Bagaimana Cara Membenci #1

Jam 5.10.

Komputer di mejaku mati. Mati, sudah tidak ada nafas lagi dan tidak ada denyut nadi. Karena memang komputer tidak bernafas dan tidak bernadi. Ruanganku sudah kosong melompong. Kesemuanya sedang mengikuti kompetisi adu-cepat-angkat-pantat. Start di kantor dan finis di rumah atau panti pijat. Aku juga sebenarnya menjadi peserta dalam kompetisi itu. Namun didiskualifikasi karena tidak mempunyai pantat.

Tadinya aku berencana untuk pulang tepat pukul 5.15. Limablas menit lebih lama dari jam pulang yang seharusnya. Tidak ada alasan khusus, aku hanya suka pada pendadaran waktunya. 5.15. terlihat indah. Simetris. Juga prima.

Tapi naasnya komputerku tidak langsung mati karena harus memperbarui beberapa program terlebih dahulu. Akhirnya waktu keburu menunjukan pukul 5.16 dan kuputuskan untuk tinggal sedikit lebih lama. Namun kali ini, ada alasan, yang menurutku masuk akal, tentang mengapa aku amat sangat membenci 5.16.

Dulu, ketika masih duduk di bangku dasar aku sangat suka bermain bola dan bermain saham. Namun uang jajanku kala itu masih belum bisa membeli barang selembar saham pun kuputuskan aku akan konsentrasi penuh untuk bermain bola. Sepenuh bulan di tanggal 14, 15, dan 16 kalender lunar.

Memang namanya bermain bola. Walaupun intinya hanya lari-lari, kejar-mengejar, sebuah benda yang berbentuk lumayan bundar. Setiap hari. Sepulang sekolah tanpa sempat melepas seragam, sepulang dari langgar tanpa menaruh kopyah dan sarong, juga di malam-malam sebelum libur.

Dan tentu saja. Waktu yang paling menjadi kesuka kami adalah ketika hujan turun. Itu adalah momen sakral dan permainan kami menjadi rituil dalam memuja kesakralannya. Bagi ku, juga bagi kami kala itu, hujan adalah laksana proses magis yang diatur sedemikian rupa oleh sebuah Tangan besar yang tak kasat mata. Bukan hanya sekedar proses siklus kimia dan biologis semata.

Cucian yang tidak keburu diangkat, sendal-sepatu yang lupa dipindahkan, suara air panas melebur bubuk-bubuk kopi, atau suara kertas buku yang sedang dibolak-balikan, semuanya luluh menjadi bagian dari tubuh hujan. Semuanya. Aku yakin, jika seandainya, dan mudah-mudahan tidak akan terjadi, kalian terkurung di sebuah ruangan gelap dan tak bercahaya, kalian pasti akan tetap tahu jika kala itu sedang turun hujan.

Aku tak tahu detailnya, yang jelas, ada sedikit perubahan suhu di udara dan ada “sensasi bau” lain yang muncul sebelum hujan. Ibuku percaya bahwa hujan adalah cara langit menyampaikan rasa rindunya kepada bumi. Dituangkan dalam gelegak langit, gemuruh dan angin ribut. Melihat semua itu tak dinyana oleh bumi, dalam amarah dan keterasingan, diturunkanlah air dari lingkupnya.

“Karena sebenci-bencinya orang, Orang tua selalu mengasihi anak-anaknya”. Ungkap ibuku. Sedari dulu, Ibuku selalu menjadi penegak hukum yang adil. Di rumah maksudku. Bukan penegak hukum di jalanan laksana batman apalagi penegak hukum skala negara laksana Genghis Khan. Mungkin bukan sekarang. Mungkin suatu saat dalil-dalilnya bisa dijadikan acuan sebagai bahan pembuatan atau peremajaan UU. Tapi tidak untuk saat ini. Saat ini dia sibuk mengurusiku. Satu-satunya permatanya.

Ibuku selalu menjadi penegak hukum yang adil. Jika jam sudah menunjukan pukul 5.15 sore aku akan dipanggil pulang. Setiap hari. Tanpa alpa sekalipun. Dari ujung pagar, dia akan melongokkan kepalanya, mencari diriku, yang kadang-kadang aku sering sembunyi, supaya tidak terlihat, supaya masih bisa terus bermain dan bolos mengaji di langgar. Namun seperti radar pencari panas, diriku selalu berhasil ditemukan. Entah aku bersembunyi di balik semak, atau di atas dahan pohon Jamblang, atau di parit depan rumah Pak Mangunrojo.

Dan kadang aku berpikir, kenapa aku harus pulang? Aku bisa saja tidak pulang. Aku bisa saja lantas pergi berlari menjauhi rumah. Kemana? Entahlah. Yang penting pergi menjauh. Mungkin aku akan mencoba untuk menghanyutkan diri ke dalam aliran air sungai yang deras sambil berpegangan pada sebatang pohon pisang sebagai pelampung untuk pergi ke hilir dan tinggal bersama buaya muara.

Atau aku bisa saja lari ke kebun Singkong Pak Haji seraya mencari lubang kelinci untuk nantinya akan kugali sampai menembus Wonderland dan tinggal bersama Alice lalu kemudian menikahinya dan hidup bahagia selamanya. Selamanya.

Kulirik lagi jam dinding sebelah atas kananku. Tangan pendek dan panjangnya sama-sama menunjuk angka 5. Akhirnya ujarku dalam hati. Aku beranjak dari kubikel seraya berjalan menuju keluar dan kudapati hujan turun dengan manisnya. Kebetulan payungku juga sedang tertinggal di rumah. Dan kebetulan juga masih ada sisa tiga batang rokok bekas makan siang tadi. Jadi di sudut teras gedung yang sepi kusulut sebatang dan membiarkan pikiranku kemali mengawang, lagi. Tentang bermain bola, minggat, juga hujan.

Cuaca tak kunjung mereda malah semakin hebat. Tanpa sadar kudapati diriku sedang menyulut batang kedua. Dan sebelum pikiran ini lari semakin mengawang aku memutuskan mana yang harus paling aku benci. Apakah jam 5.16 atau gerimis yang tak kunjung reda. Akhirnya aku memutuskan untuk membenci gerimis. Karena rokok yang tersisa hanya tinggal satu batang dan aku belum bisa beranjak dari manapun.

 

Foto atas diambil dari unsplash(dot)com/OscarLewis

Foto bawah diambil dari  unsplash(dot)com/AustinDennis

 

1,005 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Undertale

salah satu penulis yang menulis tulisan di grengsekers.com

Mungkin Anda juga menyukai

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: