angka tapi bukan nomor telepon. Tagihan. Ternyata harus bayar di muka. Sialan. Sungguh keterlaluan. Apakah tampang ini seperti ciri orang yang suka minggat tanpa bayar? Kompeni pun dahulu tak pernah melakukan tuduhan macam itu.

Dalam sebuah repertoire yang sempat kusaksikan beberapa waktu lalu, ada satu hal yang benar kuingat. Selain sopran dan bass yang saling bersahutan dalam dialognya. Selain lakon yang sudah sangat sering dipentaskan ulang. Selain si Jelita yang acap kali muncul dalam waktu yang acak di pikiran.

Aku ingat wajah perempuan itu. Memang, ada perubahan yang sangat besar di wajahnya. Kuduga dia melakukan operasi plastik. Hidungnya, mulutnya, alisnya, tidak ada lagi yang sama seperti wajahnya dahulu. Tapi ada satu. Ada satu hal yang tidak akan pernah bisa berubah dan diubah.

Tatapannya. Tatapan itu. Aku tidak akan bisa melupakannya. Tatapan seorang bodoh. Dungu. Aku yakin itu dia. Aku ingin segera mengakhirinya namun nurani ku meronta. Tidak, tidak boleh seperti ini. Aku tidak boleh membuat keributan di tengah pentas. Karena itu aku tunggu. Aku tunggu. Dan terus aku tunggu.

3 menit berlalu. Lalu 5 menit berlalu. Lalu 7 menit berlalu. Lalu 14 menit berlalu. Dan akhirnya 16 menit 22 detik. Pentas itu selesai. Riuh tepuk tangan terdengar dari penjuru teater. Semua aktor, aktris, sutradara, direktor dan kru-kru. Semua naik ke atas panggung. Berjajar dalam jarak yang rapat.

Beberapa penonton deret terdepan melempari tangkai-tangkai bunga. Konfeti ditembakan. Suasana menjadi semakin gemuruh. Kupikir ini saatnya. Ku keluarkan sebuah pemicu sebesar kepalan tangan dan kutekan sekuat tenaga sebuah tombol merah di tengahnya.

Terdengar sebuah suara yang memekakkan telinga. Lalu dalam detik-detik yang berjalan dengan super-cepat, terlihat beberapa orang terlempar dari panggung. Panggung dan lampu sorot ambruk menimpa siapapun. Gedung bergemeretak seakan setiap pakunya menggigil karena kedinginan. Detik berikutnya kobaran api menyala. Lalu semuanya gelap.

Ketika terbangun semua sudah serba putih. Ini pasti akherat. Namun ada sebuah bau yang janggal. Bau yang sangat ku kenal. Bau penyakitan. Ini pasti rumah sakit. Dan ternyata benar.

Besoknya dua orang polisi muda datang. Menginterogasi. Namun ternyata pendengaranku sedikit rusak. Kata dokter akibat terlalu dekat dengan ledakan. Mereka pulang dengan tangan hampa.

Sebulan kemudian aku keluar dari rumah sakit. Semuanya sudah pulih kecuali pendengaranku yang sepertinya akan tuli parsial permanen. Akan pulih katanya asal kamu tetap percaya dan berusaha. Non-sense.

Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan mengunjungi satu kafe ke kafe. Selalu memesan espresso selalu biji kopi robusta. Supaya rasa espresso ini selalu mengingatkanku pada tatapan itu. Supaya aku tidak akan melupakan tatapan bodoh itu. Begitulah.

Ada dua hal yang sangat ku benci di dunia ini. Yang pertama adalah burung Camar. Alasannya sangat bodoh, karena kicau mereka saat hujan sangat menjengkelkan. Seperti kucing yang mengeong minta susu. Yang kedua adalah orang bodoh. Yah, karena mereka bodoh

 

(awesome photo from below artist and photographer)

Alex Jodoin

Andrei Bocan

0 comments on “Bagaimana Cara Membenci #2Add yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *